KHAMENEI.ID– Ada satu anggapan yang begitu populer tentang masa muda: bahwa ia adalah masa untuk mencoba segalanya, menikmati segala kesenangan, dan memuaskan setiap hasrat yang muncul. Dalam pandangan seperti itu, semakin banyak kesenangan yang diraih, semakin dianggap berhasil seseorang menikmati masa mudanya.
Namun, benarkah demikian?
Barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah setiap orang benar-benar memperoleh manfaat dari masa mudanya? Atau justru banyak yang melewatinya begitu saja, hingga usia bertambah tetapi tak banyak yang tersisa selain kenangan yang cepat pudar?
Pertanyaan itu mengingatkan pada sebuah doa Rasulullah saw kepada salah seorang sahabat muda yang beliau cintai. Setelah menerima pelayanan dari sahabat tersebut, Rasulullah saw berdoa:
اللّٰهُمَّ أَمْتِعْهُ بِشَبَابِهِ
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadanya kenikmatan dari masa mudanya”
Riwayat menyebutkan bahwa sahabat itu hidup hingga usia lanjut tanpa terlihat rambut putih di kepalanya. Namun yang lebih menarik dari doa tersebut bukanlah keajaiban fisiknya. Yang patut direnungkan justru makna kalimat itu sendiri. Jika Nabi saw mendoakan agar seseorang dapat menikmati masa mudanya, berarti tidak semua pemuda otomatis memperoleh kenikmatan tersebut.
Di sinilah pemahaman kita sering kali keliru.
Kita terbiasa mengukur kenikmatan masa muda dari banyaknya hiburan, kebebasan, atau pengalaman yang memuaskan keinginan sesaat. Padahal, kesenangan semacam itu sering kali hanya memberikan kegembiraan yang pendek umur. Ia datang cepat, lalu pergi lebih cepat lagi. Yang tertinggal hanyalah kekosongan yang menuntut untuk diisi kembali dengan kesenangan berikutnya.
Pandangan Islam menawarkan definisi yang jauh lebih dalam. Menikmati masa muda bukan berarti menghabiskannya dalam pesta kesenangan, melainkan memanfaatkannya untuk sesuatu yang bernilai dan bertahan lama.
Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abu Dzar:
يَا أَبَا ذَرٍّ مَا مِنْ شَابٍّ يَدَعُ لَذَّةَ الدُّنْيَا وَلَهْوَهَا وَأَهْرَمَ شَبَابَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ أَجْرَ اثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ صِدِّيقًا
“Wahai Abu Dzar, tidak ada seorang pemuda yang meninggalkan kenikmatan dan hiburan dunia serta menghabiskan masa mudanya dalam ketaatan kepada Allah, kecuali Allah memberinya pahala seperti tujuh puluh dua orang yang sangat jujur dan saleh”
Hadis ini menghadirkan cara pandang yang berbeda terhadap usia muda. Masa muda bukanlah waktu untuk menguras energi demi hal-hal yang fana, melainkan kesempatan emas untuk membangun diri, menata arah hidup, dan menanam investasi yang hasilnya akan dipetik sepanjang usia.
Dalam konteks yang lebih luas, ketaatan kepada Allah sering kali dipahami secara sempit. Banyak orang mengira bahwa taat hanya berarti memperbanyak ibadah ritual seperti shalat, puasa, atau zikir. Padahal kehidupan jauh lebih luas daripada itu.
Tentu saja shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ia adalah tiang kehidupan spiritual seorang Muslim. Namun ketaatan tidak berhenti di sajadah.
Seorang pelajar yang belajar dengan sungguh-sungguh sedang menjalankan bentuk ketaatan. Seorang peneliti yang menghabiskan malam untuk menemukan solusi bagi persoalan masyarakat juga sedang berada dalam jalan ketaatan. Seorang dokter yang berjuang menyembuhkan pasien, seorang guru yang mencerdaskan murid, atau seorang pemuda yang mengembangkan teknologi untuk kemaslahatan manusia, semuanya dapat menjadi bagian dari ibadah jika dilandasi niat yang benar dan dilakukan dengan cara yang benar.
Gagasan ini kemudian menyentuh satu hal yang sering terlupakan: meninggalkan dosa juga merupakan bentuk ketaatan yang sangat besar.
Di zaman ketika godaan hadir melalui layar yang selalu berada di genggaman, menjaga diri menjadi perjuangan yang tidak ringan. Menahan pandangan, menjaga kehormatan, mengendalikan amarah, menjauhi kebohongan, dan menolak berbagai bentuk penyimpangan mungkin tidak terlihat heroik di mata manusia. Namun di hadapan Allah, itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Karena itu, salah satu teladan terbesar bagi kaum muda dalam Al-Qur’an adalah Nabi Yusuf a.s, Ia berada dalam situasi yang memungkinkan dirinya mengikuti godaan tanpa diketahui siapa pun. Namun ia memilih menolak. Keputusan itu tidak memberinya kenyamanan sesaat. Bahkan justru membawanya ke dalam penjara. Akan tetapi sejarah kemudian mencatat bahwa kemuliaan yang diraihnya jauh melampaui kenikmatan yang sempat ditawarkan kepadanya.
Kisah Yusuf a.s mengajarkan bahwa masa muda yang bernilai bukanlah masa muda yang bebas dari ujian, melainkan masa muda yang mampu menjaga arah di tengah ujian.
Di titik ini, kita mulai memahami makna sebenarnya dari menikmati masa muda. Bukan tentang berapa banyak kesenangan yang berhasil dikumpulkan, melainkan tentang seberapa baik potensi besar yang dimiliki pada usia muda digunakan untuk tujuan yang benar.
Kekuatan fisik, semangat, kreativitas, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan belajar yang cepat adalah anugerah yang tidak dimiliki sepanjang hidup. Ketika semua itu digunakan untuk membangun ilmu, karya, dan amal saleh, seseorang sesungguhnya sedang menikmati masa mudanya dalam arti yang paling hakiki.
Sebab kenikmatan sejati bukanlah apa yang membuat kita lupa pada masa depan, melainkan apa yang membuat masa depan menjadi lebih bermakna.
Kelak, ketika rambut mulai memutih dan tenaga tak lagi sekuat dulu, seseorang mungkin tidak akan bangga karena pernah menghabiskan malam-malamnya dalam hiburan yang tak berbekas. Yang akan memberi ketenangan justru kenangan bahwa masa mudanya pernah digunakan untuk sesuatu yang bernilai: belajar, berkarya, menjaga diri, dan mendekat kepada Tuhan.
Mungkin itulah yang dimaksud oleh doa Rasulullah saw tentang menikmati masa muda. Sebuah kenikmatan yang tidak berhenti pada usia muda itu sendiri, tetapi terus menyala hingga akhir kehidupan.







