Ketika Bersandar kepada Kekuatan Dunia Berujung Kehinaan

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang berulang dalam sejarah manusia: ketika seseorang menggantungkan nasibnya kepada kekuatan yang tampak besar, justru di saat paling genting ia ditinggalkan sendirian. Kekuasaan yang semula dipuja berubah menjadi pintu yang tertutup rapat. Persahabatan yang tampak kokoh ternyata hanya berlangsung selama kepentingan masih berjalan searah.

Fenomena itu bukan hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada bangsa dan peradaban. Banyak penguasa mengira bahwa kedekatan dengan kekuatan besar akan menjadi jaminan keselamatan. Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa hubungan yang dibangun di atas kepentingan tidak mengenal kesetiaan. Ketika manfaat telah habis, yang tersisa hanyalah kesendirian.

Dalam berbagai pergolakan politik dunia, kita menyaksikan tokoh-tokoh yang selama bertahun-tahun menjadi sekutu kekuatan adidaya, tetapi akhirnya harus menghadapi nasib pahit. Saat mereka kehilangan pengaruh dan tidak lagi berguna, pintu-pintu yang dahulu terbuka lebar mendadak tertutup. Dukungan yang selama ini dibanggakan menguap tanpa jejak.

Di titik ini, persoalannya bukan sekadar tentang hubungan antarnegara. Ada pelajaran yang lebih dalam mengenai sifat ketergantungan manusia. Ketika seseorang menjadikan kekuatan selain Tuhan sebagai sandaran utama, ia sedang menempatkan dirinya pada fondasi yang rapuh. Apa yang terlihat kokoh di mata manusia sering kali ternyata sangat sementara.

Gagasan ini menemukan gema yang kuat dalam salah satu doa yang termaktub dalam Shahifah Sajjadiyah, kumpulan munajat yang diwariskan oleh Imam Zainal Abidin a.s. Di dalamnya terdapat sebuah pengakuan yang sangat manusiawi:

اللَّهُمَّ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ شَمِتَ بِنَا إِذْ شَايَعْنَاهُ عَلَى مَعْصِيَتِكَ، فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ، وَلَا تُشْمِتْهُ بِنَا بَعْدَ تَرْكِنَا إِيَّاهُ لَكَ، وَرَغْبَتِنَا عَنْهُ إِلَيْكَ

“Ya Allah, sesungguhnya setan telah mengejek kami ketika kami mengikutinya dalam kemaksiatan kepada-Mu. Maka limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan janganlah Engkau biarkan setan bergembira atas kami setelah kami meninggalkannya demi menaati-Mu dan kembali kepada-Mu”

Baca Juga  Nikmat yang Diam-Diam Dicabut: Refleksi tentang Umat yang Berbalik Arah 

Doa ini menghadirkan gambaran yang sangat tajam. Setan mengajak manusia melangkah ke jalan yang salah. Namun setelah manusia terjerumus, ia tidak menolong, tidak membela, bahkan menertawakannya. Ia menjadi penyebab kejatuhan sekaligus penonton yang menikmati kehancuran korbannya.

Betapa akrab gambaran itu dengan banyak pengalaman hidup. Tidak sedikit orang yang terdorong melakukan kesalahan karena rayuan lingkungan, tekanan kekuasaan, atau iming-iming keuntungan. Ketika akibatnya datang, mereka harus menanggung semuanya sendirian. Pihak yang dahulu mendorong justru menghilang atau berpura-pura tidak mengenal.

Dalam konteks yang lebih luas, doa tersebut tidak hanya berbicara tentang setan sebagai makhluk gaib. Ia juga mengingatkan manusia agar waspada terhadap segala bentuk godaan yang menjanjikan kekuatan instan tetapi berujung pada kehilangan martabat. Apa pun yang membuat manusia menjauh dari nilai dan kebenaran pada akhirnya akan memperlakukannya seperti setan memperlakukan para pengikutnya: digunakan lalu ditinggalkan.

Karena itu, inti persoalan sebenarnya bukanlah siapa yang paling kuat, melainkan kepada siapa hati bersandar. Ketergantungan yang berlebihan kepada kekuatan dunia sering melahirkan kehinaan. Semakin seseorang menggantungkan harga dirinya kepada manusia lain, semakin besar kemungkinan ia mengalami kekecewaan.

Sebaliknya, doa Imam Zainal Abidin a.s mengajarkan arah yang berbeda. Di awal munajat itu, manusia diajak mengakui kemiskinan eksistensialnya di hadapan Tuhan. Semua yang dimiliki sesungguhnya rapuh. Keselamatan bukan lahir dari kecerdikan politik, kekayaan, jabatan, ataupun jaringan kekuasaan. Keselamatan lahir dari rahmat Tuhan yang tidak pernah terikat oleh transaksi kepentingan.

Pengakuan semacam ini bukan tanda kelemahan. Justru di situlah letak kemerdekaan sejati. Orang yang hanya bergantung kepada Tuhan tidak mudah diperbudak oleh ancaman ataupun iming-iming. Ia dapat menjalin hubungan dengan siapa saja tanpa kehilangan harga diri, karena sandaran utamanya tidak berada di tangan manusia.

Baca Juga  Tauhid: Benteng Kehidupan yang Menyelamatkan Manusia

Namun jika ditarik lebih jauh, pesan doa ini juga menyentuh kehidupan sehari-hari. Ada banyak “setan” modern yang menawarkan jalan pintas menuju kesuksesan: ambisi tanpa batas, ketenaran yang diburu dengan segala cara, kekayaan yang diperoleh dengan mengorbankan prinsip, atau kekuasaan yang dibangun di atas pengkhianatan. Semuanya tampak menjanjikan pada awal perjalanan. Tetapi ketika akibatnya datang, manusia sering menemukan dirinya sendirian, menanggung beban yang dulu tampak begitu ringan.

Di situlah relevansi munajat ini terasa begitu kuat. Manusia tidak hanya memohon ampunan, tetapi juga memohon agar tidak menjadi bahan ejekan dari jalan-jalan sesat yang pernah diikutinya. Ia meminta kesempatan untuk kembali dengan terhormat. Ia berharap bahwa setelah meninggalkan kesalahan, pintu rahmat tetap terbuka.

Pada akhirnya, sejarah dan doa bertemu pada satu pelajaran yang sama: jangan pernah menyerahkan martabat kepada sesuatu yang tidak memiliki kesetiaan. Kekuatan dunia dapat berubah arah sewaktu-waktu. Kepentingan dapat berganti dalam sekejap. Mereka yang hari ini dipuji bisa menjadi orang pertama yang ditinggalkan esok hari.

Sementara itu, Tuhan menawarkan sesuatu yang berbeda. Ketika manusia kembali setelah jatuh, Dia tidak menertawakan. Ketika manusia mengaku salah, Dia tidak mempermalukan. Dan ketika semua pintu tampak tertutup, selalu ada satu pintu yang tetap terbuka: pintu rahmat-Nya.

Bagikan:
Terkait
Komentar