KHAMENEI.ID – Di tengah dunia yang semakin sering berbicara tentang kepentingan pribadi, ada satu pelajaran moral yang terasa semakin langka: mendahulukan orang lain sebelum diri sendiri. Bukan karena seseorang tidak memiliki kebutuhan, tetapi karena ia memahami bahwa kehidupan manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ada tetangga, masyarakat, dan orang-orang yang membutuhkan perhatian di sekitar kita.
Nilai inilah yang disoroti oleh Imam Ali Khamenei qs ketika menjelaskan teladan sosial dari Sayidah Fathimah az-Zahra sa. Bagi beliau, kehidupan putri Rasulullah saw bukan hanya rangkaian kisah sejarah, tetapi sumber pelajaran tentang tanggung jawab manusia dalam membangun masyarakat yang penuh kepedulian.
Dalam salah satu kisah yang disampaikan, ketika salah seorang putra Fathimah az-Zahra sa bertanya mengapa ibunya dalam doa dan munajatnya selalu mendoakan orang lain terlebih dahulu, ia mendapatkan jawaban sederhana namun penuh makna:
“Wahai anakku, tetangga terlebih dahulu, kemudian rumah kita.”
Ungkapan yang dikenal dengan kalimat “al-jāra tsumma ad-dār” (tetangga dahulu, kemudian keluarga sendiri) bukan sekadar etika bertetangga. Menurut Imam Khamenei, kalimat tersebut mengandung sebuah jalan hidup dan tanggung jawab sosial yang besar.
Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh hidup dalam ruang yang hanya berisi dirinya sendiri. Kesalehan bukan hanya hubungan antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam hubungan manusia dengan sesama.
Doa yang melupakan orang lain dan hanya berpusat pada diri sendiri menunjukkan keterbatasan pandangan. Sebaliknya, ketika seseorang mampu membawa penderitaan orang lain dalam doanya, ia sedang menunjukkan keluasan hati.
Pelajaran yang sama juga terlihat dalam kisah keluarga Fathimah az-Zahra sa ketika memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Peristiwa ini disebut dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Insan sebagai sebuah teladan yang memiliki makna besar.
Allah swt berfirman:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Allah.”
(QS. Al-Insan: 8–9)
Imam Ali Khamenei qs menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bukan hanya kisah tentang memberi makanan. Ia adalah simbol tentang bagaimana manusia seharusnya memandang kehidupan sosial.
Dalam kisah itu, keluarga Fathimah az-Zahra sa sendiri berada dalam keadaan membutuhkan. Mereka merasakan lapar, tetapi tetap memilih memberikan apa yang mereka miliki kepada mereka yang lebih membutuhkan. Pengorbanan tersebut bukan sekadar tindakan individual, melainkan gambaran sebuah prinsip sosial: manusia yang beriman tidak membiarkan penderitaan orang lain menjadi sesuatu yang asing baginya.
Menariknya, Imam Khamenei mengangkat sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam kehidupan modern: bukankah sudah ada pemerintah atau lembaga sosial yang memiliki tugas membantu masyarakat? Mengapa individu masih harus turun tangan?
Menurut beliau, keberadaan pemerintah tidak menghapus tanggung jawab masyarakat. Negara memang memiliki kewajiban untuk mengurus kebutuhan rakyat, tetapi masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk saling membantu.
Sebuah bangsa tidak akan menjadi kuat hanya karena memiliki sistem yang baik. Ia juga membutuhkan manusia-manusia yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesamanya.
Bantuan sosial pun tidak terbatas pada materi. Imam Khamenei menekankan bahwa manusia dapat membantu dengan berbagai cara: bantuan finansial, bantuan pemikiran, bantuan menjaga kehormatan orang lain, hingga memberikan dukungan moral.
Seseorang yang membantu orang lain keluar dari kesulitan bukan hanya memberikan sesuatu yang bersifat fisik, tetapi juga ikut menjaga martabat manusia.
Dalam kehidupan hari ini, pesan tersebut memiliki relevansi yang kuat. Di tengah masyarakat yang semakin individualistis, kepedulian sosial sering kali digantikan oleh sikap “itu bukan urusan saya”. Padahal, banyak persoalan besar bermula dari hilangnya rasa keterhubungan antar manusia.
Teladan Fathimah az-Zahra sa mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat bukan hanya dibangun oleh aturan dan institusi, tetapi juga oleh karakter manusia yang hidup di dalamnya.
Menurut Imam Ali Khamenei, inilah yang disebut sebagai “pemahaman Fathimi”: sebuah cara pandang yang melihat manusia sebagai bagian dari komunitas yang saling bertanggung jawab.
Pada akhirnya, warisan terbesar dari sebuah teladan bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan. Kisah tentang mendahulukan tetangga, membantu yang lemah, dan peduli terhadap sesama menjadi pengingat bahwa kualitas sebuah masyarakat tidak hanya terlihat dari kemajuan yang dicapai, tetapi juga dari seberapa besar kepedulian yang tumbuh di antara manusia.
Sebab sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang hebat, tetapi juga oleh hati-hati yang tidak kehilangan kepedulian.







