Mengapa Imam Khamenei Menekankan Membaca Al-Qur’an Setiap Hari? Bukan Sekadar Tilawah, tetapi Jalan Menuju Rahmat Alla

KHAMENEI.ID – Di tengah kesibukan yang seolah tidak pernah selesai, banyak orang masih sempat membuka media sosial berkali-kali dalam sehari. Berita terbaru dibaca, pesan dibalas, video ditonton, dan informasi terus mengalir tanpa henti. Namun ada satu “bacaan” yang justru sering tertinggal: Al-Qur’an.

Ironisnya, banyak Muslim meyakini Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, tetapi berhari-hari bahkan berminggu-minggu tidak pernah membukanya. Kitab suci tetap tersimpan rapi di rak, dihormati, tetapi jarang diajak berdialog.

Menurut Imam Khamenei, keadaan seperti ini seharusnya menjadi perhatian serius. Membaca dan mendengarkan Al-Qur’an bukanlah ibadah tambahan yang dilakukan ketika ada waktu luang. Ia merupakan bagian dari konsekuensi keimanan kepada wahyu.

Membaca Al-Qur’an Adalah Bukti Keimanan

Imam Khamenei mengingatkan bahwa hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an bukan hubungan yang bersifat seremonial. Al-Qur’an sendiri menghubungkan keimanan dengan interaksi yang terus-menerus terhadap wahyu.

Beliau mengutip firman Allah:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya; merekalah yang benar-benar beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah: 121)

Bagi Imam Khamenei, ayat ini menunjukkan bahwa tilawah bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan salah satu wujud nyata dari keimanan kepada Al-Qur’an. Sulit membayangkan seseorang mengaku menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, tetapi hampir tidak pernah berinteraksi dengannya.

Karena itu beliau selalu mendorong berbagai kalangan—para pejabat, ulama, pemuda, maupun masyarakat umum—agar memiliki kebiasaan membaca Al-Qur’an setiap hari.

Sedikit Tidak Masalah, Asal Jangan Pernah Putus

Yang menarik, Imam Khamenei tidak menuntut setiap orang membaca dalam jumlah yang berat.

Beliau tidak mengatakan bahwa setiap Muslim harus menyelesaikan setengah juz atau satu juz setiap hari. Justru yang beliau tekankan adalah kontinuitas.

Baca Juga  Membumikan Al-Qur'an: Ketika Tilawah Harus Menjelma Menjadi Cara Hidup

Satu halaman setiap hari sudah baik. Bahkan setengah halaman pun tidak menjadi masalah.

Yang paling penting, kata beliau, jangan sampai ada satu hari pun berlalu tanpa membuka Al-Qur’an.

Pesan ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an dibangun melalui kedekatan yang konsisten, bukan melalui semangat sesaat yang kemudian menghilang. Seperti halnya seseorang menjaga hubungan dengan sahabat dekat melalui komunikasi yang rutin, demikian pula seorang mukmin menjaga hubungannya dengan wahyu melalui tilawah yang tidak terputus.

Mendengarkan Al-Qur’an Juga Ibadah

Imam Khamenei juga mengingatkan bahwa manfaat Al-Qur’an tidak hanya diperoleh dengan membacanya sendiri. Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan penuh perhatian juga memiliki kedudukan yang sangat penting.

Allah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu memperoleh rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204)

Menurut Imam Khamenei, ayat ini menunjukkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an bukan aktivitas hiburan atau sekadar memperindah suasana. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan jalan yang membuka pintu rahmat Allah.

Karena itu, ketika Al-Qur’an dibacakan, yang dituntut bukan sekadar mendengar suara yang merdu, tetapi menghadirkan hati agar ayat-ayat Allah benar-benar masuk ke dalam jiwa.

Tilawah Harus Melahirkan Tadabbur

Namun Imam Khamenei juga mengingatkan bahwa tujuan akhir membaca Al-Qur’an bukanlah memperbanyak jumlah halaman yang selesai dibaca.

Al-Qur’an sendiri bertanya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa’: 82)

Pertanyaan itu mengandung pesan bahwa tilawah seharusnya mengantar seseorang kepada tadabbur—merenungkan makna, memahami pesan, lalu menjadikannya sebagai petunjuk dalam kehidupan.

Menurut beliau, membaca tanpa merenungkan maknanya tentu tetap memiliki nilai ibadah. Akan tetapi, manfaat terbesar Al-Qur’an baru akan dirasakan ketika bacaan itu mengubah cara berpikir, cara memandang kehidupan, dan akhirnya mengubah perilaku seseorang.

Baca Juga  Al-Qur'an Bukan Sekadar Kitab Ibadah: Mengapa Imam Ali Khamenei Menyebutnya Cetak Biru Peradaban?

Tantangan Muslim Non-Arab

Imam Khamenei menyadari bahwa ada tantangan besar yang dihadapi mayoritas umat Islam, khususnya bangsa-bangsa non-Arab, yaitu keterbatasan dalam memahami bahasa Al-Qur’an.

Beliau mencontohkan bahwa masyarakat Arab umumnya dapat langsung memahami makna lahiriah ayat-ayat yang dibacakan di masjid. Ketika seorang qari membaca Al-Qur’an sebelum salat, mereka menangkap pesan dasarnya secara langsung.

Berbeda dengan banyak Muslim di negara-negara non-Arab yang sering kali hanya mendengar lantunan ayat tanpa memahami isi pesannya.

Meski demikian, Imam Khamenei mengingatkan bahwa Al-Qur’an memiliki dua lapisan makna. Beliau mengutip ungkapan yang masyhur:

ظَاهِرُهُ أَنِيقٌ وَبَاطِنُهُ عَمِيقٌ

“Lahirnya indah, sedangkan kedalamannya sangat luas.”

Makna-makna yang mendalam memang memerlukan tafsir dan penjelasan para ulama. Akan tetapi, makna lahiriahnya tetap dapat dipahami oleh setiap Muslim jika berusaha mempelajarinya.

Karena itu, menurut Imam Khamenei, umat Islam perlu semakin akrab dengan bahasa dan makna Al-Qur’an. Terjemahan, tafsir, dan kajian Al-Qur’an menjadi sarana penting agar hubungan dengan kitab suci tidak berhenti pada suara, tetapi sampai kepada pemahaman.

Membuka Al-Qur’an, Membuka Jalan Rahmat

Di tengah dunia yang dipenuhi berbagai suara, Al-Qur’an tetap menjadi suara yang paling layak didengar setiap hari.

Imam Khamenei mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan latihan harian untuk menjaga hati tetap hidup. Tilawah yang dilakukan secara konsisten, disertai usaha memahami maknanya, akan membangun hubungan yang semakin dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Mungkin karena itulah beliau tidak memulai nasihatnya dengan target yang besar. Beliau hanya mengingatkan satu kebiasaan sederhana: jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa membuka Al-Qur’an.

Sebab bisa jadi, satu halaman yang dibaca dengan hati yang hadir lebih mampu mengubah hidup seseorang daripada berlembar-lembar bacaan yang hanya lewat di bibir.

Baca Juga  Kekuatan Militer dan Keamanan Nasional: Mengapa Benteng Sebuah Bangsa Bukan Selalu Tentang Perang
Bagikan:
Terkait
Komentar