KHAMENEI.ID– Malam-malam Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang sulit dijelaskan hanya dengan angka. Ribuan orang memenuhi masjid, musala, dan ruang-ruang ibadah. Tangan-tangan terangkat. Mata-mata basah. Bibir-bibir bergetar mengucapkan doa yang mungkin sudah dihafal sejak kecil, atau justru baru pertama kali diucapkan dengan sungguh-sungguh. Yang menarik, di antara kerumunan itu ada pelajar, pekerja, pengusaha, pejabat, orang tua, hingga anak muda dengan latar belakang dan pandangan hidup yang beragam. Mereka datang membawa harapan yang berbeda, tetapi menuju satu alamat yang sama: Tuhan.
Di tengah suasana seperti itu, banyak orang mengira bahwa doa adalah inisiatif manusia. Kita merasa sedang mengetuk pintu langit, berharap ada jawaban dari sana. Namun, Imam Sajjad a.s dalam doa perpisahan Ramadan di Sahifah Sajjadiyah justru menawarkan sudut pandang yang mengejutkan: bahkan keinginan untuk berdoa pun sebenarnya merupakan karunia Tuhan.
Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ يَا مَنْ لَا يَرْغَبُ فِي الْجَزَاءِ وَيَا مَنْ لَا يَنْدَمُ عَلَى الْعَطَاءِ … تَشْكُرُ مَنْ شَكَرَكَ وَأَنْتَ أَلْهَمْتَهُ شُكْرَكَ، وَتُكَافِئُ مَنْ حَمِدَكَ وَأَنْتَ عَلَّمْتَهُ حَمْدَكَ
“Ya Allah, Engkau memberi tanpa mengharap balasan, tidak pernah menyesal atas pemberian-Mu. Engkau memberi pahala kepada orang yang bersyukur, padahal Engkaulah yang mengilhamkan syukur itu kepadanya. Engkau membalas orang yang memuji-Mu, padahal Engkaulah yang mengajarinya bagaimana memuji-Mu.”
Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam. Kita sering merasa bahwa syukur adalah hasil kesadaran kita sendiri, bahwa doa adalah usaha kita, dan bahwa kedekatan dengan Tuhan adalah pencapaian spiritual yang kita bangun dengan susah payah. Padahal, menurut doa ini, langkah pertama itu justru datang dari Tuhan. Bahkan rasa ingin bersyukur, keinginan untuk berzikir, dan dorongan untuk menengadahkan tangan adalah cahaya yang terlebih dahulu dinyalakan-Nya di dalam hati manusia.
Karena itu, ketika seseorang tiba-tiba merasakan kerinduan untuk berdoa setelah sekian lama lalai, mungkin yang sedang terjadi bukanlah ia menemukan Tuhan. Bisa jadi justru Tuhanlah yang sedang memanggilnya.
Pandangan ini mengubah cara kita memahami hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Selama ini banyak orang memandang doa sebagai komunikasi satu arah: manusia berbicara, Tuhan mendengar. Padahal, dalam perspektif yang lebih dalam, setiap doa adalah dialog. Sebelum manusia memanggil, ada panggilan yang lebih dahulu datang dari Tuhan ke dalam relung hati.
Penyair sufi Jalaluddin Rumi pernah mengungkapkan gagasan yang sama dengan bahasa yang indah. Ia menulis bahwa setiap kali seseorang berkata “Allah”, sesungguhnya jawaban “Labbaik” atau “Aku menyambutmu” sudah lebih dahulu hadir. Kerinduan, kegelisahan, bahkan rasa sakit yang mendorong seseorang mencari Tuhan adalah utusan yang dikirim oleh Tuhan sendiri.
Betapa sering kita mengalami hal itu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berada di puncak kesibukan, kita lupa berdoa. Hari-hari berjalan tanpa jeda untuk merenung. Namun, pada suatu malam yang sunyi, tiba-tiba muncul dorongan untuk mengingat Tuhan. Tidak ada yang memaksa. Tidak ada yang mengingatkan. Hati mendadak ingin berbicara kepada-Nya. Dalam pandangan spiritual Islam, momen seperti itu bukanlah kebetulan. Itu adalah bentuk perhatian Ilahi yang sedang mengetuk kesadaran manusia.
Di zaman modern yang serba cepat, pelajaran ini terasa semakin miris. Banyak orang mengukur segala sesuatu dengan kemampuan diri: kerja keras, strategi, kecerdasan, dan produktivitas. Semua itu memang penting. Namun, ada wilayah kehidupan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kemampuan manusia. Mengapa seseorang bisa tersentuh oleh sebuah doa? Mengapa ada hati yang tiba-tiba lembut setelah bertahun-tahun keras? Mengapa di tengah hiruk-pikuk dunia masih ada orang yang mencari kesunyian untuk berbicara dengan Tuhan?
Jawaban yang ditawarkan Imam Sajjad a.s sederhana namun mendalam: karena Allah Ta’ala sendiri yang membukakan pintunya.
Kesadaran ini juga mengajarkan kerendahan hati. Kita tidak perlu merasa lebih saleh hanya karena rajin beribadah. Sebab kemampuan untuk beribadah itu sendiri adalah anugerah. Tidak ada alasan untuk sombong atas sesuatu yang sejak awal merupakan pemberian. Sebaliknya, ketika melihat orang lain yang masih jauh dari jalan spiritual, kita pun tidak layak menghakimi. Sebab hidayah bukan barang yang bisa diproduksi oleh manusia. Ia adalah hadiah yang datang pada waktu yang dikehendaki-Nya.
Mungkin karena itulah para arif selalu memandang doa bukan sekadar permintaan, melainkan juga tanda kasih sayang Tuhan. Ketika seseorang masih mampu mengucapkan “Ya Allah”, sesungguhnya ia sedang menerima sebuah nikmat besar yang sering luput disadari. Sebab tidak semua hati diberi kesempatan untuk merasakan kedekatan itu.
Pada akhirnya, makna terdalam dari doa bukan hanya terletak pada terkabul atau tidaknya permohonan. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar mendapatkan apa yang diminta, yaitu ketika hati diberi kesempatan untuk mengenal kembali Tuhannya. Dalam momen itu, doa tidak lagi sekadar menjadi sarana meminta, tetapi menjadi tanda bahwa hubungan antara manusia dan Tuhan masih hidup.
Maka, jika suatu hari di tengah kesibukan atau kesedihan tiba-tiba terucap kata “Ya Allah” dari kedalaman hati, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai panggilan yang datang dari diri sendiri. Bisa jadi, itulah jawaban yang sudah lebih dahulu diberikan Tuhan. Sebab kadang-kadang, anugerah terbesar bukanlah ketika doa dikabulkan, melainkan ketika seseorang masih diberi kemampuan untuk berdoa.






