“Orang-Orang yang Tergelincir dari Jalan Lurus Sebelum Sampai ke Akhirat” 

KHAMENEI.ID— Ada ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang dari sejarah manusia: takut jatuh ketika sedang meniti sesuatu yang sempit. Di zaman modern, manusia mungkin tidak lagi berjalan di atas jembatan kayu rapuh di atas jurang, tetapi setiap hari sebenarnya ia sedang meniti sesuatu yang jauh lebih berbahaya: jalan hidupnya sendiri.

Dalam tradisi Islam, jalan itu disebut shirath jembatan penentu nasib manusia. Banyak orang membayangkannya hanya sebagai titian di akhirat, terbentang di atas neraka, tajam dan menegangkan. Padahal, sebagaimana dijelaskan dalam renungan mendalam Imam Zainal Abidin a.s, shirath itu sesungguhnya sudah dimulai sejak manusia hidup di dunia.

Karena itu, kegagalan terbesar manusia bukanlah jatuh di akhirat nanti. Kejatuhan itu sesungguhnya sudah terjadi jauh sebelumnya saat ia tergelincir oleh kekuasaan, harta, ego, dan hawa nafsunya sendiri.

Dalam doa Abu Hamzah yang terkenal mengguncang batin para pencari Tuhan, Imam Sajjad a.s melukiskan ketakutan manusia pada hari kiamat dengan sangat manusiawi dan getir:

أَبْكِي لِخُرُوجِي مِنْ قَبْرِي عُرْيَانًا ذَلِيلًا حَامِلًا ثِقْلِي عَلَى ظَهْرِي

“Aku menangis membayangkan keluar dari kubur dalam keadaan telanjang, hina, dan memikul beban amal di punggungku.”

Lalu beliau menggambarkan suasana hari itu ketika manusia melihat ke kanan dan kiri, tetapi semua orang sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada solidaritas sosial. Tidak ada pengaruh jabatan. Tidak ada privilese. Yang tersisa hanya diri manusia dan seluruh konsekuensi hidup yang pernah ia pilih.

Di tengah suasana itu, Al-Qur’an menggambarkan dua jenis wajah manusia. Ada wajah yang “berseri-seri, tertawa, dan penuh kegembiraan.” Tetapi ada pula wajah yang tertutup debu kehinaan dan kesedihan. Perbedaan keduanya ternyata bukan semata-mata karena banyak atau sedikitnya ritual ibadah, melainkan karena bagaimana mereka meniti “jalan lurus” selama hidup di dunia.

Baca Juga  Di Hadapan Tuhan Ia Bersujud, di Hadapan Kezaliman Ia Berdiri Tegak

Al-Qur’an menyebut:

وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus” (QS. Yasin: 61)

Ayat ini sering dibaca sebagai ajakan spiritual biasa. Padahal maknanya jauh lebih radikal. Jalan lurus bukan sekadar identitas keagamaan, tetapi cara hidup yang menuntut ketelitian moral setiap hari. Menahan diri ketika punya kesempatan berbuat curang. Tetap jujur ketika semua orang sedang bermain manipulasi. Tidak menggunakan kekuasaan untuk keuntungan pribadi. Tidak menggadaikan nurani demi kelompok atau relasi.

Dengan kata lain, shirath di akhirat adalah pantulan dari shirath di dunia.

Imam Sajjad a.s menjelaskan bahwa orang-orang beriman dapat melewati shirath di akhirat “secepat kilat” karena sesungguhnya mereka sudah belajar meniti jalan itu sejak hidup. Mereka sudah terbiasa menjaga keseimbangan batin di tengah godaan dunia yang licin.

Sebaliknya, orang yang sepanjang hidup terbiasa tergelincir oleh keserakahan, sangat mungkin jatuh ketika seluruh topeng dunia dicabut darinya.

Hari ini manusia hidup dalam budaya yang menganggap kelicikan sebagai kecerdasan. Orang dipuji karena berhasil memperkaya diri, meskipun caranya manipulatif. Jabatan sering dipahami bukan sebagai amanah, melainkan akses menuju fasilitas dan keuntungan.

Kita hidup di era ketika korupsi tidak selalu tampak sebagai pencurian besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: nepotisme, permainan proyek, loyalitas kelompok, penyalahgunaan jabatan, atau keputusan yang dibuat demi kepentingan jaringan sendiri.

Dan menariknya, hal ini seolah menjadi peringatan paling keras kepada orang-orang yang memiliki tanggung jawab sosial.

Pesannya sangat tajam: semakin besar kekuasaan seseorang, semakin berat shirath yang harus ia lintasi.

Karena dosa seorang pejabat tidak berhenti pada dirinya sendiri. Kesalahan seorang pemimpin bisa merusak kehidupan ribuan orang. Kelalaian seorang pengambil keputusan bisa menghancurkan masa depan masyarakat luas. Itulah sebabnya orang-orang yang memegang amanah publik harus lebih takut kepada neraka dibanding orang biasa.

Baca Juga  Jihad Tabyin: Saat Para Intelektual Wajib Bicara

Sebab mereka tidak hanya membawa dirinya sendiri, tetapi juga membawa nasib banyak manusia di pundaknya.

Di tengah budaya politik modern yang penuh pencitraan, peringatan ini terdengar nyaris asing. Betapa jarang kekuasaan dibicarakan sebagai beban spiritual. Padahal dalam pandangan agama, kursi jabatan bukan tanda kemuliaan otomatis. Ia justru bisa menjadi jalan tercepat menuju kehancuran moral bila tidak dijaga dengan takwa.

Karena itu beberapa tahun jabatan sebenarnya sangat singkat. Tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun, semuanya akan lewat. Maka mengapa manusia rela mempertaruhkan keabadian hanya demi keuntungan sementara?

Mengapa seseorang tega merusak integritasnya demi proyek, rente, atau uang yang bahkan tidak bisa ikut dibawa mati?

Padahal Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang-orang bertakwa dengan sangat menenangkan:

لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ

Kengerian terbesar itu tidak membuat mereka bersedih” (QS. Al- Anbya`: 103)

Bayangkan sebuah keadaan ketika seluruh manusia dicekam ketakutan besar, tetapi ada sebagian orang yang justru tenang. Bukan karena mereka sempurna, melainkan karena mereka pernah berjuang menjaga dirinya ketika hidup di dunia.

Mereka pernah menolak suap ketika punya kesempatan menerimanya.

Mereka pernah memilih jujur meski merugikan dirinya sendiri.

Mereka pernah menahan hawa nafsu ketika dunia membukakan semua peluang untuk menyimpang.

Dan mungkin di situlah inti paling dalam dari ketakwaan: bukan menjadi manusia tanpa dosa, tetapi manusia yang terus berhati-hati ketika berjalan di atas jembatan kehidupan yang licin.

Sebab shirath ternyata bukan hanya sesuatu yang akan kita temui setelah mati.

Ia sedang kita lintasi hari ini.

Bagikan:
Terkait
Komentar