KHAMENEI.ID– Setiap pagi, jutaan orang membuka mata pada waktu yang hampir bersamaan. Alarm berbunyi, layar ponsel menyala, kesibukan segera dimulai. Namun, dalam pandangan Islam, bangun dari tidur ternyata bukan sekadar peristiwa biologis. Fajar adalah sebuah persimpangan. Pada saat itulah seseorang sedang menentukan: apakah hari itu menjadi keuntungan, kerugian, atau sekadar berlalu tanpa makna.
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s menggambarkan kenyataan ini dengan cara yang sangat sederhana, tetapi mengguncang.
قالَ الصّادِقُ جَعفَرُ بنُ مُحَمَّدٍ (ع): يَقومُ النّاسُ عَن فُرُشِهِم عَلى ثَلاثَةِ أَصنافٍ
“Manusia bangun dari tempat tidurnya dalam tiga golongan: ada yang memperoleh keuntungan tanpa kerugian, ada yang hanya memperoleh kerugian tanpa keuntungan, dan ada pula yang tidak memperoleh keuntungan maupun kerugian”
Hadis ini tidak sedang membicarakan siapa yang bangun paling pagi atau siapa yang paling produktif. Ukurannya bukan jam di dinding, melainkan arah hati ketika membuka mata.
Golongan pertama adalah mereka yang menjadikan fajar sebagai pintu perjumpaan dengan Tuhan. Mereka bangun, berwudu, menunaikan shalat, lalu mengingat Allah. Dalam sejumlah penjelasan ulama, shalat yang dimaksud bukanlah shalat Subuh yang wajib, melainkan shalat sunah sebelum Subuh atau shalat malam (tahajud). Di situlah letak keistimewaannya. Mereka bangun bukan karena kewajiban yang memaksa, tetapi karena kerinduan yang memanggil.
Di zaman ketika hampir semua orang merasa kekurangan waktu, bangun sebelum fajar justru menjadi bentuk kemewahan spiritual. Saat dunia masih sunyi, belum ada rapat, notifikasi, atau hiruk-pikuk pekerjaan, seseorang memiliki kesempatan berbicara kepada Tuhan tanpa gangguan apa pun. Keheningan itu bukan sekadar jeda dari aktivitas, melainkan ruang untuk menata kembali jiwa.
Karena itulah shalat malam selalu memiliki kedudukan yang istimewa dalam tradisi Islam. Ia bukan ibadah yang paling banyak disaksikan manusia, tetapi justru paling banyak disaksikan hati. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian, bahkan sering kali tidak ada seorang pun yang mengetahui seseorang bangun pada sepertiga malam terakhir. Seluruh percakapan berlangsung diam-diam antara seorang hamba dengan Penciptanya.
Gagasan ini kemudian menyentuh sebuah kisah yang sangat terkenal dalam dunia keilmuan Islam. Ketika masih muda dan baru tiba di Najaf, Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i bertemu dengan seorang guru besar ruhani, Mirza Ali Agha Qadhi. Sang guru hanya memberikan satu nasihat yang ringkas, tetapi terus dikenang murid-muridnya.
“Anakku, jika engkau menginginkan dunia, kerjakanlah shalat malam. Jika engkau menginginkan akhirat, kerjakanlah salat malam.”
Kalimat itu terdengar paradoks. Biasanya orang membayangkan dunia dan akhirat berada pada dua jalan yang berbeda. Namun, sang guru justru mengatakan bahwa satu amalan yang sama dapat menjadi sumber keberkahan bagi keduanya. Sebab shalat malam bukan sekadar ritual tambahan, melainkan latihan membangun disiplin, kejernihan batin, kesabaran, dan kedekatan dengan Allah. Dari sanalah banyak keputusan hidup lahir dengan lebih tenang dan lebih bijaksana.
Dalam konteks kehidupan modern, nasihat itu terasa semakin relevan. Kita hidup di tengah kebisingan yang nyaris tidak pernah berhenti. Pagi dimulai dengan memeriksa pesan, siang dipenuhi target, malam dihabiskan bersama layar yang terus menyala. Tidak mengherankan jika banyak orang merasa lelah, tetapi tidak pernah benar-benar damai.
Shalat malam menawarkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh teknologi ataupun hiburan: kesunyian yang menyembuhkan.
Di titik ini, hadis Imam Ja’far ash-Shadiq a.s memperlihatkan dua golongan lainnya. Golongan kedua adalah mereka yang bangun hanya untuk melanjutkan jalan kemaksiatan. Tidur mereka dipenuhi kelalaian, dan ketika bangun, arah hidupnya tetap sama. Mereka hanya berpindah dari satu bentuk keterjagaan menuju kelalaian berikutnya. Fajar tidak mengubah apa pun selain posisi tubuh mereka.
Kerugian yang dimaksud bukan semata-mata dosa yang bertambah. Yang lebih menyedihkan adalah hilangnya kesempatan. Setiap pagi sebenarnya adalah lembaran baru yang diberikan Allah, tetapi ada orang yang langsung mengotorinya sebelum matahari benar-benar meninggi.
Adapun golongan ketiga adalah mereka yang tidak memperoleh keuntungan maupun kerugian. Mereka bangun ketika pagi telah tiba, menunaikan kewajiban shalat Subuh, lalu menjalani hari sebagaimana biasa. Mereka tidak sedang bermaksiat, tetapi juga tidak memanfaatkan kesempatan untuk mendekat lebih jauh kepada Allah.
Golongan ini mungkin yang paling banyak jumlahnya. Kehidupan mereka berjalan baik-baik saja. Tidak ada penyimpangan yang mencolok, tetapi juga tidak ada lompatan spiritual yang berarti. Hari-hari berlalu dalam ritme yang sama. Mereka memenuhi kewajiban, tetapi jarang menghadirkan cinta.
Padahal, dalam perjalanan menuju Allah, sering kali yang mengubah seseorang bukanlah ibadah wajib semata, melainkan amalan-amalan sunah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Shalat malam termasuk di antaranya. Ia menjadi ruang latihan untuk mencintai Allah tanpa tekanan kewajiban.
Mungkin inilah sebabnya mengapa banyak ulama besar menjadikan tahajud sebagai fondasi kehidupan mereka. Mereka memahami bahwa kekuatan seseorang tidak hanya dibangun oleh banyaknya ilmu, luasnya jabatan, atau besarnya pengaruh, melainkan oleh hubungan batinnya dengan Tuhan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Setiap fajar sesungguhnya selalu mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita. Bangun untuk apa? Sekadar memulai rutinitas, melanjutkan kelalaian, atau memulai hari dengan mengingat Allah?
Jawabannya tidak ditentukan oleh panjangnya doa atau banyaknya rakaat, melainkan oleh keputusan sederhana untuk memberikan beberapa menit terbaik sebelum matahari terbit kepada Sang Pencipta.
Barangkali di situlah letak rahasia shalat malam. Ia tidak mengubah dunia dalam semalam, tetapi perlahan mengubah manusia yang kemudian mampu mengubah dunianya sendiri. Dan ketika itu terjadi, setiap pagi bukan lagi sekadar pergantian waktu, melainkan awal dari sebuah keuntungan yang terus bertambah di dunia maupun di akhirat.







