Ketika Dunia Takut Mati, Imam Ali Menyambutnya sebagai Keberhasilan 

KHAMENEI.ID— Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia modern memandang kematian. Kita hidup di zaman yang memuja keselamatan, kenyamanan, dan umur panjang, tetapi diam-diam kehilangan pemahaman tentang makna hidup itu sendiri. Orang takut mati, bukan hanya karena kehilangan dunia, tetapi karena sering kali hidup mereka sendiri terasa belum benar-benar bermakna.

Di tengah kegelisahan itulah, sejarah menghadirkan satu kalimat yang mengguncang peradaban Islam selama berabad-abad. Ketika pedang beracun menghantam kepala Imam Ali a.s di mihrab masjid Kufah, ketika darah mulai mengalir di wajah dan janggutnya yang memutih, beliau justru berkata:

فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ
“Demi Tuhan Ka‘bah, aku telah menang”

Kalimat itu terdengar nyaris mustahil. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja ditebas di tengah shalat justru berbicara tentang kemenangan? Mengapa Imam Ali a.s tidak mengutuk nasibnya, tidak menjerit kesakitan, atau setidaknya mengeluhkan pengkhianatan manusia terhadap dirinya?

Di situlah letak keagungan spiritual yang sulit dipahami oleh dunia modern.

Riwayat-riwayat klasik menggambarkan suasana subuh itu dengan begitu sunyi sekaligus tragis. Masjid masih gelap. Orang-orang tersebar melaksanakan shalat sunah masing-masing. Belum ada yang sadar bahwa beberapa detik lagi sejarah Islam akan berubah selamanya.

Ketika pedang Ibnu Muljam menghantam kepala Imam Ali a.s, riwayat menyebutkan:

فَلَمَّا أَحَسَّ الْإِمَامُ بِالضَّرْبِ لَمْ يَتَأَوَّهْ وَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ
“Ketika Imam merasakan hantaman itu, beliau tidak mengeluh. Ia bersabar dan menyerahkan dirinya kepada Allah”

Tidak ada jeritan. Tidak ada ratapan.

Yang pertama keluar dari lisannya justru:

بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ
“Dengan nama Allah, demi Allah, dan di atas jalan Rasulullah”

Kalimat itu sangat penting. Imam Ali a.s seakan ingin mengatakan bahwa bahkan di detik terakhir hidupnya, seluruh keberadaannya tetap berpijak pada Allah Ta’ala dan nilai-nilai kenabian. Hidupnya dimulai dengan perjuangan untuk Islam, dan hidup itu pula yang kini dipersembahkan kembali kepada jalan yang sama.

Baca Juga  Kembali ke Al-Qur’an: Jalan Keluar Umat Islam dari Kegelapan Zaman

Menariknya, kalimat serupa juga diriwayatkan keluar dari lisan Imam Husain a.s di Karbala ketika beliau jatuh bersimbah darah. Seolah ada garis spiritual yang menyambungkan dua tragedi besar itu: pengorbanan demi menjaga ruh agama agar tidak mati di tangan kekuasaan.

Tetapi yang paling mengguncang justru ucapan berikutnya:

فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ
“Demi Tuhan Ka‘bah, aku telah berhasil”

Dalam logika dunia, kemenangan biasanya identik dengan selamat, berkuasa, kaya, atau menang perang. Namun Imam Ali a.s memperlihatkan definisi lain tentang kemenangan: ketika seseorang berhasil menjaga iman, kehormatan, dan integritasnya hingga napas terakhir.

Dan mungkin, itulah jenis kemenangan yang paling langka hari ini.

Sebab manusia modern sering memenangkan dunia sambil kehilangan dirinya sendiri. Banyak orang sukses secara materi, tetapi batinnya kosong. Banyak yang naik jabatan dengan mengorbankan kejujuran. Banyak yang bertahan hidup, tetapi harus membunuh nurani mereka sedikit demi sedikit.

Imam Ali a.s justru menunjukkan kebalikannya: tubuhnya mungkin dihancurkan, tetapi jiwanya tetap utuh.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berkata:

لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ
“Untuk mencapai akhir seperti inilah hendaknya manusia beramal”

Kalimat ini terdengar sangat reflektif. Imam Ali a.s tidak memandang syahadahnya sebagai tragedi pribadi semata, melainkan sebagai puncak perjalanan spiritual manusia. Seolah beliau ingin mengatakan bahwa nilai hidup seseorang tidak diukur dari panjangnya usia, tetapi dari kualitas akhir yang ia capai.

Dan memang, tidak semua orang yang hidup lama benar-benar hidup bermartabat.

Riwayat kemudian menggambarkan suasana masjid yang berubah kacau. Setelah Imam Ali a.s berseru bahwa dirinya telah dibunuh, orang-orang berlarian menuju mihrab dalam keadaan panik. Mereka kebingungan, berputar-putar karena syok dan ketakutan.

Baca Juga  Pedang Mungkin Mampu Menghentikan Detak Jantung, Namun Tak Akan Mampu Menghentikan Denyut Keadilan

Ketika akhirnya mengerumuni Imam Ali a.s, mereka melihat pemandangan yang memilukan: beliau sedang mengikat luka di kepalanya dengan kain sederhana, sementara darah mengalir deras membasahi wajah dan janggutnya yang putih.

Riwayat menggambarkannya dengan sangat visual: janggut putih itu berubah merah oleh darahnya sendiri.

Namun bahkan dalam keadaan seperti itu, Imam Ali a.s tetap berkata:

هَذَا مَا وَعَدَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
“Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya sungguh benar.”

Tidak ada kemarahan terhadap takdir. Tidak ada kepahitan terhadap manusia.

Ada ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa hidup bukan sekadar soal bertahan, tetapi soal memenuhi janji kepada Allah Ta,ala.

Di titik inilah kesyahidan Imam Ali a.s menjadi sangat relevan bagi dunia modern yang gelisah. Kita hidup di zaman ketika manusia takut kehilangan apa pun: jabatan, uang, popularitas, bahkan citra digital di media sosial. Ketakutan itu membuat banyak orang rela menggadaikan prinsip.

Padahal Imam Ali a.s mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: manusia yang paling merdeka adalah mereka yang tidak takut kehilangan dunia demi mempertahankan kebenaran.

Karena itu, tragedi di mihrab Kufah bukan sekadar kisah duka sejarah Islam. Ia adalah cermin tentang benturan abadi antara cahaya moral dan kerakusan manusia. Imam Ali a.s dibunuh bukan karena lemah, tetapi justru karena terlalu jujur di tengah dunia yang mulai nyaman dengan kompromi.

Dan mungkin, itulah sebabnya hingga hari ini nama beliau tetap hidup melampaui zaman.

Sebab sebagian manusia menang karena berhasil menguasai dunia. Tetapi sebagian lainnya menjadi abadi karena berhasil menaklukkan dirinya sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar