Mengapa Cinta kepada Ahlul Bait Harus Terus Dihidupkan? Makna Mawaddah, Asyura, dan Kekuatan Ikatan Emosional dalam Islam

KHAMENEI.ID – Di tengah dunia modern yang semakin rasional dan serba cepat, ada satu pertanyaan yang sesekali muncul: mengapa umat Islam, khususnya para pecinta Ahlulbayt, terus mengenang tragedi Karbala? Mengapa majelis-majelis duka, lantunan syair, tangisan, dan peringatan Asyura tetap dipelihara dari generasi ke generasi?

Sebagian orang memandangnya sebagai tradisi emosional yang berlebihan. Sebagian lainnya menganggapnya bagian dari sejarah yang semestinya cukup dibaca dalam buku. Namun dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs, persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar mengenang masa lalu. Yang dipertaruhkan bukan hanya ingatan sejarah, melainkan keberlangsungan hubungan spiritual umat dengan keluarga Rasulullah saw.

Di sinilah konsep mawaddah atau cinta kepada Ahlul Bait menemukan maknanya yang sesungguhnya.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’” (QS. Asy-Syura: 23)

Ayat ini sering dibaca dan dikutip. Namun pertanyaan pentingnya adalah: mengapa setelah berbicara tentang kepemimpinan, petunjuk, dan ketaatan kepada Ahlul Bait, Al-Qur’an masih menekankan persoalan cinta?

Bukankah cukup dengan mengakui kedudukan mereka? Bukankah cukup dengan mengikuti ajaran mereka?

Menurut Imam Ali Khamenei, cinta memiliki fungsi yang lebih mendasar. Mawaddah adalah fondasi yang menjaga agar hubungan umat dengan para pemimpin ilahi tidak berubah menjadi hubungan formal yang kering dan mudah dilupakan.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak kebenaran tidak hilang karena dibantah, melainkan karena perlahan-lahan dilupakan. Ketika hubungan emosional memudar, penghormatan melemah. Ketika penghormatan melemah, ketaatan berangsur hilang. Dan ketika ketaatan hilang, nilai-nilai yang mereka perjuangkan pun perlahan terkubur.

Karena itu, mawaddah bukan sekadar perasaan. Ia adalah benteng peradaban.

Baca Juga  Ali bin Abi Thalib: Titik Temu yang Terlupakan dalam Persatuan Umat Islam

Ketika Air Mata Menjadi Jembatan Sejarah

Dalam kerangka inilah tradisi mengenang musibah Ahlulbayt memperoleh maknanya.

Menceritakan penderitaan Imam Husain as, mengenang pengorbanan Sayidah Zainab as, atau mengisahkan kesetiaan para syuhada Karbala bukan semata-mata upaya membangkitkan kesedihan. Semua itu adalah cara menjaga hubungan emosional dengan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.

Tangisan dalam majelis Asyura bukanlah tangisan kekalahan. Ia adalah ekspresi kesetiaan.

Ketika seseorang menangis mendengar kisah bayi Ali Asghar yang gugur di Karbala, atau mendengar pidato Sayidah Zainab di hadapan tirani, yang sebenarnya sedang hidup bukan hanya emosi. Yang hidup adalah rasa keberpihakan kepada keadilan, keberanian, dan pengorbanan.

Begitu pula ketika kaum Muslimin berkumpul dalam majelis-majelis duka, mengibarkan panji, melantunkan syair, atau melakukan prosesi penghormatan yang lazim dan bermartabat. Semua itu berfungsi memperkuat ikatan hati dengan keluarga Rasulullah saw.

Menurut Imam Ali Khamenei, hubungan emosional semacam ini justru harus terus dipelihara. Sebab ia menjadi sarana yang membuat pesan Ahlulbayt tetap hidup dalam jiwa masyarakat.

Karena itu, beliau mengkritik pandangan yang menganggap tradisi peringatan Asyura sudah tidak relevan. Dalam pandangannya, selama manusia masih membutuhkan teladan keberanian, keadilan, dan pengorbanan, selama itu pula peringatan Karbala tetap memiliki makna.

Antara Kecintaan dan Kebijaksanaan

Namun kecintaan juga membutuhkan kebijaksanaan.

Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa tidak semua bentuk ekspresi harus dipertahankan. Praktik-praktik yang merusak citra Islam atau memberi peluang bagi musuh untuk menyerang ajaran Ahlulbayt tidak boleh dijadikan bagian dari dakwah.

Karena itu beliau secara tegas menolak praktik seperti qamah-zani (melukai kepala dengan pedang), yang menurutnya lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat.

Yang perlu dipertahankan adalah esensi cinta, bukan bentuk-bentuk yang justru mengaburkan pesan utama.

Baca Juga  Satu Malam Kesadaran yang Jujur Kadang Lebih Kuat Daripada Seribu Tahun Tanpa Arah

Esensi itu terletak pada penguatan hubungan hati dengan keluarga Nabi, pada penanaman nilai-nilai Karbala, dan pada penghidupan kembali semangat pengorbanan demi kebenaran.

Cinta yang Menjaga Arah

Pada akhirnya, mawaddah kepada Ahlulbayt bukanlah persoalan sentimentalitas semata. Ia adalah mekanisme spiritual yang menjaga arah perjalanan umat.

Cinta membuat manusia bertahan ketika logika mulai lelah. Cinta membuat nilai-nilai tetap hidup ketika sejarah mulai terlupakan. Dan cinta pula yang membuat generasi demi generasi tetap merasa dekat dengan Rasulullah saw dan keluarganya, meskipun dipisahkan oleh berabad-abad waktu.

Mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan untuk mengenal keluarga Nabi, tetapi juga mencintai mereka.

Sebab pengetahuan dapat melahirkan pemahaman, tetapi cinta melahirkan kesetiaan.

Dan dalam perjalanan panjang sejarah Islam, sering kali kesetiaan itulah yang menjaga kebenaran tetap menyala di tengah perubahan zaman.

Bagikan:
Terkait
Komentar