Mengapa Ulama Selalu Menjadi Sasaran? Membaca Peran Ulama Politik dalam Sejarah Menurut Imam Ali Khamenei

KHAMENEI.ID – Sejarah sering kali dikenang melalui nama-nama raja, presiden, atau panglima perang. Namun, jika menelusuri perjalanan bangsa-bangsa Muslim—khususnya Iran dalam satu setengah abad terakhir—akan tampak pola yang berulang. Di balik setiap gerakan besar yang berhasil menggerakkan rakyat, hampir selalu berdiri seorang ulama yang bukan hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memahami realitas sosial dan politik.

Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengajak melihat sejarah dari sudut pandang yang berbeda. Menurut beliau, kebangkitan masyarakat bukan sekadar lahir dari kemarahan rakyat atau krisis politik, melainkan dari hadirnya figur ulama yang berani, memahami zaman, dan mampu menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam gerakan sosial.

Pandangan ini sekaligus menjelaskan mengapa, sepanjang sejarah modern, para ulama yang aktif dalam ruang publik sering menjadi sasaran tekanan, fitnah, bahkan permusuhan.

Ketika Agama Menjadi Energi Perubahan

Imam Ali Khamenei mengamati bahwa hampir semua peristiwa penting dalam sejarah Iran selama sekitar 150 tahun terakhir memiliki satu benang merah: kehadiran seorang marja’ atau ulama yang berani mengambil tanggung jawab.

Dalam Gerakan Tembakau pada akhir abad ke-19, misalnya, nama besar Mirza Hasan Shirazi menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi asing. Fatwa singkat yang beliau keluarkan mampu menghentikan monopoli ekonomi yang diberikan kepada perusahaan asing, sekaligus memperlihatkan betapa kuatnya kepercayaan rakyat kepada ulama.

Hal serupa terlihat pada Revolusi Konstitusional (Masyrutah). Di sana, para marja’ di Najaf, bersama ulama besar di Teheran, Tabriz, Isfahan, dan kota-kota lain, memainkan peran penting dalam menggerakkan kesadaran publik. Gerakan itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari keberanian para ulama yang membaca ketidakadilan politik dan berusaha memberi arah bagi rakyat.

Baca Juga  Jihad di Jalan Allah: Pintu Surga yang Dibuka untuk Para Pejuang

Begitu pula dalam peristiwa penting di Masjid Goharshad. Nama Haji Agha Hossein Qomi dan para ulama Mashhad tercatat sebagai bagian dari gelombang perlawanan terhadap kebijakan yang menekan identitas keagamaan masyarakat. Di sini, agama tidak hadir sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai kekuatan yang menolak penindasan.

Lalu pada 30 Tir, sejarah kembali memperlihatkan pola yang sama. Ayatollah Kashani menjadi salah satu tokoh yang menggerakkan rakyat dalam menghadapi krisis politik saat itu. Dan pada 15 Khordad 1342, Imam Khomeini bersama sejumlah ulama besar lainnya tampil sebagai pusat perlawanan terhadap rezim yang dianggap telah melampaui batas.

Bagi Imam Ali Khamenei, rangkaian peristiwa itu bukan kebetulan. Ia adalah bukti bahwa ketika ulama hadir sebagai pemimpin yang berani, sadar politik, dan berpihak kepada rakyat, maka agama berubah menjadi energi perubahan yang nyata.

Mengapa Ulama Politik Ditakuti?

Dari sini, pertanyaan berikutnya menjadi penting: mengapa kekuatan-kekuatan besar dunia begitu sering memusuhi ulama yang aktif secara politik?

Jawaban Imam Ali Khamenei tegas: karena kehadiran mereka bersifat anti-penindasan dan anti-kolonial. Ulama yang memahami politik tidak hanya berbicara tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang keadilan sosial, kemerdekaan bangsa, dan martabat umat. Mereka tidak mudah diarahkan oleh kepentingan asing, dan justru karena itulah mereka dianggap berbahaya.

Dalam pandangan kekuatan dominan, ulama seperti ini sulit dikendalikan. Mereka tidak bisa dibeli dengan jabatan, tidak mudah dibungkam dengan ancaman, dan tidak gampang dipisahkan dari rakyat. Ketika seorang ulama memiliki legitimasi moral di mata masyarakat, satu fatwa atau satu seruan saja bisa menggerakkan massa dalam skala besar.

Di sinilah letak kekhawatiran para penguasa zalim dan kekuatan imperialis. Mereka memahami bahwa ulama politik bukan sekadar tokoh agama, melainkan pusat kesadaran kolektif. Selama ulama tetap dekat dengan rakyat dan berpihak pada kebenaran, proyek penindasan akan selalu menghadapi hambatan.

Baca Juga  Seorang Muslim harus Memiliki Pemahaman Geopolitik

Bukan Sekadar Tokoh Agama, Melainkan Penjaga Kesadaran

Imam Ali Khamenei menekankan bahwa tidak semua ulama memiliki pengaruh yang sama dalam sejarah. Yang dimaksud adalah ulama yang berani, cerdas membaca zaman, dan memiliki keberanian moral untuk turun ke medan sosial. Mereka bukan hanya ahli fikih dalam ruang sempit, tetapi juga pemimpin yang memahami arah gerak masyarakat.

Karena itu, kehadiran mereka sering menjadi titik awal dari sebuah kebangkitan. Rakyat yang sebelumnya tercerai-berai menemukan arah. Kemarahan yang semula liar berubah menjadi gerakan yang terorganisasi. Dan aspirasi yang semula tersembunyi memperoleh bahasa dan legitimasi.

Dalam pengertian ini, ulama bukan sekadar pengajar hukum-hukum agama. Mereka adalah penjaga kesadaran umat. Mereka menghubungkan nilai-nilai langit dengan kebutuhan bumi. Mereka menjembatani teks suci dengan realitas sejarah.

Ketika Lawan Menyerang, Yang Diserang Sebenarnya Adalah Arah Sejarah

Salah satu poin paling tajam dalam penjelasan Imam Ali Khamenei adalah bahwa permusuhan terhadap ulama politik sesungguhnya bukan hanya permusuhan terhadap individu, melainkan terhadap arah sejarah yang mereka wakili.

Ketika musuh-musuh Islam menyerang ulama politik, yang mereka takuti bukanlah sorban atau mimbar semata. Yang mereka takuti adalah kemampuan ulama untuk membangunkan rakyat, membongkar ketidakadilan, dan mengubah kesadaran menjadi tindakan.

Karena itu, menurut beliau, penolakan terhadap “ulama politik”, “marja’ politik”, “fikih politik”, “agama politik”, dan “Islam politik” bukanlah sikap netral. Itu adalah pernyataan ideologis yang menunjukkan keberpihakan pada pemisahan agama dari kehidupan publik. Padahal, dalam sejarah Islam, agama justru hadir untuk membimbing kehidupan manusia secara menyeluruh.

Dengan kata lain, ketika ada pihak yang bersikeras bahwa agama harus tinggal di masjid dan rumah ibadah, sementara urusan masyarakat diserahkan sepenuhnya kepada kekuatan duniawi, di situlah ruang bagi penindasan terbuka lebar. Imam Ali Khamenei melihat bahwa sejarah telah berkali-kali membuktikan sebaliknya: justru ketika ulama hadir di tengah masyarakat, rakyat memperoleh daya untuk melawan ketidakadilan.

Baca Juga  Imam Khamenei tentang Invasi Modern dan Pentingnya Menjaga Harapan Bangsa

Pelajaran dari Sejarah untuk Hari Ini

Apa yang bisa dipetik dari semua ini?

Pertama, sejarah tidak pernah netral. Ia selalu dibentuk oleh keberanian orang-orang yang mau berdiri di sisi kebenaran. Dalam sejarah Iran modern, ulama yang sadar politik telah memainkan peran itu berulang kali.

Kedua, agama tidak boleh direduksi menjadi urusan pribadi semata. Jika Islam hanya dipahami sebagai ritual individual, maka ia kehilangan daya sosialnya. Padahal, sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah, agama justru mampu menjadi sumber mobilisasi moral dan politik yang sangat kuat.

Ketiga, permusuhan terhadap ulama politik adalah tanda bahwa mereka masih relevan. Selama kekuatan zalim masih merasa terganggu oleh suara ulama, berarti suara itu masih hidup dan masih memiliki daya ubah.

Pada akhirnya, pesan Imam Ali Khamenei sederhana tetapi dalam: umat Islam tidak boleh melupakan peran ulama yang berani, sadar politik, dan berpihak kepada rakyat. Dari Gerakan Tembakau hingga Revolusi Islam, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu dimulai dari keberanian seorang ulama.

Dan mungkin di situlah rahasia mengapa mereka terus menjadi sasaran. Sebab, selama ulama tetap berdiri bersama rakyat, kekuasaan yang zalim tidak akan pernah merasa benar-benar aman.

Bagikan:
Terkait
Komentar