KHAMENEI.ID– Ada kalanya kekuatan tidak datang dalam bentuk senjata, jabatan, atau kekayaan. Ia justru lahir dari hati yang menolak tunduk kepada kezaliman. Sejarah menunjukkan, banyak bangsa runtuh bukan karena kalah berperang, melainkan karena lebih dahulu kehilangan keberanian untuk berkata, “Tidak.” Sebaliknya, mereka yang mampu mempertahankan martabat sering kali memulainya dari sesuatu yang tampak sederhana: keyakinan bahwa harga diri tidak boleh dipertukarkan dengan rasa aman semu.
Dalam Islam, keteguhan semacam itu bukan sekadar sikap politik atau keberanian sosial. Ia adalah bagian dari pendidikan ruhani. Jiwa yang merdeka adalah jiwa yang tidak mudah dikuasai oleh rasa takut, ketergantungan, atau rayuan kekuasaan. Karena itu, salah satu doa dalam Sahifah Sajjadiyah mengajarkan sebuah permohonan yang melampaui urusan pribadi. Doa tersebut membentuk cara pandang seorang mukmin terhadap hubungan dirinya dengan kekuasaan yang zalim.
Imam Ali Zainal Abidin a.s memanjatkan doa:
وَ لَا تَجْعَلْ لِفَاجِرٍ وَ لَا كَافِرٍ عَلَيَّ مِنَّةً، وَ لَا لَهُ عِنْدِي يَداً، وَ لَا بِي إِلَيْهِمْ حَاجَةً، بَلِ اجْعَلْ سُكُونَ قَلْبِي وَ أُنْسَ نَفْسِي وَ اسْتِغْنَائِي وَ كِفَايَتِي بِكَ وَ بِخِيَارِ خَلْقِكَ
Artinya:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan orang fasik maupun kafir memiliki jasa yang mengikatku. Jangan pula Engkau jadikan mereka memiliki kelebihan atas diriku, dan janganlah Engkau jadikan aku membutuhkan mereka. Sebaliknya, jadikan ketenangan hatiku, ketenteraman jiwaku, kecukupanku, dan segala kebutuhanku hanya bergantung kepada-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh”
Sekilas doa ini terdengar seperti permohonan agar seseorang tidak mengalami kesulitan hidup. Namun jika direnungkan lebih jauh, maknanya jauh lebih dalam. Imam Sajjad a.s tidak sekadar meminta rezeki. Beliau memohon agar dirinya tidak berada dalam posisi bergantung kepada orang-orang yang menggunakan kekuasaan tanpa moral. Sebab, ketergantungan sering kali menjadi pintu masuk hilangnya kebebasan.
Di titik inilah doa berubah menjadi pelajaran tentang martabat manusia. Ketika seseorang menggantungkan nasibnya kepada tangan yang zalim, perlahan ia kehilangan kemampuan untuk bersikap jujur. Ia mulai menimbang setiap ucapan dengan rasa takut kehilangan bantuan, fasilitas, atau perlindungan. Hatinya tidak lagi bebas.
Karena itu, Islam memandang kemandirian sebagai bagian dari kemuliaan iman. Bukan berarti menolak bekerja sama dengan siapa pun atau memusuhi mereka yang berbeda keyakinan. Yang ditolak adalah keadaan ketika seseorang rela mengorbankan prinsip demi mempertahankan kenyamanan yang diberikan oleh kekuasaan yang tidak adil.
Dalam konteks yang lebih luas, doa ini juga berbicara tentang kehidupan sebuah masyarakat. Sebuah bangsa yang seluruh kekuatannya bergantung kepada pihak lain akan selalu berada dalam posisi lemah. Keputusan-keputusannya mudah dipengaruhi, arah kebijakannya mudah ditekan, dan masa depannya ditentukan oleh kepentingan orang lain. Ketergantungan semacam itu bukan hanya persoalan ekonomi atau politik, melainkan juga persoalan psikologis. Ketika rasa percaya diri hilang, sebuah bangsa akan menganggap menyerah sebagai satu-satunya pilihan yang masuk akal.
Sejarah menunjukkan bahwa tekanan sering kali tidak dimulai dengan kekuatan fisik. Ia hadir melalui opini, propaganda, dan pembentukan cara berpikir. Manusia dibuat percaya bahwa perlawanan adalah tindakan sia-sia, sedangkan kepatuhan adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Sedikit demi sedikit, keberanian digantikan oleh rasa putus asa.
Di sinilah pentingnya kekuatan spiritual. Keteguhan bukan hanya hasil latihan fisik atau strategi politik, tetapi juga buah dari hati yang terus dihidupkan oleh iman. Orang yang merasa cukup bersama Allah tidak mudah diintimidasi oleh ancaman kehilangan dunia. Ia mungkin kehilangan banyak hal, tetapi tidak kehilangan dirinya sendiri.
Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan sehari-hari kita. Kezaliman tidak selalu hadir dalam bentuk tirani negara atau penindasan yang kasatmata. Ia bisa muncul dalam hubungan kerja yang dipenuhi intimidasi, dalam praktik korupsi yang memaksa orang menggadaikan integritasnya, atau dalam budaya sosial yang membuat seseorang diam demi menjaga keuntungan pribadi.
Sering kali seseorang mengetahui bahwa sebuah keputusan itu salah, tetapi ia memilih membenarkannya karena merasa bergantung kepada pemberi jabatan, pemberi proyek, atau pihak yang menguasai hidupnya. Pada saat itulah kebebasan batin mulai terkikis. Mulut masih mampu berbicara, tetapi hati telah kehilangan keberanian.
Doa Imam Sajjad a.s mengingatkan bahwa kebebasan sejati tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari kecukupan hati. Orang yang merasa cukup dengan pertolongan Allah tidak mudah diperbudak oleh manusia. Ia tetap menghormati orang lain, tetapi tidak menjadikan mereka sebagai tempat bergantung yang mengalahkan prinsip-prinsip kebenaran.
Bukan berarti hidup tanpa bantuan sesama. Justru doa itu menegaskan agar kecukupan juga datang melalui “hamba-hamba Allah yang baik”. Artinya, Islam membangun masyarakat yang saling menolong di atas nilai kebajikan, bukan di atas relasi yang menumbuhkan utang budi dan penguasaan. Bantuan yang memerdekakan berbeda dengan bantuan yang menjadikan seseorang kehilangan harga dirinya.
Pada akhirnya, doa ini mengajarkan bahwa perlawanan terhadap kezaliman selalu dimulai dari dalam diri. Sebelum seseorang mampu berdiri tegak menghadapi tekanan dari luar, ia harus lebih dahulu membebaskan hatinya dari rasa takut kepada selain Allah. Sebab manusia yang paling sulit ditaklukkan bukanlah mereka yang paling kuat secara fisik, melainkan mereka yang tidak lagi menjadikan ancaman sebagai alasan untuk meninggalkan kebenaran.
Ketika hati telah menemukan ketenangan bersama Allah, keberanian tidak lagi bergantung pada besar-kecilnya lawan. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia memperoleh perlindungan dari penguasa, melainkan dari kemampuannya menjaga martabat di hadapan siapa pun. Itulah keteguhan yang diajarkan Imam Sajjad a.s: tidak keras karena kesombongan, tetapi kokoh karena keimanan.







