KHAMENEI.ID – Masa muda sering dipahami sebagai masa untuk menikmati hidup sebelum tanggung jawab semakin berat. Padahal, dalam pandangan Syahid Sayyid Ali Khamenei qs, masa muda justru merupakan salah satu kesempatan paling menentukan dalam perjalanan manusia. Di hadapan seorang pemuda terbentang medan yang luas: puluhan tahun kehidupan, pekerjaan, pembelajaran, perjuangan, dan kesempatan untuk memberikan pengaruh kepada masyarakat.
“Jangan sia-siakan masa muda kalian,” demikian pesan yang ditekankan Imam Ali Khamenei kepada generasi muda. Pesan itu bukan sekadar nasihat moral agar anak muda rajin belajar atau bekerja keras. Di baliknya terdapat satu cara pandang yang lebih besar: manusia tidak mengetahui berapa panjang kesempatan yang diberikan kepadanya, tetapi ia dapat menentukan bagaimana kesempatan itu digunakan.
Bayangkan seseorang yang hari ini berusia dua puluh tahun. Jika Allah memberinya umur panjang, enam atau tujuh dekade masih terbentang di hadapannya. Dalam rentang waktu sepanjang itu, ia akan belajar, bekerja, membangun keluarga, menghadapi perubahan zaman, menyaksikan berbagai peristiwa, dan mungkin mengambil bagian dalam perubahan masyarakat. Karena itu, masa muda tidak seharusnya diperlakukan sebagai ruang tunggu sebelum “kehidupan sebenarnya” dimulai. Masa muda adalah bagian penting dari kehidupan itu sendiri.
Persoalannya, kesempatan yang panjang tidak otomatis menghasilkan kehidupan yang berarti. Waktu dapat menjadi modal, tetapi juga dapat berubah menjadi kerugian apabila tidak direncanakan. Karena itulah Imam Khamenei menekankan pentingnya perencanaan. Namun, perencanaan yang baik tidak lahir dari keinginan semata. Ia membutuhkan pemikiran yang benar.
Di sinilah persoalan menjadi lebih mendalam. Anak muda bukan hanya perlu bertanya, “Apa pekerjaan saya nanti?” tetapi juga, “Manusia seperti apa yang ingin saya menjadi?” Bukan hanya “Bagaimana saya memperoleh keberhasilan?”, tetapi juga “Untuk apa keberhasilan itu digunakan?”
Menurut Imam Khamenei, kemampuan berpikir secara benar membutuhkan hubungan dengan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an, merenungkannya, dan belajar dari orang-orang yang telah lebih dahulu melakukan perenungan merupakan bagian dari proses membangun cara pandang. Pengetahuan tidak berhenti pada hafalan, tetapi harus membentuk cara manusia membaca kehidupan.
Belajar dari orang lain pun tidak seharusnya dianggap sebagai kelemahan. Justru sebaliknya, ia merupakan kehormatan. Manusia tidak mungkin mengetahui segala sesuatu sendirian. Ia membutuhkan pengalaman generasi sebelumnya, pemikiran para ilmuwan, pengalaman para ulama, serta pelajaran dari sejarah.
Karena itu, masa muda semestinya menjadi masa ketika seseorang tidak berhenti belajar. Belajar bukan aktivitas yang memiliki tanggal kedaluwarsa. “Sampai akhir hayat kita harus terus belajar,” demikian inti pesan Khamenei.
Ada sesuatu yang menarik dari gagasan tersebut. Dalam dunia yang sering mengukur anak muda berdasarkan seberapa cepat mereka mencapai sesuatu, Imam Khamenei justru mengingatkan pentingnya proses membentuk manusia yang mampu berpikir. Sebab, seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi tetapi tetap salah dalam menentukan arah hidup. Ia bisa memiliki banyak informasi tetapi tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya.
Setelah berpikir dan belajar, tahap berikutnya adalah mengenali keadaan dan bertindak. Sebab kehidupan tidak dapat diselesaikan hanya dengan gagasan. Ada saat ketika seseorang harus mengambil tindakan.
Tindakan itu bentuknya berbeda-beda. Bagi seorang mahasiswa, ia mungkin hadir dalam laboratorium atau ruang kelas. Bagi peneliti, ia hadir dalam eksperimen dan penelitian. Dalam kehidupan sosial, ia bisa berupa kepedulian terhadap masyarakat. Dalam kehidupan politik, ia bisa berupa partisipasi dalam menentukan masa depan bangsa. Dalam konteks perjuangan keagamaan, ia bisa mengambil bentuk dukungan terhadap tujuan-tujuan Islam, perjalanan ke Karbala, atau pembelaan terhadap Palestina.
Dengan demikian, “bertindak” tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar dan spektakuler. Tindakan dapat dimulai dari tempat seseorang berada sekarang. Yang penting adalah tidak membiarkan pengetahuan berhenti menjadi pengetahuan.
Imam Khamenei kemudian menghubungkan kesempatan generasi muda dengan pengalaman sejarah Revolusi Islam. Menurutnya, generasi yang lebih tua pernah mengalami masa ketika jalan-jalan perubahan terasa tertutup. Ia menggambarkan masa sebelum Revolusi Islam sebagai periode yang sulit, gelap, dan penuh keputusasaan. Sementara generasi muda hari ini tidak mengalami langsung masa tersebut.
Revolusi Islam, dalam pandangan Imam Khamenei, mengubah keadaan itu. Ia menggambarkannya sebagai momentum yang “membalik halaman” dan membuka jalan baru. Dengan terbukanya jalan tersebut, generasi setelahnya memperoleh kesempatan yang sebelumnya tidak tersedia.
Namun, kesempatan tetaplah kesempatan. Ia tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak digunakan.
Di sinilah pesan tersebut menemukan puncaknya. Kesempatan dapat membawa manusia menuju keberhasilan, tetapi juga dapat menjadi sumber kerugian apabila disia-siakan. Al-Qur’an menggambarkan keberhasilan orang-orang beriman dengan ungkapan yang sangat kuat: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’minun: 1).
Masa muda, dengan demikian, bukan sekadar periode biologis dalam kehidupan manusia. Ia adalah ruang kemungkinan. Di dalamnya terdapat waktu untuk belajar, berpikir, merencanakan, mengenali dunia, lalu bertindak.
Pertanyaannya bukan lagi apakah seseorang memiliki kesempatan. Hampir setiap manusia memiliki kesempatan dalam bentuk yang berbeda. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika kesempatan itu datang, apa yang kita lakukan dengannya?







