Shalat, Keikhlasan dan Kesombongan yang Diam-Diam Tumbuh

KHAMENEI.ID– Ada satu ironi yang kerap luput kita sadari. Semakin lama seseorang hidup, semakin banyak pula alasan baginya untuk merasa telah mencapai sesuatu. Jabatan bertambah, pengalaman menumpuk, penghormatan mengalir. Namun pada saat yang sama, umur justru semakin menipis. Kita sibuk menghitung pencapaian, tetapi lupa bahwa yang sesungguhnya sedang berkurang adalah waktu.

Imam Muhammad al-Baqir a.s pernah mengingatkan muridnya, Jabir, dengan sebuah kalimat yang sederhana tetapi mengguncang kesadaran:

يَا جَابِرُ، الدُّنْيَا عِنْدَ ذَوِي الْأَلْبَابِ كَفَيْءِ الظِّلَالِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِعْزَازٌ لِأَهْلِ دَعْوَتِهِ، الصَّلَاةُ تَثْبِيتٌ لِلْإِخْلَاصِ وَتَنْزِيهٌ عَنِ الْكِبْرِ

“Wahai Jabir, kehidupan dunia di mata orang-orang yang berakal hanyalah seperti bayangan yang berlalu. Kalimat tauhid adalah sumber kemuliaan bagi para pengusungnya. Shalat mengokohkan keikhlasan dan menyucikan manusia dari kesombongan”

Perumpamaan tentang dunia sebagai bayangan terasa begitu dekat dengan kehidupan modern. Bayangan selalu bergerak. Ia memanjang, lalu perlahan menghilang ketika matahari tenggelam. Tidak ada yang mampu menahannya. Begitulah umur manusia. Setiap pergantian hari, setiap ulang tahun, bahkan setiap datangnya tahun baru bukan sekadar penanda waktu yang berjalan, melainkan penanda bahwa perjalanan hidup sedang mendekati ujungnya.

Kita memang boleh bergembira menyambut hari-hari baru. Namun kegembiraan itu akan lebih bermakna bila disertai kesadaran bahwa setiap lembar kalender yang tercabut sesungguhnya adalah bagian hidup yang tidak akan kembali.

Kesadaran semacam inilah yang melahirkan kerendahan hati. Sebab kematian tidak mengenal usia. Orang tua memiliki kemungkinan lebih dekat dengannya, tetapi tidak sedikit anak muda yang justru dipanggil lebih dahulu. Kehidupan tidak pernah memberikan jaminan berdasarkan umur.

Di titik inilah tauhid memperoleh makna yang lebih dalam daripada sekadar sebuah kalimat yang diucapkan.

Baca Juga  Ketika Ilmu Menjadi Kekuasaan: Mengapa Bangsa yang Tertinggal Pengetahuan Akan Dikuasai?

Kalimat “La ilaha illa Allah” bukan hanya pengakuan teologis bahwa Tuhan itu satu. Ia adalah deklarasi kemerdekaan manusia. Ketika seseorang mengucapkannya dengan kesadaran penuh, ia sedang memutus rantai penghambaan kepada selain Allah.

Sejarah manusia pada dasarnya adalah sejarah perbudakan dalam berbagai bentuk. Dahulu manusia tunduk kepada para raja yang menganggap dirinya tuhan. Kini bentuknya berubah. Ada yang menjadi budak uang, budak jabatan, budak popularitas, budak kekuasaan, bahkan budak penilaian orang lain.

Tidak semua bentuk penyembahan diwujudkan dengan sujud. Ada penyembahan yang jauh lebih halus: ketika seseorang rela mengorbankan prinsip demi keuntungan, menjual integritas demi posisi, atau menggadaikan nurani demi tepuk tangan. Ketaatan total kepada sesuatu selain Allah juga merupakan bentuk penghambaan.

Karena itu, tauhid sejatinya adalah sumber kemuliaan manusia. Orang yang hanya tunduk kepada Allah tidak mudah dipermainkan oleh ketakutan, rayuan, maupun ancaman. Ia menjadi pribadi yang merdeka.

Al-Qur’an menggambarkan misi Rasulullah saw sebagai pembebasan manusia dari belenggu yang membelenggu kehidupan mereka:

وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“Dia melepaskan dari mereka beban-beban berat dan belenggu-belenggu yang selama ini mengikat mereka” (QS. Al-A’raf: 157)

Belenggu itu tidak selalu berupa rantai besi. Kadang ia hadir sebagai ambisi yang tidak pernah selesai, gengsi yang terus dipelihara, atau ego yang menuntut selalu dipuji.

Dalam konteks yang lebih luas, shalat hadir sebagai latihan harian untuk membebaskan manusia dari belenggu-belenggu tersebut.

Imam al-Baqir a.s menyebut shalat sebagai “peneguh keikhlasan”. Sebab selama shalat, seluruh perhatian diarahkan hanya kepada Allah. Takbir pertama menjadi pintu untuk meninggalkan hiruk-pikuk dunia. Bacaan demi bacaan mengingatkan bahwa tidak ada tujuan selain mencari rida-Nya.

Baca Juga  Di Zaman Semua Orang Ingin Terlihat Pintar, Ali bin Abi Thalib Mengajarkan Kerendahan Hati 

Apabila shalat dijalankan dengan kesadaran penuh, setiap gerak tubuh berubah menjadi bahasa penghambaan. Berdiri adalah kesiapan menghadap Tuhan. Rukuk adalah pengakuan atas kebesaran-Nya. Sujud adalah puncak pengosongan diri, ketika dahi (bagian tubuh yang paling mulia) justru diletakkan di atas tanah.

Sulit membayangkan seseorang yang benar-benar merasakan makna sujud, tetapi pada saat yang sama masih memelihara kesombongan.

Namun di situlah letak tantangan sesungguhnya.

Shalat dapat menjadi obat bagi kesombongan, tetapi juga bisa kehilangan ruhnya ketika ego menyelinap masuk. Seseorang mungkin menjadi imam ribuan jamaah, memimpin doa yang khusyuk, atau dikenal sebagai ahli ibadah. Semua itu tetap menyisakan bahaya bila di dalam hati muncul bisikan, “Lihatlah betapa banyak orang mengikutiku.”

Kesombongan tidak selalu tampil dengan wajah angkuh. Kadang ia bersembunyi di balik amal saleh. Ia tumbuh diam-diam, bahkan ketika seseorang sedang melakukan ibadah.

Karena itu, ukuran shalat bukan hanya seberapa panjang bacaan atau indahnya lantunan ayat, melainkan seberapa jauh shalat mampu mengikis ego. Bila selesai salat seseorang menjadi lebih rendah hati, lebih mudah meminta maaf, lebih lembut kepada sesama, dan semakin kecil di hadapan Allah, berarti shalat telah menjalankan fungsinya.

Sebaliknya, bila ibadah justru melahirkan rasa paling benar, paling suci, dan paling layak dihormati, mungkin yang sedang tumbuh bukan keikhlasan, melainkan kesombongan yang mengenakan pakaian agama.

Pada akhirnya, manusia memang hidup seperti bayangan yang terus memanjang menuju senja. Tidak ada yang mampu menghentikan geraknya. Yang dapat dipilih hanyalah bagaimana mengisi perjalanan itu.

Tauhid mengajarkan kemerdekaan. Shalat menjaga agar kemerdekaan itu tidak berubah menjadi kesombongan. Dan setiap sujud mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah, hidup di atas tanah, lalu akan kembali ke tanah.

Baca Juga  Membela Kaum Tertindas: Tanggung Jawab Negara Islam dan Ujian Kemanusiaan di Gaza

Mungkin justru ketika dahi menyentuh bumi itulah manusia mencapai derajatnya yang paling tinggi: bukan karena ia meninggikan dirinya, melainkan karena ia sepenuhnya merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta.

Bagikan:
Terkait
Komentar