KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus berulang hingga hari ini: semakin baik seseorang, semakin ia harus selalu lembut. Seolah-olah kasih sayang identik dengan menghindari ketegasan, dan belas kasih berarti tak pernah bersikap keras. Padahal sejarah kehidupan Rasulullah saw menunjukkan kenyataan yang jauh lebih utuh. Beliau adalah pribadi yang penuh cinta kepada manusia, tetapi justru karena cinta itu pula beliau tidak pernah berkompromi terhadap segala hal yang menghalangi manusia menuju kebenaran.
Ketegasan Rasulullah saw bukan lahir dari kebencian. Ia tumbuh dari tanggung jawab.
Di dalam kehidupan Nabi Muhammad saw, kelembutan dan ketegasan bukanlah dua sifat yang saling bertentangan. Keduanya berjalan berdampingan, masing-masing hadir pada tempatnya. Beliau begitu penyayang kepada kaum lemah, anak-anak, perempuan, orang miskin, bahkan kepada orang yang pernah menyakitinya ketika mereka datang dengan hati yang terbuka. Namun kepada mereka yang secara sadar memerangi Islam dan menghalangi jalan dakwah, Rasulullah saw tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Bagi Nabi saw, persoalannya bukan sekadar permusuhan pribadi. Yang dihadapi adalah orang-orang yang menutup jalan pembebasan manusia. Mereka bukan hanya menolak ajaran Islam, melainkan berusaha menghentikan perubahan moral dan spiritual yang sedang dibangun. Karena itu, menghadapi mereka bukanlah urusan emosi, melainkan bagian dari menjaga amanah.
Namun menariknya, bahkan ketika perang menjadi pilihan terakhir, Rasulullah saw tetap menjaga batas-batas kemanusiaan.
Pada masa itu, tradisi perang di Jazirah Arab sangat keras. Setelah musuh terbunuh, tidak sedikit yang masih melampiaskan dendam dengan memotong telinga, hidung, bibir, atau mencungkil mata lawan. Praktik ini dikenal sebagai mutilasi terhadap mayat musuh, sebuah tindakan yang dianggap sebagai pelampiasan harga diri dan balas dendam.
Rasulullah saw menghapus kebiasaan itu.
Begitu seorang lawan gugur di medan perang, urusan telah selesai. Tidak ada ruang bagi kebencian yang terus dipelihara. Tidak ada penghinaan terhadap jenazah musuh. Perang, dalam pandangan beliau, bertujuan menghentikan kezaliman, bukan memuaskan dendam.
Di titik inilah tampak perbedaan besar antara ketegasan dan kebrutalan. Ketegasan memiliki tujuan yang jelas, sedangkan kebrutalan lahir dari amarah yang kehilangan kendali.
Prinsip itu pula yang membuat Rasulullah saw tidak pernah mencampuradukkan hubungan keluarga dengan prinsip keadilan. Ikatan darah tidak boleh mengalahkan kebenaran.
Sikap ini kemudian digambarkan dengan sangat kuat oleh Imam Ali a.s dalam Nahjul Balaghah:
وَلَقَدْ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ نَقْتُلُ آبَاءَنَا وَأَبْنَاءَنَا وَإِخْوَانَنَا وَأَعْمَامَنَا، لَا يَزِيدُنَا ذَلِكَ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا وَمُضِيًّا عَلَى اللَّقَمِ وَصَبْرًا عَلَى مَضَضِ الْأَلَمِ
“Sungguh, ketika bersama Rasulullah, kami menghadapi bahkan ayah, anak, saudara, dan paman kami sendiri apabila mereka berada di barisan yang memerangi kebenaran. Hal itu tidak menambah apa pun pada diri kami selain keimanan, kepasrahan, keteguhan di jalan Allah, dan kesabaran menghadapi pahitnya penderitaan”
Kalimat itu mungkin terdengar sangat berat bagi pembaca masa kini. Namun maknanya bukanlah mengajarkan permusuhan terhadap keluarga. Justru sebaliknya, ia menunjukkan bahwa keadilan tidak boleh tunduk kepada hubungan pribadi. Ketika kebenaran dipertaruhkan, tidak ada perlakuan istimewa bagi siapa pun.
Rasulullah saw sendiri memberi teladan paling nyata.
Dalam peperangan, paman beliau, Abbas, pernah menjadi tawanan. Paman beliau yang lain gugur sebagai bagian dari pasukan yang memusuhi Islam. Kerabat dekat yang memilih memerangi jalan Allah tidak memperoleh kekebalan hanya karena hubungan darah. Nabi saw tidak menjadikan keluarga sebagai alasan untuk mengabaikan prinsip.
Namun jika kisah ini berhenti sampai di sana, kita akan kehilangan separuh wajah Rasulullah saw.
Sebab pada saat yang sama, beliau justru menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa kepada orang-orang yang berjuang demi kebenaran, meskipun mereka bukan berasal dari suku Quraisy, bukan orang Arab, bahkan tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi.
Ukuran kemuliaan di hadapan Nabi saw bukanlah nasab, suku, atau kedekatan keluarga. Yang menjadi ukuran adalah ketulusan dan pengabdian kepada Allah.
Dalam konteks yang lebih luas, sikap ini menghadirkan pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan modern. Kita hidup di zaman ketika loyalitas sering kali diberikan kepada kelompok, keluarga, organisasi, atau kepentingan politik, meskipun semuanya bertentangan dengan nilai keadilan. Banyak orang menjadi lunak terhadap kesalahan orang dekat, tetapi begitu keras kepada mereka yang berada di luar lingkarannya.
Rasulullah saw justru mengajarkan arah sebaliknya. Beliau keras terhadap siapa pun yang menghalangi jalan kebenaran, tetapi penuh kasih kepada siapa pun yang berjalan di atasnya. Ukurannya bukan identitas, melainkan nilai.
Di sisi lain, beliau juga memperingatkan bahwa perjuangan tidak boleh berubah menjadi kebencian. Bahkan ketika harus bersikap tegas, hati tidak boleh dikuasai dendam. Musuh boleh dihentikan, tetapi kemanusiaan tidak boleh diinjak.
Inilah keseimbangan yang sering hilang dari kehidupan manusia. Ada yang mengatasnamakan kasih sayang hingga kehilangan keberanian menegakkan kebenaran. Ada pula yang mengatasnamakan perjuangan hingga membiarkan kebencian menguasai hati.
Rasulullah saw memilih jalan yang berbeda. Beliau memadukan keberanian dengan belas kasih, ketegasan dengan pengendalian diri, kekuatan dengan akhlak. Beliau tidak pernah mengorbankan prinsip demi hubungan pribadi, tetapi juga tidak pernah mengorbankan kemanusiaan demi kemenangan.
Barangkali di situlah letak pelajaran terbesarnya. Ketegasan bukanlah lawan dari kasih sayang. Justru kasih sayang yang sejati terkadang menuntut keberanian untuk bersikap tegas, selama ketegasan itu lahir dari cinta kepada kebenaran, bukan dari kebencian kepada manusia.







