Keras kepada Penindas, Lembut kepada Orang Baik

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diuji bukan ketika berhasil membangun, melainkan ketika harus memutuskan kepada siapa ia akan bersikap keras dan kepada siapa ia harus menunjukkan kelembutan. Banyak pemerintahan runtuh bukan karena kekurangan aturan, melainkan karena kehilangan keberanian menindak orang zalim dan kehilangan kepekaan menghargai mereka yang berbuat baik. Di titik inilah sebuah pesan dari Imam Ali bin Abi Thalib a.s terasa melampaui zamannya.

Ketika mengangkat Muhammad bin Abi Bakar sebagai gubernur Mesir, Imam Ali a.s mengirimkan sepucuk surat yang bukan hanya berisi petunjuk administratif, tetapi juga kompas moral bagi siapa pun yang memegang amanah. Di dalamnya terdapat nasihat yang singkat, namun sarat makna:

اِشْتَدَّ عَلَى الظَّالِمِ وَخُذْ عَلَيْهِ، وَلِنْ لِأَهْلِ الْخَيْرِ، وَقَرِّبْهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ بِطَانَتَكَ وَأَقْرَانَكَ

“Bersikaplah tegas terhadap orang yang zalim dan tindaklah mereka. Bersikaplah lembut kepada orang-orang yang berbuat baik, dekatkan mereka, dan jadikan mereka sahabat, penasihat, serta orang-orang terdekatmu”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun jika direnungkan lebih jauh, di dalamnya tersimpan fondasi sebuah masyarakat yang adil.

Keadilan bukanlah kemampuan memperlakukan semua orang dengan cara yang sama. Justru sebaliknya, keadilan menempatkan setiap orang sesuai dengan hak dan perbuatannya. Orang yang menindas tidak pantas menerima toleransi yang membuatnya semakin berani. Sebaliknya, mereka yang menebar manfaat tidak layak diperlakukan dengan kecurigaan yang mematahkan semangat.

Sering kali masyarakat keliru memahami kelembutan sebagai kebajikan dalam segala keadaan. Padahal ada saat ketika kelembutan justru berubah menjadi bentuk pembiaran. Seorang pejabat yang menutup mata terhadap korupsi demi menjaga hubungan baik, seorang pemimpin yang enggan menindak penyalahgunaan wewenang karena alasan pertemanan, atau seorang atasan yang membiarkan bawahannya terus-menerus menzalimi orang lain atas nama toleransi, semuanya sedang memberi ruang agar kezaliman tumbuh semakin besar.

Baca Juga  Berdiri Tegak di Hadapan Kezaliman: Pelajaran Keteguhan dari Doa Imam Sajjad

Imam Ali a.s tidak pernah mengajarkan kekerasan sebagai balas dendam. Ketegasan yang beliau maksud bukanlah menzalimi pelaku kezaliman, melainkan memastikan bahwa setiap pelanggaran memperoleh konsekuensi yang adil. Hukuman bukan lahir dari kemarahan, tetapi dari tanggung jawab menjaga masyarakat agar tidak dirusak oleh orang-orang yang melampaui batas.

Dalam kehidupan modern, pesan ini terasa semakin relevan. Ketika pelaku kejahatan ekonomi memperoleh perlakuan istimewa, ketika penyalahgunaan jabatan dimaafkan karena kedekatan politik, atau ketika intimidasi terhadap rakyat kecil dianggap persoalan biasa, sesungguhnya yang sedang diruntuhkan bukan hanya hukum. Yang perlahan hilang adalah kepercayaan publik bahwa keadilan masih memiliki makna.

Di sisi lain, Imam Ali a.s segera menghadirkan keseimbangan. Setelah memerintahkan ketegasan terhadap orang zalim, beliau mengingatkan agar pemimpin bersikap lembut kepada ahlul khair orang-orang yang hidupnya dipenuhi ikhtiar untuk menghadirkan kebaikan.

Kelembutan ini bukan sekadar senyum atau keramahan. Ia berarti memberi ruang, membantu, memudahkan, bahkan memaklumi kekeliruan kecil yang mungkin dilakukan oleh mereka yang selama ini dikenal jujur dan tulus. Sebab manusia terbaik sekalipun tidak pernah luput dari kesalahan. Jangan sampai satu kekhilafan kecil menghapus deretan panjang jasa yang telah mereka berikan.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini menyentuh cara sebuah bangsa memperlakukan orang-orang yang bekerja dengan niat baik. Para guru yang mengabdi di pelosok, ilmuwan yang tekun meneliti, relawan yang membantu korban bencana, tenaga kesehatan, pelaku usaha yang jujur, anak-anak muda yang menciptakan inovasi, hingga siapa saja yang berusaha memperbaiki keadaan, mereka membutuhkan dukungan, bukan justru dipersulit oleh birokrasi atau dicurigai tanpa alasan.

Masyarakat yang sehat selalu memiliki kemampuan mengenali orang-orang baik, lalu memberikan mereka ruang untuk bertumbuh. Sebaliknya, masyarakat yang sakit justru sering membiarkan orang baik berjuang sendirian, sementara mereka yang pandai memanipulasi keadaan memperoleh perhatian dan fasilitas lebih besar.

Baca Juga  Al-Qur'an dan Pengetahuan yang Tak Pernah Habis

Pesan Imam Ali a.s bahkan melangkah lebih jauh. Beliau tidak hanya meminta agar orang baik diperlakukan dengan lembut, tetapi juga agar mereka dijadikan lingkaran terdekat seorang pemimpin.

Mengapa demikian? Karena watak sebuah kepemimpinan perlahan dibentuk oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya. Nasihat yang didengar setiap hari, percakapan yang mengisi ruang kerja, hingga bisikan yang diterima dalam pengambilan keputusan akan menentukan arah sebuah pemerintahan.

Pemimpin yang dikelilingi penjilat lambat laun akan kehilangan kemampuan mendengar kebenaran. Sebaliknya, pemimpin yang menjadikan orang-orang saleh, jujur, cerdas, dan berintegritas sebagai sahabat diskusi akan lebih mudah menjaga dirinya dari penyimpangan.

Di sinilah letak kebijaksanaan surat Imam Ali a.s. Beliau tidak hanya berbicara tentang bagaimana menghadapi musuh, tetapi juga bagaimana memilih teman. Sebab sering kali kerusakan kekuasaan bukan datang dari lawan yang berada di luar, melainkan dari orang-orang dekat yang gemar membenarkan setiap kesalahan.

Namun jika ditarik lebih jauh, nasihat ini sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada para pejabat negara. Setiap orang adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, keluarganya, atau lingkungan tempat ia hidup. Pertanyaannya menjadi sangat pribadi: apakah kita sudah cukup tegas terhadap kezaliman yang kita saksikan? Ataukah kita memilih diam demi kenyamanan? Sebaliknya, apakah kita cukup murah hati mendukung orang-orang yang sedang berjuang melakukan kebaikan, atau justru lebih mudah mengkritik mereka daripada membantu?

Barangkali masyarakat yang adil tidak lahir dari pidato-pidato besar tentang hukum. Ia tumbuh dari keberanian kolektif untuk menolak kezaliman tanpa pandang bulu dan dari kesediaan menghormati setiap ikhtiar kebaikan sekecil apa pun.

Pada akhirnya, surat Imam Ali a.s kepada gubernurnya bukan sekadar dokumen sejarah. Ia adalah cermin yang memantulkan pertanyaan kepada setiap zaman: kepada siapa kita bersikap keras, dan kepada siapa kita menunjukkan kelembutan?

Baca Juga  Kekuasaan sebagai Amanah: Antara Hak dan Tanggung Jawab dalam Pandangan Imam Ali

Jawaban atas dua pertanyaan itu mungkin menentukan wajah keadilan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagikan:
Terkait
Komentar