Tidak Zalim Bahkan pada Musuh: Standar Tinggi yang Dilupakan Banyak Orang

Penjelasan Singkat Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Tentang Sebuah Hadis

عَن اَبی عَبدِ اللهِ عَلَیهِ السَّلام قالَ: یَنبَغی لِلمُؤمِنِ اَن یَکونَ فیهِ ثَمانُ خِصالٍ وَقورٌ عِندَ الهَزاهِزِ صَبورٌ عِندَ البَلاءِ شَکورٌ عِندَ الرَّخاءِ قانِعٌ بِما رَزَقَهُ اللهُ لا یَظلِمُ الاَعداءَ وَ لا یَتَحامَلُ لِلاَصدِقاءِ بَدَنُهُ مِنهُ فی تَعَبٍ وَ النّاسُ مِنهُ فی راحَة.

Dari Abu ‘Abdillah (Imam Ja‘far al-Shadiq) ‘alaihissalam, beliau bersabda:
“Sepatutnya seorang mukmin memiliki delapan sifat: bersikap tenang saat guncangan, sabar saat tertimpa bala, bersyukur saat lapang, merasa cukup dengan apa yang Allah rezekikan kepadanya, tidak menzalimi musuh, tidak bersikap berat sebelah demi kawan, tubuhnya berada dalam kepayahan (demi kebaikan), dan manusia merasa nyaman darinya.”

Sepatutnya seorang mukmin memiliki delapan sifat:

“ bersikap tenang saat guncangan”
Dalam sebagian versi disebut “عِندَ الهَزائِز”, namun tidak ada perbedaan makna; yang dimaksud adalah peristiwa-peristiwa sulit dan mengguncang. Bersikap tenang dalam kondisi ini berarti tidak goyah, tidak kehilangan kendali, mampu menjaga ketenangan, dan tidak larut dalam kepanikan. Misalnya ketika seseorang mengalami sakit, gempa bumi, perang, atau kemiskinan—semua itu adalah guncangan hidup. Ada orang yang begitu mendengar isu gempa atau ketakutan akan perang, atau bahkan hanya karena satu ucapan orang lain, langsung kehilangan kendali dan runtuh. Imam Shadiq ‘alaihissalam menegaskan bahwa mukmin tidak boleh seperti itu; ia harus tetap teguh dan menjaga dirinya.

“Sabar saat bala” 

(صَبورٌ عِندَ البَلاء)
Ini adalah hal lain lagi. Ketika musibah benar-benar terjadi, ia harus bersabar. Sabar di sini bermakna sebagaimana telah sering dijelaskan: tidak menghentikan jalan yang telah dimulai, tetap istiqamah. Misalnya seseorang yang sedang dalam perjalanan dari satu kota ke kota lain, lalu di tengah jalan menghadapi rintangan. Jika ia kembali, itu tanda tidak sabar. Tetapi jika ia tetap melanjutkan dengan mencari cara mengatasi hambatan, itulah makna sabar.

Baca Juga  Ketika Harta Telah Anda Tumpuk, Di Manakah Keislaman Itu Bersembunyi?

“Bersyukur saat lapang”

 (شَكورٌ عِندَ الرَّخاء)
Ketika kemudahan, kenyamanan, dan kelapangan datang, seseorang tidak boleh melampaui batas, tetapi harus bersyukur. Ia harus sadar bahwa itu adalah nikmat dari Tuhan, dan tidak melupakan syukur kepada-Nya. Ini perkara penting. Lawannya adalah penyakit berbahaya: ketika sedikit saja seseorang memiliki uang, mendapat perhatian orang lain, atau sembuh dari penyakit, ia tiba-tiba menjadi sombong.

Al-Qur’an menyebut:
أَن رَآهُ اسْتَغْنَىٰ
“Karena ia melihat dirinya merasa cukup (tidak butuh).”

Yakni ketika manusia merasa tidak lagi memiliki masalah, tiba-tiba ia menjadi tinggi hati, menganggap semua dari dirinya, dan melupakan Tuhan. Ini adalah penyakit yang harus dihindari dengan sikap syukur.

“Merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan”

 (قانِعٌ بِما رَزَقَهُ الله)
Setelah melakukan berbagai usaha yang semestinya, seseorang harus merasa cukup dengan hasil yang ia peroleh. Ia tidak berkata: mengapa tidak lebih, mengapa tidak lebih baik. Bukan berarti tidak berusaha—ia tetap harus berusaha—tetapi setelah usaha itu mencapai hasil tertentu dalam kehidupan, baik dalam harta, kedudukan, atau tanggung jawab, ia harus merasa cukup dan tidak serakah.

“Tidak menzalimi musuh”

 (لا یَظلِمُ الاَعداء)
Seorang mukmin bahkan tidak menzalimi musuhnya. Apalagi terhadap teman atau sesama mukmin. Ada orang yang mengira jika seseorang adalah musuh, maka boleh menzaliminya, memfitnahnya, menggunjingnya, merampas hartanya, atau menyakitinya. Alasannya: karena ia musuh. Tidak demikian. Musuh pun tidak boleh dizalimi. Jika ia melakukan kejahatan, maka hukuman diberikan sesuai kadarnya dan oleh pihak yang berwenang. Tetapi hanya karena ia musuh, tidak dibenarkan mencaci, memfitnah, berdusta, atau merampas haknya.

“Tidak bersikap berat sebelah demi teman”

 (وَ لا یَتَحامَلُ لِلاَصدِقاء)
Seorang mukmin tidak bersikap tidak adil demi teman-temannya. Dalam penjelasan disebutkan: tidak menzalimi orang lain demi menyenangkan teman. Artinya, ia tidak melakukan keberpihakan yang berlebihan hanya karena hubungan pertemanan—seperti membela tanpa kebenaran atau menyerang orang lain demi kelompoknya. Bisa juga dimaknai bahwa ia tidak membebani teman-temannya secara berlebihan.

Baca Juga  Gencatan senjata menyeluruh di Lebanon membuktikan keterkaitan front perlawanan dan kemampuannya dalam memaksakan syarat-syaratnya.

“Tubuhnya dalam kepayahan dan manusia merasa nyaman darinya”

 (بَدَنُهُ مِنهُ فی تَعَبٍ وَ النّاسُ مِنهُ فی راحَة)
Dua sifat ini saling berkaitan. Maksudnya, ia rela menanggung kesulitan demi kenyamanan orang lain. Misalnya dalam sebuah perjalanan, seseorang tidur dan mendengkur sehingga mengganggu orang lain. Ada dua pilihan: membangunkannya dengan kasar atau menahan diri dan mencari cara lain agar tetap bisa beristirahat. Sikap kedua inilah yang dimaksud: ia menanggung sedikit kesulitan agar orang lain tetap nyaman. Artinya, ketika harus memilih antara kenyamanan diri dan orang lain, ia lebih mengutamakan kenyamanan orang lain.

 

 

Bagikan:
Terkait
Komentar