Amar Makruf Nahi Mungkar: Fondasi Sosial Islam yang Sering Disalahpahami

KHAMENEI.ID — Ada satu konsep dalam Islam yang kerap dipersempit maknanya hanya menjadi nasihat personal atau teguran moral sehari-hari. Padahal, dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa amar makruf nahi mungkar sesungguhnya adalah fondasi seluruh gerakan sosial dalam Islam. Ia bukan sekadar etika individual, melainkan kerangka besar yang membentuk arah sebuah masyarakat.

Beliau mengutip sebuah ungkapan klasik yang kuat maknanya: «بِها تُقامُ الفَرائِض»—dengan amar makruf nahi mungkar, seluruh kewajiban agama dapat ditegakkan. Kalimat singkat ini mengandung gagasan besar: tanpa kesadaran kolektif untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan, ajaran agama akan berhenti pada level pribadi dan tidak pernah menjelma menjadi tatanan sosial.

Dalam penjelasan Imam Khamenei, amar makruf berarti setiap orang beriman—di mana pun berada—memiliki tanggung jawab untuk menggerakkan masyarakat menuju kebaikan. Sebaliknya, nahi mungkar berarti menjaga masyarakat agar menjauh dari keburukan, kerusakan, dan penyimpangan. Dengan kata lain, agama tidak berhenti pada ruang ibadah; ia hidup dalam ruang sosial.

Di sinilah konsep ini menjadi menarik sekaligus menantang. Jika amar makruf nahi mungkar adalah fondasi gerakan sosial Islam, maka ia tidak mungkin berhenti pada nasihat individual semata. Ia harus menyentuh struktur masyarakat, termasuk persoalan kekuasaan, keadilan, dan kebijakan publik. Dalam perspektif ceramah ini, salah satu bentuk “kebaikan” terbesar yang harus diperjuangkan adalah hadirnya pemerintahan yang adil dan benar.

Pandangan ini membawa amar makruf ke wilayah yang lebih luas: partisipasi masyarakat. Imam Khamenei menekankan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menuntut pemerintahan yang adil. Ini bukan sekadar hak politik, tetapi bagian dari kewajiban moral dan religius. Dengan demikian, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penonton, melainkan sebagai aktor yang ikut menentukan arah keadilan.

Baca Juga  Menjadi Syiah Tidak Cukup dengan Cinta Sebab di Hadapan Tuhan, Tidak Ada “Orang Dalam” 

Untuk menegaskan pentingnya melawan penyimpangan sosial, beliau merujuk pada ucapan Imam Ali as dalam Khutbah Syiqsyiqiyah:

«وَ ما أَخَذَ اللهُ عَلَى العُلَماءِ أَلّا يُقارّوا عَلى كِظَّةِ ظالِمٍ وَ لا سَغَبِ مَظلوم»

“Allah swt mengambil janji dari para ulama agar mereka tidak berdiam diri atas kenyang berlebihnya orang zalim dan kelaparan orang yang tertindas.”

Kutipan ini memperluas makna amar makruf nahi mungkar menjadi kritik sosial. Ia menolak ketimpangan ekstrem—ketika sebagian hidup dalam kemewahan berlebih sementara sebagian lain tenggelam dalam kelaparan. Diam terhadap ketimpangan, dalam perspektif ini, bukanlah netralitas; ia adalah pelanggaran terhadap amanah moral.

Dengan demikian, konsep ini menjelma menjadi etika keberpihakan. Ia menuntut keberanian untuk tidak menerima jurang sosial sebagai sesuatu yang wajar. Dalam bahasa kontemporer, pesan ini terasa sangat relevan: ketimpangan ekonomi, kesenjangan akses, dan ketidakadilan struktural adalah persoalan global yang terus berulang di berbagai negara.

Imam Khamenei kemudian mengaitkan konsep ini dengan ayat Al-Qur’an yang menggambarkan tugas kaum beriman setelah memperoleh kekuasaan:

«الَّذِينَ إِنْ مَكَّنّاهُمْ فِي الأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ المُنْكَرِ» (الحج: 41)

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”

Ayat ini menarik karena menyusun prioritas. Setelah kemenangan atau kekuasaan diraih, tugas pertama bukanlah ekspansi atau kemewahan, melainkan membangun fondasi spiritual dan sosial: ibadah, solidaritas ekonomi, dan tanggung jawab moral kolektif. Dalam tafsir ceramah ini, amar makruf nahi mungkar menjadi salah satu indikator utama keberhasilan sebuah pemerintahan Islam.

Di titik ini, konsep yang sering dianggap sederhana berubah menjadi sangat besar. Ia mencakup kesalehan pribadi, keadilan sosial, partisipasi publik, hingga tanggung jawab politik. Amar makruf nahi mungkar bukan hanya tentang mengatakan “ini baik” atau “itu buruk”, tetapi tentang membangun ekosistem yang memungkinkan kebaikan tumbuh dan keburukan terhambat.

Baca Juga  Manusia Modern Merasa Bebas, Padahal Sedang Menyembah Banyak “Tuhan” Kecil

Refleksi terakhir dari ceramah ini terasa penting bagi masyarakat modern. Di era media sosial, setiap orang memiliki suara, tetapi tidak selalu memiliki keberanian. Kritik sering berubah menjadi cibiran, dan nasihat berubah menjadi konflik. Dalam situasi seperti itu, amar makruf nahi mungkar menuntut kedewasaan: keberanian yang disertai kebijaksanaan, kritik yang disertai kepedulian.

Pada akhirnya, pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa sebuah masyarakat tidak akan bergerak menuju keadilan dengan sendirinya. Ia membutuhkan partisipasi, keberanian moral, dan kesadaran kolektif. Amar makruf nahi mungkar, dalam perspektif ini, bukan sekadar ajaran moral—ia adalah mesin penggerak peradaban.

Bagikan:
Terkait
Komentar