KHAMENEI.ID– Di zaman ketika ukuran keberhasilan sering dihitung dari jabatan, kekayaan, jumlah pengikut, atau seberapa sering nama seseorang muncul di ruang publik, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: siapa sebenarnya orang-orang mulia di mata Tuhan?
Masyarakat modern memiliki definisi sendiri tentang kehormatan. Mereka yang duduk di kursi kekuasaan dianggap penting. Mereka yang memiliki aset besar disebut sukses. Mereka yang dikenal luas diperlakukan bak bangsawan baru. Namun dalam tradisi Islam, ukuran kemuliaan tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh nama, gelar, atau posisi sosial. Ada standar yang jauh lebih sunyi, lebih dalam, dan sering kali luput dari perhatian.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
أشراف أمتي حملة القرآن، وأصحاب الليل
“Orang-orang mulia dari umatku adalah para pembawa Al-Qur’an dan para penghidup malam”
Hadis ini menghadirkan definisi aristokrasi yang sangat berbeda dari logika dunia. Jika dalam sistem material kemuliaan lahir dari kepemilikan dan kekuasaan, maka dalam sistem nilai Islam kemuliaan lahir dari kedekatan dengan wahyu dan kesungguhan beribadah.
Istilah hamalatul Qur’an atau “pembawa Al-Qur’an” tidak hanya merujuk kepada mereka yang menghafal ayat-ayat suci. Maknanya jauh lebih luas. Mereka adalah orang-orang yang hidup bersama Al-Qur’an, menjadikannya panduan berpikir, sumber nilai, dan cahaya dalam mengambil keputusan. Al-Qur’an tidak berhenti di bibir mereka, tetapi hadir dalam sikap dan tindakan.
Begitu pula dengan ashhabul lail, para penghidup malam. Mereka bukan sekadar orang yang terjaga ketika orang lain tidur. Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan kesunyian malam untuk mendekat kepada Allah, merenung, berdoa, memperbaiki diri, atau bahkan bekerja keras demi kemaslahatan orang lain tanpa sorotan kamera dan tepuk tangan publik.
Dalam perspektif ini, kemuliaan bukanlah sesuatu yang dipamerkan. Ia justru tumbuh di ruang-ruang yang tidak terlihat.
Bayangkan seorang guru yang setiap malam menyiapkan materi pelajaran agar murid-muridnya lebih mudah memahami ilmu. Atau seorang tenaga kesehatan yang berjaga ketika kota terlelap. Atau seorang ayah yang bangun sebelum subuh untuk mencari nafkah dengan cara yang halal. Mereka mungkin tidak memiliki gelar bergengsi atau popularitas tinggi, tetapi dalam logika spiritual Islam, pengorbanan seperti itulah yang memiliki nilai luhur.
Karena itu, Islam sesungguhnya menawarkan revolusi cara pandang. Ia menggeser fokus manusia dari pencitraan menuju substansi, dari penampilan menuju kedalaman karakter.
Namun kemuliaan pribadi saja tidak cukup. Dalam kehidupan sosial dan bernegara, ada nilai lain yang tak kalah penting: kemampuan menghargai kebaikan orang lain.
Sebuah riwayat dari Imam Ridha a.s menyebutkan:
من لم يشكر المنعم من المخلوقين لم يشكر الله عز وجل
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesama manusia yang berbuat baik kepadanya, maka ia belum bersyukur kepada Allah”
Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial. Kita hidup di tengah budaya kritik yang begitu kuat, tetapi sering kali miskin apresiasi. Kesalahan kecil cepat menjadi viral, sementara kerja keras yang panjang kerap berlalu tanpa penghargaan.
Padahal rasa syukur bukan hanya hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Syukur juga tercermin dalam kemampuan mengakui jasa orang lain. Menghargai kebaikan seseorang bukan berarti menutup mata terhadap kekurangannya. Sebaliknya, itu adalah bentuk kejujuran moral: memberi pengakuan pada apa yang memang layak diapresiasi.
Dalam keluarga, tempat kerja, organisasi, bahkan dalam kehidupan berbangsa, budaya apresiasi dapat menjadi energi yang menghidupkan. Ketika orang merasa usahanya dihargai, ia terdorong untuk terus berbuat baik. Sebaliknya, ketika segala kebaikan dianggap biasa dan hanya kesalahan yang disorot, semangat perlahan akan memudar.
Tetapi penghargaan terhadap kebaikan harus berjalan beriringan dengan kehati-hatian dalam menjaga integritas. Sebab niat baik saja tidak selalu cukup.
Ada sebuah nasihat terkenal yang berbunyi:
من دخل موضعا من مواضع التهمة فاتهم لا يلومن إلا نفسه
“Barang siapa memasuki tempat yang menimbulkan kecurigaan lalu ia dituduh, janganlah ia menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri”
Pesan ini terasa semakin penting di tengah dunia yang serba terbuka. Reputasi hari ini dapat dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa runtuh hanya dalam hitungan menit. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan untuk menjadi baik, tetapi juga menghindari situasi yang dapat menimbulkan prasangka dan kesalahpahaman.
Dalam kehidupan sehari-hari, nasihat ini bisa diterapkan dalam banyak bentuk. Transparansi dalam pekerjaan, kehati-hatian dalam pergaulan, keterbukaan dalam pengelolaan amanah, hingga kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial. Kadang-kadang seseorang tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi ia menempatkan dirinya dalam posisi yang mengundang kecurigaan. Ketika fitnah kemudian muncul, dampaknya tidak hanya merugikan dirinya, tetapi juga lingkungan yang ia wakili.
Di sinilah kita menemukan benang merah dari tiga pesan tersebut. Kemuliaan sejati lahir dari kedekatan dengan nilai-nilai ilahi. Kebaikan harus disertai kemampuan menghargai jasa sesama. Dan semua itu perlu dijaga dengan sikap hati-hati agar tidak ternoda oleh prasangka dan kontroversi yang sebenarnya bisa dihindari.
Pada akhirnya, ukuran kehormatan yang ditawarkan Islam bukanlah sesuatu yang mudah dipajang di etalase dunia. Ia tidak selalu terlihat dalam laporan kekayaan, kartu nama, atau jumlah pengikut di media sosial. Kemuliaan itu sering kali bersembunyi dalam lembaran Al-Qur’an yang dibaca saat fajar, dalam doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, dalam ucapan terima kasih yang tulus, dan dalam kehati-hatian menjaga amanah.
Mungkin karena itulah orang-orang paling mulia tidak selalu menjadi yang paling terkenal. Mereka hanya menjadi cahaya, diam-diam menerangi sekitar, sementara dunia sibuk mengejar sorot lampu yang sesaat.







