KHAMENEI.ID– Ada saat-saat dalam sejarah ketika kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah pasukan, kelengkapan senjata, atau kekuatan politik. Ia justru lahir dari keyakinan yang begitu kokoh sehingga tak lagi menyisakan ruang bagi keraguan. Dalam Islam, salah satu peristiwa yang menggambarkan hal itu adalah Mubahalah, sebuah momentum ketika kebenaran tidak dibela dengan pedang, melainkan dengan keberanian mempertaruhkan seluruh diri di hadapan Allah.
Peristiwa ini terjadi pada penghujung bulan Dzulhijjah, sebuah rentang waktu yang dipenuhi momen-momen agung dalam sejarah Islam. Di dalamnya terdapat Idul Ghadir, turunnya ayat wilayah, hingga turunnya Surah Al-Insan atau yang dikenal pula sebagai Hal Ata. Semua peristiwa itu seolah saling terhubung oleh satu benang merah: kemuliaan tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari ketulusan dan keberpihakan kepada kebenaran.
Al-Qur’an merekam salah satu penanda penting pada masa itu melalui firman Allah:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya pemimpin dan pelindungmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang mendirikan salat dan menunaikan zakat ketika sedang rukuk” (QS. Al-Ma’idah: 55)
Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang kepemimpinan. Ia menghadirkan gambaran bahwa otoritas sejati lahir dari penghambaan kepada Tuhan dan pengabdian kepada sesama. Kekuasaan yang berakar pada iman tidak membutuhkan pencitraan berlebihan, sebab legitimasi terbesarnya berasal dari integritas.
Di titik inilah makna Mubahalah menjadi semakin dalam. Banyak orang memahaminya hanya sebagai peristiwa saling berdoa agar Allah menimpakan laknat kepada pihak yang berdusta. Padahal, inti Mubahalah jauh melampaui itu. Ia adalah simbol kepercayaan total kepada kebenaran yang diyakini. Seseorang hanya akan berani mengajak kepada Mubahalah apabila ia benar-benar yakin bahwa dirinya berdiri di atas jalan yang diridai Allah.
Keberanian semacam itu tidak mungkin lahir dari propaganda atau emosi sesaat. Ia tumbuh dari keyakinan yang telah ditempa oleh kejujuran, pengorbanan, dan kesediaan menerima konsekuensi apa pun demi mempertahankan prinsip.
Dalam kehidupan modern, pelajaran ini terasa semakin relevan. Dunia sering mengajarkan bahwa keberhasilan ditentukan oleh seberapa kuat seseorang membangun citra, menguasai opini publik, atau memenangkan persaingan. Mubahalah justru mengajarkan arah sebaliknya: orang yang berada di pihak yang benar tidak perlu kehilangan ketenangan hanya karena menghadapi tekanan.
Kepercayaan kepada kebenaran melahirkan keteguhan. Keteguhan melahirkan keberanian. Dan keberanian itulah yang membuat seseorang tidak mudah digoyahkan oleh ancaman, fitnah, ataupun intimidasi.
Namun, sejarah Dzulhijjah tidak berhenti pada Mubahalah. Pada hari-hari yang sama, turun pula Surah Al-Insan, sebuah surat yang mengabadikan salah satu kisah pengorbanan paling mengharukan dalam keluarga Rasulullah.
Surah itu dibuka dengan pertanyaan yang menggugah:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
“Bukankah telah datang kepada manusia suatu masa ketika ia belum merupakan sesuatu yang layak disebut?” (QS. Al-Insan: 1)
Pertanyaan itu mengingatkan bahwa manusia berasal dari ketiadaan. Karena itu, ukuran kemuliaannya bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang rela ia berikan.
Riwayat dari Ibnu Abbas mengisahkan bagaimana Imam Ali a.s, Sayidah Fatimah a.s, Hasan a.s, Husain a.s, dan Fiddhah bernazar berpuasa selama tiga hari setelah kedua putra mereka sembuh dari sakit. Mereka menjalankan nazar itu dalam keadaan sangat miskin. Bahkan untuk berbuka pun mereka harus meminjam gandum.
Setelah seharian menahan lapar, lima potong roti sederhana telah tersedia di hadapan mereka. Tetapi ketika hendak berbuka, seorang miskin mengetuk pintu dan meminta makanan. Seluruh roti itu diberikan kepadanya. Malam itu mereka hanya berbuka dengan air.
Keesokan harinya, peristiwa yang sama terulang. Kali ini seorang anak yatim datang meminta bantuan. Lagi-lagi seluruh makanan diberikan.
Hari ketiga, seorang tawanan berdiri di depan rumah mereka. Tanpa ragu, mereka kembali menyerahkan seluruh jatah makanan mereka.
Tiga hari berturut-turut mereka tidur dalam keadaan lapar.
Ketika Rasulullah saw melihat Hasan a.s dan Husain a.s gemetar karena kelaparan, beliau sangat berduka. Beliau juga menyaksikan Fatimah a.s yang tubuhnya telah begitu lemah akibat menahan lapar. Pada saat itulah Malaikat Jibril turun membawa Surah Al-Insan sebagai penghormatan Allah kepada keluarga Nabi saw.
Kisah ini menyentuh karena pengorbanan mereka tidak dilakukan dalam keadaan berlebih. Mereka memberi justru ketika diri mereka sendiri sangat membutuhkan. Itulah yang membuat amal tersebut memiliki nilai luar biasa di sisi Allah.
Dalam konteks yang lebih luas, Surah Al-Insan mengajarkan bahwa keikhlasan selalu menghasilkan jejak yang jauh melampaui tindakan itu sendiri. Sebuah pemberian yang lahir dari hati yang tulus dapat mengubah sejarah. Sebuah pengorbanan yang dilakukan tanpa mengharapkan pujian mampu diabadikan dalam wahyu.
Di zaman ketika hampir setiap kebaikan menunggu pengakuan, kisah keluarga Nabi saw menawarkan perspektif berbeda. Mereka tidak memberi karena ingin dikenang. Mereka bahkan tidak mengetahui bahwa Allah akan mengabadikan tindakan mereka dalam Al-Qur’an. Mereka hanya melakukan apa yang benar.
Mubahalah dan Surah Al-Insan pada akhirnya memperlihatkan dua wajah dari iman yang sejati. Yang pertama adalah keberanian mempertahankan kebenaran tanpa rasa takut. Yang kedua adalah kerelaan berkorban tanpa berharap balasan dari manusia.
Keduanya lahir dari akar yang sama: keyakinan penuh kepada Allah.
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang diwariskan hari-hari mulia di penghujung Dzulhijjah. Bahwa kekuatan seorang mukmin tidak semata-mata diukur dari kemampuan mengalahkan lawan, tetapi dari kemampuannya tetap teguh ketika diuji dan tetap murah hati ketika dirinya sendiri kekurangan.
Sebab sejarah tidak selalu mengingat mereka yang paling kuat. Sejarah lebih sering mengabadikan mereka yang paling tulus.







