Mengapa Al-Qur’an Memilih Perempuan sebagai Cermin Iman Manusia 

Di tengah hiruk-pikuk peradaban modern yang sering memuja standar maskulinitas sebagai ukuran keberhasilan, satu pertanyaan mendasar layak diajukan: mengapa perempuan harus meniru laki-laki untuk dianggap setara? Dalam lanskap budaya global yang masih menyisakan jejak patriarki, perempuan kerap didorong untuk “menjadi seperti laki-laki” dalam cara berpikir, bekerja, bahkan dalam cara memaknai keberhasilan hidup. Tapi benarkah itu satu-satunya jalan?

Al-Qur’an justru menawarkan arah yang berbeda, bahkan bisa dibilang berlawanan. Di dalamnya, perempuan tidak ditempatkan sebagai bayangan laki-laki, melainkan sebagai teladan universal bagi seluruh manusia, tanpa memandang jenis kelamin. Ini bukan sekadar pernyataan normatif, tetapi sebuah gagasan radikal yang sering luput dari pembacaan kita hari ini.

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menyusun narasinya. Dalam Surah At-Tahrim, Allah berfirman:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir: istri Nuh dan istri Luth…”

Dua perempuan ini disebut sebagai contoh bagi mereka yang ingkar. Mereka hidup bersama nabi, tetapi kedekatan itu tak menyelamatkan mereka. Kedudukan suami sebagai utusan Tuhan tak mampu menjadi tameng ketika pilihan iman tidak berpihak pada kebenaran. Pesan ini jelas: identitas seseorang berdiri pada pilihan dan integritasnya sendiri, bukan pada relasi sosial atau status keluarga.

Namun yang lebih menarik, Al-Qur’an tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan dengan menghadirkan sosok-sosok perempuan sebagai puncak teladan keimanan:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman: istri Fir’aun…”

Di titik ini, narasi berubah tajam. Istri Fir’aun seorang perempuan yang hidup di jantung kekuasaan tiranik justru menjadi simbol keberanian iman. Ia bukan sekadar tokoh pendamping dalam kisah Musa, tetapi figur utama dalam drama keteguhan spiritual. Ketika bayi Musa ditemukan di sungai, dialah yang berkata dengan penuh kasih:

Baca Juga  Mengenal Konsep Wilayat Faqih (4) Perjuangan Tanpa Tujuan Adalah Kelelahan yang Panjang

لا تَقْتُلُوهُ
“Janganlah kalian membunuhnya.”

Kalimat singkat itu menyelamatkan sejarah. Di baliknya ada keberanian melawan arus kekuasaan, ada intuisi moral yang melampaui ketakutan. Perempuan ini kemudian beriman, dan pilihannya itu harus dibayar mahal dengan penyiksaan hingga kematian. Namun justru di sanalah ia menjadi abadi: sebagai teladan bagi orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.

Al-Qur’an kemudian menghadirkan sosok kedua:

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا
“Dan Maryam putri Imran, yang menjaga kehormatannya…”

Maryam adalah simbol lain dari keteguhan. Ia hidup dalam pusaran ujian sosial yang tidak ringan dituduh, disalahpahami, bahkan dihakimi. Namun ia bertahan. Ia menjaga integritas dirinya dengan kekuatan yang sunyi, tanpa panggung, tanpa retorika. Dalam dunia yang sering bising oleh pengakuan dan validasi, Maryam justru hadir sebagai sosok yang diam, tapi kokoh.

Di sinilah letak keunikan perspektif Islam yang sering terabaikan: perempuan tidak hanya dijadikan teladan bagi perempuan, tetapi bagi seluruh manusia. Ini bukan sekadar afirmasi kesetaraan, melainkan redefinisi tentang siapa yang layak menjadi model kehidupan.

Bandingkan dengan kecenderungan dalam peradaban modern. Ketika laki-laki dianggap sebagai “standar utama”, perempuan didorong untuk menyesuaikan diri dengan parameter maskulin: produktivitas tanpa jeda, kompetisi tanpa empati, dan keberhasilan yang diukur dari dominasi. Akibatnya, banyak perempuan merasa harus meninggalkan identitas alaminya demi diakui.

Padahal, Al-Qur’an justru melakukan kebalikan: ia mengangkat perempuan sebagai pusat keteladanan. Bukan karena jenis kelaminnya, tetapi karena kualitas kemanusiaannya, keberanian, kesucian, keteguhan, dan integritas.

Maka pertanyaannya bergeser: bukan lagi bagaimana perempuan bisa menyamai laki-laki, tetapi bagaimana manusia baik laki-laki maupun perempuan bisa belajar dari keteladanan perempuan.

Dalam konteks hari ini, pesan ini terasa semakin relevan. Dunia modern menghadapi krisis keteladanan. Banyak figur publik tampil gemilang di permukaan, tetapi rapuh di dalam. Di tengah kondisi itu, kisah istri Fir’aun dan Maryam menawarkan alternatif: keteladanan yang tidak bergantung pada panggung, tetapi pada prinsip.

Baca Juga  Krisis Perempuan yang Disembunyikan: Antara Eksploitasi Barat dan Kehilangan Makna Keluarga

Mereka tidak berkuasa, tetapi berpengaruh. Mereka tidak dominan, tetapi menentukan arah sejarah. Mereka tidak mencari pengakuan, tetapi diabadikan oleh wahyu.

Barangkali di sinilah letak refleksi yang perlu kita tarik. Bahwa ukuran keberhasilan tidak selalu identik dengan apa yang terlihat di luar. Bahwa kekuatan sejati sering lahir dari keteguhan yang sunyi. Dan bahwa dalam banyak hal, perempuan yang selama ini kerap ditempatkan di pinggiran njustru menyimpan pusat gravitasi moral bagi kemanusiaan.

Al-Qur’an telah menegaskannya sejak awal: teladan tidak mengenal jenis kelamin. Dan dalam banyak kisahnya, justru perempuanlah yang berdiri di garis depan menjadi cermin bagi siapa saja yang ingin memahami arti iman, keberanian, dan kemanusiaan itu sendiri.

Baca Juga:

Perempuan dalam Islam: Kesetaraan, Martabat, dan Batas yang Disalahpahami

Krisis Perempuan yang Disembunyikan: Antara Eksploitasi Barat dan Kehilangan Makna Keluarga

Tugas Media dalam Mempromosikan Pandangan Islam Tentang Perempuan

 

Bagikan:
Terkait
Komentar