KHAMENEI.ID– Setiap pergantian pemerintahan selalu membawa harapan baru. Wajah-wajah baru hadir dengan semangat yang segar, gagasan yang belum pernah dicoba, dan keyakinan bahwa perubahan dapat diwujudkan. Di tengah optimisme itu, masyarakat biasanya terbagi ke dalam dua kubu: mereka yang memberikan dukungan tanpa syarat dan mereka yang memilih menjadi pengkritik sejak awal.
Padahal, keduanya sering terjebak dalam kesalahpahaman yang sama. Dukungan dianggap identik dengan membenarkan semua kebijakan, sementara kritik dipersepsikan sebagai bentuk permusuhan. Akibatnya, ruang dialog yang sehat perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah pujian yang membius atau celaan yang membakar.
Dalam tradisi Islam, hubungan antara rakyat dan pemimpin justru dibangun di atas prinsip yang berbeda. Seorang pemimpin tidak dibiarkan berjalan sendiri, tetapi juga tidak diperlakukan sebagai sosok yang kebal dari kritik. Ia membutuhkan dukungan sekaligus nasihat. Bahkan, nasihat yang jujur dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral masyarakat.
Rasulullah saw bersabda:
ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَالنَّصِيحَةُ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَاللُّزُومُ لِجَمَاعَتِهِمْ
Artinya:
“Ada tiga perkara yang membuat hati seorang Muslim tetap bersih dari kedengkian: beramal dengan ikhlas karena Allah, memberikan nasihat kepada para pemimpin kaum Muslim, dan tetap menjaga kebersamaan dengan masyarakatnya.”
Hadis ini menghadirkan perspektif yang menarik. Nasihat kepada pemimpin tidak ditempatkan sebagai tindakan politik semata, melainkan sebagai bagian dari kebersihan hati. Artinya, kritik yang lahir dari ketulusan bukan bertujuan menjatuhkan seseorang, melainkan menjaga arah perjalanan bersama.
Di titik inilah makna “nasihat” sering kali mengalami penyempitan. Dalam kehidupan sehari-hari, nasihat identik dengan ucapan lembut, penuh sopan santun, dan menghindari ketegasan. Padahal, dalam pengertian klasik, nashihah berarti menghendaki kebaikan bagi orang lain. Selama tujuannya adalah perbaikan, nasihat dapat disampaikan dengan berbagai cara, termasuk melalui kritik yang keras ketika keadaan memang menuntutnya.
Kritik yang demikian bukanlah ekspresi kebencian. Ia justru merupakan bentuk kepedulian. Seseorang yang sama sekali tidak peduli biasanya memilih diam. Sebaliknya, mereka yang masih berharap keadaan membaik akan bersedia mengingatkan, meskipun risikonya tidak kecil.
Namun, nasihat yang benar juga memiliki syarat. Ia lahir dari kejujuran, bukan ambisi. Dari kecintaan kepada masyarakat, bukan dendam pribadi. Kritik yang didorong oleh kepentingan kelompok, hasrat mempermalukan lawan, atau sekadar mencari popularitas telah kehilangan ruhnya sebagai nasihat.
Dalam konteks yang lebih luas, prinsip ini juga berlaku bagi para pemimpin. Mereka memerlukan keberanian untuk mendengar suara yang berbeda. Tidak semua kritik harus diterima, tetapi semuanya layak didengar dengan kepala dingin. Sebab sejarah berulang kali menunjukkan bahwa banyak pemerintahan justru runtuh bukan karena terlalu banyak kritik, melainkan karena terlalu sedikit orang yang berani berkata jujur.
Lingkungan yang hanya dipenuhi pujian sering kali melahirkan ilusi. Pemimpin merasa semua berjalan baik, sementara persoalan nyata terus membesar tanpa disadari. Ketika akhirnya krisis datang, semuanya sudah terlambat. Sebaliknya, kritik yang diterima sebagai masukan akan menjadi mekanisme koreksi yang membuat sebuah pemerintahan lebih tangguh menghadapi tantangan.
Tentu saja, dukungan terhadap pemerintah tetap merupakan kebutuhan penting. Tidak ada negara yang dapat berkembang jika seluruh energinya habis untuk pertikaian politik tanpa akhir. Program-program yang baik memerlukan kerja sama berbagai pihak. Aparat negara, lembaga masyarakat, kalangan akademisi, tokoh agama, media, hingga warga biasa memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi pembangunan.
Akan tetapi, dukungan tidak boleh berubah menjadi sikap yang membenarkan segala sesuatu. Loyalitas kepada negara berbeda dengan loyalitas membabi buta kepada penguasa. Justru karena mencintai negeri ini, masyarakat berkewajiban mengingatkan ketika arah kebijakan mulai menjauh dari kepentingan rakyat.
Di sisi lain, kritik juga tidak boleh berubah menjadi kebiasaan mencari kesalahan. Ada perbedaan mendasar antara kritik yang ingin memperbaiki dan kritik yang sengaja mempertontonkan kegagalan. Yang pertama membangun kepercayaan, sedangkan yang kedua hanya memperlebar jurang permusuhan.
Pada akhirnya, kualitas sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kecakapan para pemimpinnya, tetapi juga oleh kedewasaan masyarakat yang mengawalnya. Pemimpin membutuhkan rakyat yang berani berkata benar, sementara rakyat membutuhkan pemimpin yang cukup rendah hati untuk mendengarnya.
Itulah sebabnya nasihat kepada pemimpin dalam Islam ditempatkan sejajar dengan keikhlasan beribadah dan menjaga persatuan umat. Ketiganya saling menopang. Keikhlasan menjaga niat, persatuan menjaga kekuatan bersama, dan nasihat menjaga arah agar kekuasaan tidak kehilangan kompas moralnya.
Maka, ketika kritik lahir dari ketulusan dan diterima dengan kebesaran jiwa, ia tidak lagi menjadi ancaman. Ia berubah menjadi salah satu bentuk dukungan paling berharga, dukungan yang tidak sekadar menguatkan langkah, tetapi juga memastikan langkah itu tetap berada di jalan yang benar.







