Jangan Merasa Masih Punya Esok: Memahami Kematian Sebelum Terlambat

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan yang nyaris dimiliki semua orang: merasa besok pasti datang. Kita menunda permintaan maaf karena mengira masih ada waktu. Menangguhkan ibadah karena merasa usia masih panjang. Mengulur pekerjaan baik dengan keyakinan bahwa kesempatan akan selalu tersedia. Padahal, tidak seorang pun pernah menandatangani perjanjian dengan hari esok.

Di situlah letak peringatan tajam dari Imam Ali a.s. Sebuah kalimat pendek, tetapi mengguncang cara manusia memandang hidup.

مَا أَنْزَلَ الْمَوْتَ حَقَّ مَنْزِلَتِهِ مَنْ عَدَّ غَدًا مِنْ أَجَلِهِ

“Barang siapa menganggap esok masih termasuk jatah umurnya, maka ia belum menempatkan kematian pada kedudukan yang sebenarnya”

Kalimat ini bukan ajakan untuk hidup dalam ketakutan. Ia juga bukan seruan agar manusia berhenti membuat rencana. Yang disentil adalah rasa aman yang semu keyakinan tanpa dasar bahwa kita pasti masih hidup besok pagi.

Manusia modern sangat akrab dengan berbagai bentuk kepastian. Kalender dipenuhi agenda berbulan-bulan ke depan. Target lima tahun disusun dengan rinci. Investasi diproyeksikan hingga masa pensiun. Semua itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Yang menjadi persoalan adalah ketika perencanaan itu berubah menjadi ilusi bahwa umur juga berada dalam kendali kita.

Padahal kenyataan berbicara sebaliknya. Setiap hari kita mendengar kabar orang yang berpamitan pagi hari, tetapi tidak pernah kembali pada sore harinya. Ada yang masih sempat bercakap, tertawa, bahkan menyusun rencana untuk pekan depan, namun malam itu juga ajal menjemputnya. Kematian selalu datang tanpa berkonsultasi dengan agenda manusia.

Di titik ini, ajaran Islam mengajak kita mengubah cara pandang. Yang harus dipastikan bukanlah berapa lama kita akan hidup, melainkan bagaimana kita menggunakan waktu yang sedang benar-benar kita miliki: saat ini.

Baca Juga  Imam Ali dan Politik Tanpa Kebohongan: Ketika Kemenangan Bukan Segalanya

Kesadaran seperti itulah yang juga dipanjatkan oleh Imam Sajjad a.s. dalam salah satu doa yang sangat menyentuh di Shahifah Sajjadiyah.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، وَاكْفِنَا طُولَ الْأَمَلِ، وَقَصِّرْهُ عَنَّا بِصِدْقِ الْعَمَلِ، حَتَّى لَا نُؤَمِّلَ اسْتِتْمَامَ سَاعَةٍ بَعْدَ سَاعَةٍ، وَلَا اسْتِيفَاءَ يَوْمٍ بَعْدَ يَوْمٍ، وَلَا اتِّصَالَ نَفَسٍ بِنَفَسٍ، وَلَا لُحُوقَ قَدَمٍ بِقَدَمٍ.

“Ya Allah, jauhkanlah kami dari angan-angan yang panjang. Pendekkanlah harapan kami dengan amal yang tulus, hingga kami tidak mengira pasti akan menyempurnakan satu jam setelah jam ini, satu hari setelah hari ini, satu tarikan napas setelah napas ini, ataupun satu langkah setelah langkah ini”

Doa tersebut terasa sangat manusiawi. Ia tidak meminta umur dipendekkan, melainkan meminta agar angan-angan tidak memanjangkan rasa lalai. Sebab yang sering menjerumuskan manusia bukan usia yang panjang, melainkan harapan kosong bahwa masih ada waktu nanti.

Dalam konteks yang lebih luas, mengingat kematian ternyata bukan sikap pesimistis. Justru sebaliknya. Kesadaran akan kefanaan membuat hidup menjadi jauh lebih bermakna. Orang yang sadar bahwa waktunya terbatas cenderung lebih menghargai keluarga, lebih cepat meminta maaf, lebih ringan memaafkan, dan lebih serius mengerjakan kebaikan.

Ia tidak gemar menumpuk kebencian, sebab ia sadar mungkin tidak ada kesempatan berikutnya untuk berdamai. Ia tidak menunda sedekah hanya karena menunggu lebih kaya. Ia juga tidak menangguhkan taubat sambil berkata, “Nanti kalau sudah tua.” Sebab tidak ada jaminan bahwa usia tua benar-benar akan ia temui.

Namun jika ditarik lebih jauh, kesadaran akan dekatnya kematian bukan berarti manusia harus meninggalkan urusan dunia. Islam justru mengajarkan keseimbangan yang indah.

Rasulullah saw bersabda:

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا

Baca Juga  Pendidikan, Teladan, dan Bahasa Moral: Pesan Imam Ali Khamenei untuk Masa Depan Generasi

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”

Dua kalimat ini sering disalahpahami seolah saling bertentangan. Padahal keduanya justru saling melengkapi. Dalam urusan dunia, kita diminta bekerja secara profesional, membangun dengan kokoh, berpikir jauh ke depan, dan menghasilkan karya yang manfaatnya melampaui usia kita. Tetapi dalam urusan akhirat, kita diminta tidak pernah menunda amal, karena kesempatan bisa berakhir kapan saja.

Seseorang dapat menanam pohon yang baru akan berbuah puluhan tahun lagi, sambil tetap menjaga shalat tepat waktu hari ini. Ia boleh membangun lembaga pendidikan yang hasilnya baru dinikmati generasi mendatang, namun tidak menangguhkan taubat sampai esok. Ia bisa menyusun strategi bisnis jangka panjang, tetapi tetap menyadari bahwa mungkin malam nanti adalah malam terakhirnya.

Di situlah letak kedewasaan spiritual. Bukan berhenti merencanakan masa depan, melainkan tidak menggantungkan keselamatan jiwa pada masa depan yang belum tentu ada.

Pada akhirnya, mengingat kematian bukanlah tentang menghitung berapa hari yang tersisa. Tidak seorang pun mengetahuinya. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa hari yang sedang dijalani tidak berlalu sia-sia.

Mungkin benar, kita masih akan bertemu esok. Tetapi mungkin juga tidak. Dan justru karena kemungkinan itulah, hari ini menjadi sangat berharga.

Barangkali ukuran kehidupan yang sesungguhnya bukanlah panjangnya umur, melainkan seberapa sedikit kebaikan yang kita tunda. Sebab orang yang benar-benar memahami kematian bukanlah mereka yang terus membicarakannya, melainkan mereka yang menjalani hari ini sebaik mungkin, tanpa pernah merasa memiliki hak atas hari esok.

Bagikan:
Terkait
Komentar