KHAMENEI.ID– Dalam dunia politik, kemenangan sering diperlakukan sebagai tujuan akhir. Selama hasilnya tercapai, cara apa pun kerap dianggap sah. Kebohongan dibungkus sebagai strategi, ketidakadilan disebut kompromi, dan pembagian fasilitas kepada kelompok tertentu dipoles sebagai langkah realistis demi menjaga stabilitas. Di tengah cara pandang seperti itu, sikap Imam Ali a.s menawarkan sesuatu yang terasa asing sekaligus menyegarkan: kemenangan yang diperoleh dengan kezaliman bukanlah kemenangan, melainkan kekalahan yang ditunda.
Sejarah mencatat bahwa masa pemerintahan Imam Ali a.s bukanlah masa yang tenang. Ia menghadapi perpecahan politik, pemberontakan, hingga manuver elite yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. Tekanan datang bukan hanya dari musuh, tetapi juga dari orang-orang yang mengaku berada di pihaknya. Mereka mengusulkan jalan yang tampak sederhana: berikan saja lebih banyak bagian dari Baitul Mal kepada para tokoh berpengaruh agar mereka tetap setia. Dengan begitu, pemerintahan akan lebih kuat dan konflik bisa diredam.
Usulan itu mungkin terdengar masuk akal jika dilihat dari kacamata politik praktis. Banyak penguasa sepanjang sejarah mempertahankan kekuasaan dengan membeli loyalitas. Kekayaan negara dijadikan alat tawar-menawar, sementara keadilan dikorbankan demi stabilitas jangka pendek.
Namun, Imam Ali a.s menolak logika itu secara tegas.
Beliau berkata:
أَ تَأْمُرُونِّي أَنْ أَطْلُبَ النَّصْرَ بِالْجَوْرِ فِيمَنْ وُلِّيتُ عَلَيْهِ؟ وَاللَّهِ لَا أَطُورُ بِهِ مَا سَمَرَ سَمِيرٌ وَمَا أَمَّ نَجْمٌ فِي السَّمَاءِ نَجْمًا
“Apakah kalian menyuruhku mencari kemenangan dengan cara berbuat zalim terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabku? Demi Allah, aku tidak akan melakukannya selama malam masih berganti dan bintang-bintang masih beredar di langit”
Kalimat itu bukan sekadar penolakan terhadap sebuah usulan politik. Ia adalah deklarasi moral bahwa kekuasaan tidak boleh dibangun di atas ketidakadilan. Bagi Imam Ali a.s, kemenangan yang harus dibayar dengan mengkhianati amanah bukanlah kemenangan yang layak diraih.
Di titik ini, politik berubah makna. Ia tidak lagi sekadar seni memperoleh kekuasaan, melainkan seni menjaga integritas ketika kekuasaan sedang dipertaruhkan.
Dalam lanjutan khutbahnya, Imam Ali a.s menegaskan bahwa harta yang berada di tangan pemerintah bukanlah milik pribadi penguasa. Bahkan seandainya harta itu benar-benar miliknya sendiri, beliau mengatakan tetap akan membaginya secara adil. Apalagi jika harta tersebut adalah milik Allah yang dititipkan untuk seluruh masyarakat.
Pandangan ini memperlihatkan prinsip yang sangat mendasar: keadilan tidak boleh tunduk pada popularitas. Seorang pemimpin tidak boleh memberikan hak istimewa kepada segelintir orang hanya karena mereka memiliki pengaruh politik atau kekuatan ekonomi. Ketika hukum mulai dibedakan berdasarkan kedekatan, dan anggaran negara dibagikan berdasarkan kepentingan kelompok, sesungguhnya keadilan telah kehilangan maknanya.
Namun jika ditarik lebih jauh, pesan Imam Ali a.s tidak hanya relevan bagi seorang kepala negara. Ia berbicara kepada siapa pun yang memegang amanah, sekecil apa pun ruang kekuasaan yang dimiliki.
Berapa banyak orang yang memilih berbohong agar diterima? Berapa banyak yang rela mengorbankan prinsip demi memperoleh jabatan, proyek, atau keuntungan sesaat? Dalam kehidupan sehari-hari, godaan untuk memenangkan sesuatu melalui jalan yang tidak benar hadir dalam berbagai bentuk. Kadang sangat halus sehingga tampak sebagai kewajaran.
Imam Ali a.s mengingatkan bahwa ketidakadilan selalu memiliki harga yang mahal. Mungkin ia mendatangkan tepuk tangan hari ini, tetapi perlahan menggerogoti kehormatan pelakunya. Mungkin ia menghasilkan dukungan sesaat, tetapi dukungan yang dibangun di atas kepentingan akan hilang ketika kepentingan itu berhenti mengalir.
Beliau bahkan mengingatkan bahwa orang yang menghamburkan harta bukan pada tempatnya hanya akan memperoleh pujian sementara. Di hadapan manusia ia mungkin tampak mulia, tetapi di sisi Allah ia kehilangan kemuliaan. Lebih dari itu, orang-orang yang dibeli kesetiaannya dengan materi bukanlah sahabat sejati. Ketika masa sulit datang, merekalah yang pertama meninggalkan.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih luas tentang krisis kepemimpinan modern. Banyak sistem gagal bukan semata karena kurangnya sumber daya, melainkan karena hilangnya kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari pidato yang indah, melainkan dari konsistensi antara nilai dan tindakan.
Integritas memang tidak selalu menghasilkan kemenangan yang cepat. Bahkan sering kali jalan yang jujur terasa lebih berat daripada jalan pintas. Tetapi sejarah memperlihatkan bahwa pemimpin yang dikenang bukanlah mereka yang paling lama berkuasa, melainkan mereka yang paling teguh menjaga prinsip ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang.
Itulah sebabnya warisan Imam Ali a.s tetap hidup melampaui zamannya. Ia menunjukkan bahwa politik bukan arena untuk menghalalkan segala cara, melainkan ruang untuk membuktikan bahwa moralitas masih memiliki tempat di tengah perebutan kepentingan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah berapa banyak lawan yang berhasil dikalahkan atau berapa lama ia mempertahankan kekuasaan. Ukuran sejatinya adalah apakah ia tetap mampu menjaga keadilan ketika ketidakadilan tampak jauh lebih menguntungkan.
Sebab kemenangan yang lahir dari kebohongan hanya bertahan selama kebohongan itu dipercaya. Adapun kemenangan yang dibangun di atas keadilan akan terus hidup, bahkan ketika pemimpinnya telah lama tiada.







