KHAMENEI.ID– Ada satu tanda yang hampir selalu muncul ketika sebuah lembaga kehilangan jiwanya: pintunya semakin sulit diketuk. Orang-orang yang dahulu mudah ditemui, kini hanya bisa dijangkau melalui prosedur, jadwal, sekretaris, dan meja-meja administrasi. Hubungan yang dulu hangat perlahan berubah menjadi hubungan formal. Yang tersisa hanyalah jabatan, sementara kedekatan menghilang.
Risiko itu bukan hanya mengintai lembaga pemerintahan atau perusahaan besar. Dunia keagamaan pun tidak kebal terhadapnya. Seorang ulama, dai, atau pemuka agama dapat kehilangan ruh pengabdiannya ketika terlalu lama hidup di balik meja dan tembok kantor. Padahal, sejak awal, agama justru tumbuh dari perjumpaan dengan manusia, bukan dari jarak.
Dalam salah satu khotbahnya, Imam Ali a.s menggambarkan Rasulullah saw dengan ungkapan yang sangat indah:
طَبِيبٌ دَوَّارٌ بِطِبِّهِ، قَدْ أَحْكَمَ مَرَاهِمَهُ وَأَحْمَى مَوَاسِمَهُ
“Beliau adalah seorang tabib yang berkeliling membawa obatnya; telah menyiapkan salepnya dengan sempurna dan memanaskan alat pengobatannya”
Metafora ini begitu kaya makna. Nabi saw tidak menunggu orang-orang yang terluka datang kepadanya. Sebaliknya, beliau mendatangi mereka. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong kehidupan, menemui manusia di pasar, di rumah-rumah sederhana, di tengah peperangan, bahkan di tempat-tempat yang sering dihindari banyak orang.
Seorang tabib yang baik bukanlah tabib yang hanya duduk di klinik sambil menunggu pasien. Ia memahami bahwa ada luka yang tidak pernah sampai ke ruang praktik karena pemiliknya terlalu miskin, terlalu malu, atau terlalu putus asa untuk meminta pertolongan. Maka ia sendiri yang bergerak.
Di situlah letak pelajaran besarnya. Kehadiran sering kali lebih menyembuhkan daripada sekadar nasihat.
Dalam konteks yang lebih luas, tantangan terbesar para pemuka agama hari ini bukan semata menjaga keluasan ilmu, melainkan menjaga kedekatan dengan masyarakat. Jabatan, struktur organisasi, dan tanggung jawab administratif memang penting. Tanpa manajemen yang baik, sebuah institusi tidak akan berjalan. Namun organisasi hanyalah alat. Ia tidak boleh mengubah watak dasar seorang pelayan masyarakat menjadi seorang birokrat yang sibuk mengurus prosedur.
Ketika seseorang terlalu lama hidup dalam rutinitas administrasi, tanpa disadari ia mulai berbicara dengan bahasa kantor, bukan lagi bahasa rakyat. Ia lebih akrab dengan laporan dibandingkan keluhan, lebih mengenal angka daripada wajah, dan lebih sering menghadapi berkas daripada manusia.
Padahal, identitas seorang ulama tidak dibentuk oleh ruang kerjanya, melainkan oleh kedekatannya dengan umat. Ia lahir untuk mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, serta hadir sebelum diminta.
Yang paling dikhawatirkan bukanlah seseorang memiliki jabatan. Yang lebih berbahaya adalah ketika jabatan perlahan menggantikan kepribadiannya.
Sejarah menunjukkan dua gambaran yang sangat berbeda. Ada orang yang tidak memiliki posisi resmi apa pun, tetapi ketika masyarakat datang kepadanya, mereka disambut dengan wajah dingin, tutur kata yang kaku, dan sikap yang membuat orang enggan kembali. Sebaliknya, ada pula tokoh yang memikul tanggung jawab besar dalam pemerintahan atau lembaga keagamaan, tetapi tetap menyapa masyarakat dengan senyum, mendengar keluh kesah mereka dengan sabar, dan memperlakukan setiap orang seperti keluarga sendiri.
Perbedaannya ternyata bukan terletak pada jabatan, melainkan pada hati.
Sikap kebapakan, kasih sayang, dan kepedulian tidak lahir dari struktur organisasi. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa setiap manusia membawa beban yang mungkin tidak tampak dari luar. Kadang-kadang seseorang datang bukan karena membutuhkan jawaban yang rumit. Ia hanya ingin didengar.
Di titik ini, menjaga kedekatan dengan rakyat menjadi sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada sekadar strategi komunikasi. Ia adalah bagian dari identitas. Tradisi panjang ulama dalam sejarah Islam, khususnya di kalangan Syiah, dibangun di atas kedekatan semacam itu. Mereka hidup bersama masyarakat, merasakan denyut kehidupan mereka, menggantungkan kehidupannya pada kepercayaan umat, dan karena itu penderitaan masyarakat menjadi bagian dari penderitaannya sendiri.
Hubungan seperti ini melahirkan kepercayaan yang tidak dapat dibangun hanya dengan pidato atau media sosial. Kepercayaan lahir ketika masyarakat melihat bahwa orang yang berbicara tentang agama juga hadir ketika mereka menghadapi kesulitan hidup.
Di zaman modern, tantangan menjaga kedekatan itu justru semakin besar. Teknologi memungkinkan seseorang berbicara kepada jutaan orang dalam hitungan detik, tetapi sekaligus membuatnya semakin jarang bertemu langsung dengan manusia. Popularitas digital dapat menciptakan ilusi kedekatan, padahal yang terjadi hanyalah komunikasi satu arah.
Karena itu, ruh pelayanan tidak boleh hilang. Seorang pemimpin agama tetap perlu berjalan di tengah masyarakat, menyapa mereka dengan bahasa yang sederhana, mendengar kegelisahan mereka tanpa sekat, dan membiarkan dirinya disentuh oleh realitas kehidupan sehari-hari.
Barangkali, ukuran keberhasilan seorang ulama bukanlah seberapa megah kantornya atau seberapa tinggi jabatannya. Ukurannya justru sederhana: apakah masyarakat masih merasa nyaman mengetuk pintunya? Apakah mereka masih melihat sosok yang mudah tersenyum, mudah mendengar, dan mudah hadir ketika dibutuhkan?
Sebab agama pada akhirnya tidak hanya diajarkan melalui mimbar. Ia juga dipantulkan dari wajah yang ramah, telinga yang mau mendengar, langkah yang rela mendekat, dan hati yang tidak pernah berhenti menjadi milik rakyat.







