KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar angka, jabatan, dan pengakuan, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: kapan keinginan berubah menjadi keterikatan? Kita hidup dalam peradaban yang mengukur keberhasilan dari apa yang dimiliki, bukan dari apa yang mampu dikendalikan dalam diri. Akibatnya, banyak orang merasa semakin kaya tetapi semakin gelisah, semakin berkuasa tetapi semakin takut kehilangan.
Berabad-abad lalu, Imam Ali bin Abi Thalib a.s mengingatkan tentang sumber dari persoalan ini. Dalam salah satu ucapannya yang terkenal, ia mengatakan, “Ad-dunyā ra’su kulli khathī’ah” cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan dan dosa. Sebuah kalimat pendek yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan diagnosis mendalam tentang penyakit manusia yang terus berulang dari zaman ke zaman.
Ketika Imam Ali a.s memimpin masyarakat Islam, kondisi umat sudah jauh berbeda dibanding masa Rasulullah saw. Selama sekitar dua puluh lima tahun setelah wafatnya Nabi saw, berbagai perubahan sosial, politik, dan ekonomi telah membentuk pola pikir baru. Kekayaan bertambah, wilayah meluas, dan kekuasaan berkembang. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula kecenderungan yang lebih halus: dunia mulai menjadi tujuan, bukan lagi sarana.
Imam Ali a.s memahami bahwa kerusakan sosial tidak pernah muncul begitu saja. Setiap penyimpangan politik, ketidakadilan ekonomi, atau konflik sosial selalu berakar pada persoalan moral. Dan di antara berbagai kelemahan moral itu, ada satu akar yang paling sering melahirkan cabang-cabang keburukan: keterikatan berlebihan kepada dunia.
Namun di sinilah letak kesalahpahaman yang sering terjadi. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “dunia”?
Banyak orang mengira dunia adalah sesuatu yang harus dijauhi. Padahal dalam pandangan Islam, dunia pada dasarnya adalah anugerah. Al-Qur’an menyatakan:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian” (QS. Al-Baqarah: 29)
Ayat ini menunjukkan bahwa bumi beserta seluruh isinya memang disediakan untuk dimanfaatkan manusia. Harta, ilmu pengetahuan, keluarga, pekerjaan, sumber daya alam, teknologi, bahkan umur yang kita jalani setiap hari, semuanya adalah bagian dari dunia.
Karena itu, Islam tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap kehidupan. Sebaliknya, banyak ajaran yang mendorong manusia membangun dunia. Sebuah ungkapan terkenal menyebutkan bahwa dunia adalah ladang bagi akhirat. Artinya, kehidupan dunia merupakan tempat menanam benih yang hasilnya akan dipanen kelak.
Lalu mengapa dunia bisa disebut sebagai sumber dosa?
Masalahnya bukan pada dunia, melainkan pada cara manusia memandangnya.
Dunia menjadi tercela ketika seseorang menganggap dirinya berhak memiliki lebih banyak daripada yang semestinya. Ketika ambisi berubah menjadi keserakahan. Ketika seseorang mulai mengambil bagian orang lain demi memperbesar bagiannya sendiri. Ketika kekayaan, jabatan, popularitas, dan kekuasaan menjadi sesuatu yang begitu dicintai hingga mengalahkan nilai-nilai kebenaran.
Dalam kondisi seperti itu, manusia kehilangan kemampuan melihat secara jernih. Pepatah lama mengatakan bahwa kecintaan yang berlebihan membuat seseorang menjadi buta dan tuli. Ia tidak lagi mampu membedakan benar dan salah selama objek yang dicintainya masih bisa diraih.
Fenomena ini bukan hanya terjadi pada individu. Sejarah menunjukkan bahwa banyak konflik besar lahir dari hasrat yang tidak terkendali. Persaingan kekuasaan, pengkhianatan, propaganda, hingga peperangan sering kali berakar pada keinginan segelintir orang untuk mempertahankan atau memperluas kepentingannya.
Menurut sebuah riwayat dari Imam Ali Zainal Abidin a.s, akar pertama pembangkangan terhadap Tuhan adalah kesombongan, sebagaimana yang terjadi pada Iblis. Setelah itu muncul ketamakan, sebagaimana yang menimpa Adam dan Hawa ketika mengambil sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Kemudian lahir iri hati, sebagaimana yang terjadi pada putra Nabi Adam a.s yang membunuh saudaranya.
Dari akar-akar itulah tumbuh berbagai kecenderungan lain: cinta kekuasaan, cinta kemewahan, cinta popularitas, cinta kenyamanan berlebihan, dan obsesi terhadap kekayaan. Seluruh cabang itu, menurut para nabi dan orang-orang bijak, bermuara pada satu sumber yang sama: cinta dunia.
Jika diperhatikan, gejala tersebut sangat mudah ditemukan dalam kehidupan modern. Banyak orang bekerja bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk memuaskan hasrat yang terus bertambah. Mereka membeli bukan karena perlu, melainkan karena takut tertinggal. Mereka mengejar pengakuan bukan karena ingin memberi manfaat, melainkan karena ingin terlihat lebih unggul daripada yang lain.
Akibatnya, lahirlah masyarakat yang dipenuhi kompetisi tanpa akhir. Orang mudah iri terhadap keberhasilan orang lain. Media sosial berubah menjadi arena perbandingan yang melelahkan. Prestasi tidak lagi dinilai dari manfaatnya, tetapi dari seberapa banyak perhatian yang berhasil dikumpulkan.
Dalam situasi seperti ini, peringatan Imam Ali a.s terasa semakin relevan. Ia tidak mengajak manusia meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan cara menempatkan dunia pada posisi yang benar.
Buktinya, Imam Ali a.s sendiri bukan seorang yang menjauh dari kehidupan. Ia dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif bekerja. Sebelum menjadi khalifah, ia mengelola kebun-kebun kurma, menggali saluran air, dan mengembangkan lahan yang produktif. Ia memahami pentingnya ekonomi, kesejahteraan, dan pembangunan masyarakat.
Yang membedakannya adalah satu hal: ia menguasai dunia tanpa diperbudak olehnya.
Inilah makna sejati dari zuhud yang sering disalahpahami. Zuhud bukan berarti miskin atau anti-kemajuan. Zuhud adalah kemampuan memiliki tanpa dimiliki. Menggunakan dunia tanpa menjadikannya tujuan akhir. Menjadikan harta sebagai alat, bukan identitas. Menjadikan jabatan sebagai amanah, bukan kebanggaan.
Pada akhirnya, dunia ibarat kendaraan dalam sebuah perjalanan panjang. Kendaraan itu penting, bahkan sangat diperlukan. Namun seseorang akan tersesat jika ia berhenti di garasi dan melupakan tujuan perjalanannya.
Pesan Imam Ali a.s tetap bergema hingga hari ini: yang berbahaya bukanlah dunia yang ada di tangan kita, melainkan dunia yang bersarang di hati kita. Sebab ketika dunia berubah menjadi pusat kecintaan, batas-batas moral perlahan memudar. Tetapi ketika dunia ditempatkan sebagai sarana untuk bertumbuh dan berbuat baik, ia justru menjadi jalan menuju kemuliaan.
Mungkin karena itulah, di tengah hiruk-pikuk peradaban modern yang terus mengajarkan cara memiliki lebih banyak, ajaran Imam Ali a.s mengingatkan sesuatu yang jauh lebih penting: belajar untuk tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki.







