Ilmu adalah Kekuatan: Mengapa Kemajuan Bangsa Dimulai dari Pengetahuan

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang kaya sumber daya alam tetapi tetap bergantung kepada negara lain. Ada pula bangsa yang wilayahnya sempit, nyaris tanpa kekayaan alam, tetapi menjadi pusat rujukan dunia. Perbedaannya bukan semata pada jumlah penduduk atau besarnya anggaran negara. Yang membedakan adalah cara mereka memandang ilmu.

Dalam sejarah peradaban, kekuatan sejati tidak pernah lahir hanya dari kekayaan atau kekuasaan politik. Kekuatan yang bertahan justru tumbuh dari kemampuan menghasilkan pengetahuan, menguasai teknologi, dan melahirkan inovasi. Di sanalah sebuah bangsa memperoleh martabatnya. Ia tidak lagi sibuk mengejar, melainkan menjadi tujuan yang dikejar.

Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan sebuah negara, perhatian tidak cukup diarahkan pada pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi semata. Semua itu memang penting, tetapi tidak akan kokoh tanpa fondasi yang lebih mendasar: ilmu pengetahuan. Ekonomi dapat menggerakkan roda kehidupan, tetapi ilmu menentukan ke mana roda itu akan bergerak.

Dalam pandangan Islam, hubungan antara ilmu dan kekuatan bukan sekadar teori sosial, melainkan prinsip yang telah lama ditegaskan. Imam Ali a.s berkata:

العِلمُ سُلطانٌ، مَن وَجَدَهُ صالَ بِهِ، وَمَن لَم يَجِدهُ صيلَ عَلَيهِ

“Ilmu adalah kekuasaan. Siapa yang memilikinya akan mampu menguasai keadaan dengannya. Sebaliknya, siapa yang kehilangannya akan menjadi sasaran kekuasaan orang lain”

Ungkapan singkat itu terasa semakin relevan di tengah dunia modern. Hari ini, peperangan tidak selalu berlangsung dengan senjata. Persaingan terbesar justru terjadi di laboratorium, pusat riset, universitas, perusahaan teknologi, hingga ruang-ruang tempat lahirnya kecerdasan buatan dan inovasi digital. Negara yang unggul dalam ilmu mampu menentukan arah perkembangan dunia, sementara negara yang tertinggal hanya menjadi pengguna, bahkan pasar, bagi hasil karya bangsa lain.

Baca Juga  Dakwah Melanjutkan Jejak Para Nabi

Di titik ini, makna “kekuasaan” berubah menjadi lebih luas. Kekuasaan bukan hanya kemampuan memerintah, tetapi kemampuan menentukan standar, menciptakan teknologi, mengendalikan informasi, bahkan memengaruhi cara hidup masyarakat dunia. Semua itu berakar pada ilmu.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan ilmu sebenarnya bukan hanya urusan para akademisi atau lembaga pendidikan. Ia adalah proyek peradaban. Ketika sebuah negara menempatkan riset sebagai prioritas, menghargai ilmuwan, menyediakan ruang bagi kreativitas, dan menumbuhkan budaya berpikir kritis, sesungguhnya negara itu sedang membangun benteng pertahanan yang paling kokoh. Benteng itu tidak mudah runtuh oleh embargo ekonomi, tekanan politik, ataupun perubahan zaman.

Sebaliknya, ketergantungan terhadap ilmu bangsa lain selalu membawa konsekuensi. Ketika teknologi harus diimpor, ketika obat-obatan bergantung pada produksi luar negeri, ketika perangkat komunikasi, sistem keamanan, bahkan kebutuhan pangan bergantung pada hasil penelitian negara lain, maka sesungguhnya kemandirian sebuah bangsa sedang dipertaruhkan. Ketergantungan ilmiah lambat laun berubah menjadi ketergantungan ekonomi, lalu menjalar menjadi ketergantungan politik.

Karena itu, kemajuan ilmu tidak boleh berhenti. Setiap jeda dalam pengembangan pengetahuan akan segera diisi oleh bangsa lain yang terus berlari. Dunia bergerak terlalu cepat untuk memberi ruang bagi mereka yang merasa cukup dengan pencapaian hari ini. Bangsa yang berhenti belajar sesungguhnya sedang berjalan mundur, meskipun tampak diam.

Dalam konteks yang lebih luas, membangun ilmu juga berarti membangun mentalitas. Ilmu tidak tumbuh di tengah budaya yang anti-kritik, malas membaca, atau merasa puas dengan pencapaian lama. Ia tumbuh dari rasa ingin tahu, keberanian mempertanyakan keadaan, kesediaan belajar dari kegagalan, dan keyakinan bahwa setiap persoalan memiliki solusi yang dapat ditemukan melalui penelitian dan pemikiran yang serius.

Baca Juga  Peradaban Tidak Tumbuh dari Bumi, Tetapi dari Keberanian untuk Berpikir

Itulah sebabnya investasi terbesar suatu negara bukan hanya jalan raya, gedung pencakar langit, atau proyek-proyek yang tampak megah. Yang lebih menentukan justru investasi pada manusia: guru yang berkualitas, universitas yang hidup, pusat penelitian yang produktif, serta generasi muda yang dibiasakan mencintai ilmu sejak dini. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dampaknya dapat mengubah arah sejarah sebuah bangsa selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Gagasan ini kemudian menyentuh setiap individu. Ilmu bukan hanya kebutuhan negara, melainkan kebutuhan setiap manusia yang ingin hidup bermartabat. Orang yang terus belajar memiliki kemampuan memperluas pilihan hidupnya. Ia tidak mudah ditipu, tidak mudah diperdaya, dan mampu mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Sebaliknya, kebodohan selalu membuka pintu bagi berbagai bentuk ketergantungan dan penindasan.

Karena itu, seruan untuk memperkuat ilmu sesungguhnya bukan sekadar ajakan memperbanyak sekolah atau membangun kampus baru. Yang lebih penting adalah membangun budaya yang menghormati pengetahuan sebagai sumber kemuliaan. Selama ilmu hanya dipandang sebagai alat mencari pekerjaan, bangsa akan menghasilkan pencari nafkah. Tetapi ketika ilmu dipandang sebagai jalan membangun peradaban, bangsa akan melahirkan para pencipta perubahan.

Pada akhirnya, kehormatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa keras suaranya di hadapan dunia, melainkan oleh seberapa besar kontribusinya bagi dunia. Dan kontribusi itu selalu lahir dari ilmu. Sebab benar adanya, ilmu adalah kekuatan. Siapa yang menggenggamnya akan mampu memimpin perjalanan zaman. Sebaliknya, mereka yang mengabaikannya akan terus mengikuti langkah orang lain, bahkan tanpa sadar menyerahkan masa depannya kepada tangan yang lebih berpengetahuan.

Bagikan:
Terkait
Komentar