KHAMENEI.ID– Setiap zaman memiliki ujian yang berbeda. Dahulu, orang mungkin kesulitan memperoleh informasi. Kini, tantangannya justru sebaliknya: terlalu banyak informasi, terlalu banyak analisis, terlalu banyak suara yang saling berebut mengklaim kebenaran. Di tengah hiruk-pikuk itu, membedakan mana yang hak dan mana yang batil menjadi pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada sekadar memilih siapa yang paling lantang berbicara.
Yang membuat keadaan semakin sulit adalah kenyataan bahwa kebatilan hampir tidak pernah datang dengan wajahnya sendiri. Ia tidak mengetuk pintu sambil mengaku sebagai kesesatan. Sebaliknya, ia mengenakan pakaian kebenaran, mengambil sebagian fakta, lalu mencampurkannya dengan kebohongan. Dari kejauhan, tampilannya tampak meyakinkan. Namun ketika ditelan mentah-mentah, ia perlahan meracuni cara berpikir.
Di sinilah pentingnya memiliki kesadaran terhadap zaman. Seseorang yang mengajar, memimpin, atau membimbing masyarakat tidak cukup hanya menguasai disiplin ilmunya. Ia juga harus memahami realitas yang sedang bergerak. Dunia berubah sangat cepat. Peta politik bergeser, kepentingan global saling bertabrakan, teknologi mengubah cara manusia menerima informasi, sementara perang narasi berlangsung tanpa henti.
Dalam sebuah hadis yang masyhur disebutkan:
العَالِمُ بِزَمَانِهِ لَا تَهْجُمُ عَلَيْهِ اللَّوَابِسُ
“Orang yang memahami zamannya tidak akan mudah diserbu oleh berbagai kerancuan”
Ungkapan singkat ini terasa semakin relevan pada era digital. Memahami zaman bukan berarti mengikuti semua tren atau tenggelam dalam arus media sosial. Yang dimaksud adalah memahami bagaimana sebuah peristiwa dibentuk, siapa yang berkepentingan, bagaimana opini diarahkan, serta mengapa suatu isu tiba-tiba menjadi begitu besar. Tanpa kemampuan membaca konteks, seseorang akan mudah terseret dalam penilaian yang keliru.
Di titik inilah, kemampuan berpikir kritis menjadi bagian dari tanggung jawab moral. Bukan hanya bagi akademisi atau ulama, melainkan bagi siapa saja yang ingin menjaga akal sehatnya. Sebab, setiap hari manusia dibombardir oleh ribuan potongan informasi. Sebagian benar, sebagian salah, dan tidak sedikit yang sengaja dirancang agar keduanya sulit dibedakan.
Media modern mempercepat proses itu. Melalui televisi, radio, situs berita, hingga media sosial, sebuah narasi dapat diproduksi dalam jumlah nyaris tak terbatas. Orang yang memproduksinya sadar bahwa tidak semua orang akan percaya. Namun itu bukan tujuan utamanya. Cukup jika sebagian masyarakat mulai ragu terhadap kebenaran, atau mulai curiga kepada sesuatu yang sebenarnya benar. Keraguan sering kali lebih efektif daripada kebohongan yang terang-terangan.
Fenomena ini sebenarnya telah diperingatkan jauh berabad-abad silam oleh Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam salah satu khutbahnya beliau berkata:
فَلَوْ أَنَّ الْبَاطِلَ خَلَصَ مِنْ مِزَاجِ الْحَقِّ لَمْ يَخْفَ عَلَى الْمُرْتَادِينَ، وَلَوْ أَنَّ الْحَقَّ خَلَصَ مِنْ لَبْسِ الْبَاطِلِ انْقَطَعَتْ عَنْهُ أَلْسُنُ الْمُعَانِدِينَ، وَلَكِنْ يُؤْخَذُ مِنْ هَذَا ضِغْثٌ وَمِنْ هَذَا ضِغْثٌ فَيُمْزَجَانِ
“Seandainya kebatilan tampil murni tanpa sedikit pun bercampur dengan kebenaran, niscaya orang-orang tidak akan tertipu. Dan seandainya kebenaran tampak murni tanpa diselimuti kebatilan, niscaya para penentangnya tidak akan memiliki alasan untuk menolaknya. Akan tetapi, sebagian dari yang hak dan sebagian dari yang batil dicampurkan, sehingga keduanya tampak serupa”
Kalimat ini menjelaskan mengapa fitnah, propaganda, dan manipulasi selalu tampak masuk akal. Kebohongan yang efektif bukanlah kebohongan seratus persen. Ia hanya membutuhkan sedikit kebenaran sebagai pembungkus. Selebihnya, manusia akan melengkapi sendiri ilusi yang dibangun di hadapannya.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan membedakan hak dan batil bukan sekadar persoalan intelektual. Ia juga menyangkut kebersihan hati. Banyak orang mengetahui fakta, tetapi tetap memilih mengikuti hawa nafsunya. Sebaliknya, ada pula yang memiliki niat baik, tetapi tidak memiliki pengetahuan yang cukup sehingga mudah dimanfaatkan oleh pihak lain.
Karena itulah Imam Ali a.s juga mengingatkan bahwa awal munculnya berbagai fitnah adalah ketika hawa nafsu diikuti dan aturan-aturan baru diciptakan yang bertentangan dengan petunjuk Ilahi. Ketika kepentingan pribadi mulai menjadi ukuran kebenaran, maka batas antara hak dan batil perlahan mengabur. Yang benar dinilai salah karena tidak menguntungkan, sementara yang salah dibela karena memberikan manfaat sesaat.
Kondisi seperti ini melahirkan kebutuhan akan satu sifat yang sangat penting dalam Islam: bashirah, atau kejernihan pandangan batin. Bashirah bukan sekadar kecerdasan. Ia adalah kemampuan melihat lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan. Orang yang memiliki bashirah tidak mudah terpancing oleh sensasi, tidak cepat menyimpulkan hanya berdasarkan potongan informasi, dan tidak tergesa-gesa menghakimi sebelum memahami keseluruhan persoalan.
Sayangnya, budaya digital justru sering mendorong kebiasaan sebaliknya. Kecepatan lebih dihargai daripada ketelitian. Emosi lebih mudah viral daripada argumentasi. Orang berlomba menjadi yang pertama berkomentar, bukan yang paling benar dalam memahami persoalan. Akibatnya, ruang publik dipenuhi opini yang saling bertabrakan, sementara kebenaran justru tenggelam di antara kebisingan.
Di sinilah setiap orang dituntut untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mengenali perkembangan dunia, memahami dinamika masyarakat, memperkaya wawasan, serta menguji setiap informasi sebelum mempercayainya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Sebab, kesalahan memahami realitas sering kali berawal dari ketidaktahuan yang dianggap sepele.
Pada akhirnya, perjuangan terbesar manusia mungkin bukan melawan kebatilan yang terang-terangan. Yang jauh lebih sulit adalah menghadapi kebatilan yang tampil dengan wajah kebenaran. Itulah sebabnya Islam tidak hanya memerintahkan umatnya mencintai kebenaran, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengenalinya.
Di zaman ketika setiap layar berlomba memengaruhi cara kita berpikir, menjaga bashirah menjadi benteng yang tak tergantikan. Sebab, kebenaran tidak selalu menjadi suara yang paling keras. Ia sering hadir dengan tenang, menunggu mereka yang bersedia berpikir lebih dalam, melihat lebih jernih, dan tidak mudah tertipu oleh kemasan yang memikat.







