Ketika Ilmu Hanya Dicari untuk Gaji: Awal Kehancuran Makna Pendidikan

KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang perlahan hilang dari dunia pendidikan modern: rasa hormat terhadap ilmu sebagai sesuatu yang suci.

Universitas hari ini begitu sibuk mencetak tenaga kerja, memburu ranking global, mengejar akreditasi, dan memproduksi gelar. Kampus berubah menjadi arena kompetisi industri. Mahasiswa belajar agar cepat diterima perusahaan. Orang tua membiayai pendidikan dengan harapan sederhana: anaknya segera mendapat pekerjaan mapan.

Semua tampak masuk akal. Tetapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu pertanyaan yang mulai jarang diajukan: apakah ilmu hanya alat mencari uang?

Pertanyaan ini penting, sebab ketika ilmu kehilangan makna spiritualnya, pendidikan perlahan berubah menjadi mesin produksi manusia pragmatis, cerdas, tetapi kosong; terampil, tetapi kehilangan arah moral.

Dalam tradisi Islam, ilmu tidak pernah dipandang sekadar alat teknis. Ia dipahami sebagai sesuatu yang memiliki cahaya. Ada sebuah ungkapan terkenal dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s:

لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ التَّعَلُّمِ، إِنَّمَا هُوَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِی قَلْبِ مَنْ يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ
“Ilmu bukan sekadar banyaknya pelajaran, tetapi cahaya yang Allah letakkan di hati orang yang Dia kehendaki mendapat petunjuk”

Kalimat ini terasa sangat tajam bila dibaca di tengah krisis pendidikan modern. Sebab hari ini manusia memiliki akses ilmu paling besar sepanjang sejarah, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan yang sama besarnya.

Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi makna semakin langka.

Seseorang bisa memiliki banyak gelar, tetapi tetap rakus. Bisa menguasai teknologi tinggi, tetapi tidak mampu mengendalikan egonya. Bisa menjadi ilmuwan hebat, tetapi kehilangan empati terhadap manusia lain.

Artinya, pengetahuan belum tentu melahirkan cahaya.

Di situlah Islam membedakan antara sekadar “belajar” dan benar-benar “berilmu”. Belajar bisa menghasilkan keterampilan. Tetapi ilmu yang sejati seharusnya menerangi hati manusia.

Baca Juga  Langit dan Akal: Dua Pilar Kemajuan yang Diam-Diam Kita Lupakan

Karena itu, dalam pandangan Islam, universitas ideal bukan hanya tempat transfer informasi, melainkan tempat pembentukan jiwa.

Inilah yang sering disalahpahami ketika orang berbicara tentang “kampus Islam” atau “universitas Islami”. Banyak yang langsung membayangkan aturan pakaian, simbol-simbol formal agama, atau sekadar pemisahan sosial tertentu. Padahal inti terdalam universitas Islam bukan pertama-tama soal simbol luar, melainkan suasana spiritual dalam mencari ilmu.

Sebuah kampus Islami seharusnya melahirkan manusia yang mencintai ilmu dengan kesungguhan moral. Ada adab dalam belajar. Ada kejujuran intelektual. Ada rasa rendah hati di hadapan pengetahuan. Ada keyakinan bahwa ilmu bukan hanya untuk memperkaya diri, tetapi untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Tanpa itu semua, kampus hanya akan menjadi pabrik karier.

Masalahnya, dunia modern terlalu sering memandang ilmu secara materialistis. Pendidikan dinilai dari seberapa besar gaji lulusannya. Jurusan dianggap “berguna” bila cepat menghasilkan uang. Bahkan mahasiswa sendiri sering memilih bidang studi bukan karena cinta kepada ilmu, tetapi sekadar mengikuti pasar.

Akibatnya, belajar kehilangan ruhnya.

Padahal dalam tradisi Islam klasik, mencari ilmu dipandang sebagai perjalanan spiritual. Ada kecintaan mendalam terhadap pengetahuan. Ada penghormatan luar biasa kepada guru. Ada kesungguhan yang lahir bukan hanya karena ambisi duniawi, tetapi karena keyakinan bahwa memahami ilmu berarti mendekati salah satu tanda kebesaran Tuhan.

Mungkin itu sebabnya ada ungkapan keras dari para ulama terdahulu bahwa murid harus “dipaksa” mendekati ilmu. Tentu bukan dalam arti kekerasan literal, tetapi menggambarkan betapa berharganya ilmu sehingga manusia tidak boleh malas mengejarnya.

Karena ilmu dianggap memiliki kemuliaan.

Hari ini suasana itu mulai memudar. Banyak mahasiswa datang ke kampus tanpa rasa cinta terhadap pengetahuan. Mereka hadir sekadar memenuhi absensi. Memburu nilai. Mengejar ijazah. Dan setelah lulus, sebagian besar buku perlahan dilupakan.

Baca Juga  Kemuliaan yang Lahir dari Sujud: Pelajaran Abadi dari Kehidupan Fatimah Az-Zahra 

Ilmu direduksi menjadi alat bertahan hidup.

Padahal ketika ilmu kehilangan kesuciannya, dampaknya tidak hanya terasa di ruang akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Kita mulai melihat lahirnya manusia-manusia cerdas yang tidak bijak. Profesional yang kehilangan etika. Intelektual yang mudah menjual pendapat demi kepentingan.

Peradaban modern mengalami paradoks aneh: semakin tinggi tingkat pendidikan, belum tentu semakin tinggi kualitas moral manusianya.

Karena pendidikan modern terlalu fokus mengasah otak, tetapi sering lupa mendidik hati.

Dalam konsep Islam, ilmu dan iman tidak dipisahkan secara kaku. Semakin dalam seseorang memahami ilmu, seharusnya semakin tumbuh pula kerendahan hati dan kesadaran moralnya. Sebab ilmu yang sejati membuat manusia sadar betapa kecil dirinya di hadapan luasnya semesta.

Itulah “cahaya” yang dimaksud dalam tradisi spiritual Islam. Cahaya yang membuat ilmu tidak sekadar memperbesar kemampuan manusia, tetapi juga memperhalus jiwanya.

Dan mungkin itu yang paling dibutuhkan dunia hari ini.

Kita tidak kekurangan orang pintar. Dunia penuh ahli teknologi, ekonom, pakar politik, dan ilmuwan hebat. Tetapi manusia tetap saling menghancurkan. Perang terus terjadi. Ketimpangan semakin besar. Manipulasi informasi merajalela.

Artinya ada sesuatu yang salah dalam cara manusia memahami ilmu.

Barangkali karena ilmu telah dipisahkan dari tanggung jawab moral.

Di tengah situasi seperti itu, gagasan tentang ilmu sebagai “nur” atau cahaya terasa sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia kompetitif, tetapi juga manusia yang jernih hati nuraninya.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak runtuh akibat kurangnya orang cerdas. Ia runtuh ketika kecerdasan kehilangan cahaya moral yang membimbingnya.

Dan mungkin, universitas terbesar bukanlah yang paling megah gedungnya, tetapi yang masih mampu membuat manusia jatuh cinta kepada ilmu dengan jiwa yang bersih.

Baca Juga  Tobat Bukan untuk Orang Jahat: Pesan Imam Sajjad a.s bagi Jiwa yang Lelah 
Bagikan:
Terkait
Komentar