KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan manusia yang nyaris tak pernah berubah sejak dahulu: ingin segala sesuatu segera selesai. Kita ingin kesulitan cepat berlalu, doa segera dikabulkan, keadilan lekas ditegakkan, dan harapan secepat mungkin menjadi kenyataan. Dalam dunia yang serba instan, kesabaran bahkan sering dianggap sebagai bentuk keterlambatan.
Cara berpikir semacam ini diam-diam ikut memengaruhi cara sebagian orang memahami penantian akan datangnya masa penuh keadilan, termasuk penantian terhadap kemunculan Imam Mahdi afs. Tidak sedikit yang mengubah harapan menjadi kegelisahan, lalu kegelisahan berubah menjadi keinginan menentukan waktu. Seolah-olah sejarah harus tunduk pada kalender manusia.
Padahal, dalam tradisi Islam, menanti bukanlah soal menghitung hari. Menanti adalah soal menyiapkan diri.
Di titik inilah muncul perbedaan mendasar antara intizar al-faraj menanti datangnya jalan keluar dengan sikap tidak sabar. Keduanya sama-sama dipenuhi harapan, tetapi lahir dari jiwa yang berbeda. Yang satu menumbuhkan ketenangan dan kesiapan. Yang lain justru melahirkan kegelisahan, kekecewaan, bahkan kadang mendorong seseorang mengambil kesimpulan-kesimpulan yang tergesa-gesa.
Dalam sebuah riwayat dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s disebutkan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَعْجَلُ لِعَجَلَةِ الْعِبَادِ
“Sesungguhnya Allah tidak tergesa-gesa hanya karena manusia tergesa-gesa”
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pelajaran yang dalam. Ia mengingatkan bahwa kehendak Tuhan tidak bergerak mengikuti emosi manusia. Secepat apa pun kita menginginkan sesuatu terjadi, keputusan Ilahi tetap berjalan menurut hikmah yang telah ditetapkan.
Sering kali manusia mengira bahwa semakin besar keinginannya, semakin dekat pula kenyataan itu datang. Ketika harapan tidak segera terwujud, lahirlah rasa kecewa. Bahkan ada yang mulai mempertanyakan janji Tuhan hanya karena waktunya tidak sesuai dengan perkiraan mereka.
Padahal, sejarah para nabi mengajarkan hal yang berbeda. Hampir seluruh perubahan besar lahir melalui proses panjang yang tampak lambat dari sudut pandang manusia. Nabi Nuh a.s berdakwah selama berabad-abad. Nabi Musa a.s harus melalui perjalanan panjang sebelum membebaskan Bani Israil. Rasulullah saw membangun masyarakat Islam sedikit demi sedikit, bukan dalam semalam.
Perubahan yang paling kokoh justru lahir melalui kesabaran, bukan ketergesaan.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah salah satu penyakit zaman modern. Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan kecepatan. Pesan dikirim dalam hitungan detik. Barang tiba dalam sehari. Informasi berpindah lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mencerna maknanya. Lama-kelamaan kita terbiasa mengukur segala sesuatu dengan kecepatan hasil, bukan kedalaman proses.
Akibatnya, ketika berhadapan dengan urusan spiritual, kita membawa logika yang sama. Kita ingin kemenangan segera datang. Kita ingin kezaliman segera berakhir. Kita ingin dunia berubah secepat pembaruan aplikasi di telepon genggam.
Namun sejarah Tuhan tidak ditulis dengan logika algoritma.
Gagasan ini kemudian menyentuh makna yang lebih dalam tentang penantian Imam Mahdi afs. Menunggu kemunculan beliau bukan berarti terus-menerus menebak tanggal atau membaca setiap gejolak politik sebagai tanda pasti akhir zaman. Apalagi menetapkan waktu tertentu, lalu menjadikannya ukuran benar atau salahnya sebuah keyakinan.
Yang justru dituntut adalah memperbaiki kualitas diri agar layak menjadi bagian dari masyarakat yang kelak menyambut hadirnya keadilan.
Menunggu bukanlah keadaan pasif. Menunggu adalah pekerjaan batin yang aktif.
Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa orang yang benar-benar menanti bukanlah orang yang paling sering berbicara tentang kapan Imam Mahdi afs akan muncul, melainkan mereka yang setiap hari bertanya: “Apakah aku sudah siap jika hari itu benar-benar datang?”
Pertanyaan ini mengubah arah penantian. Fokusnya tidak lagi pada waktu, melainkan pada diri sendiri.
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s juga mengingatkan sebab banyak manusia binasa dalam perkara ini:
إِنَّمَا هَلَكَ النَّاسُ مِنِ اسْتِعْجَالِهِمْ لِهذَا الْأَمْرِ؛ إِنَّ اللَّهَ لَا يَعْجَلُ لِعَجَلَةِ الْعِبَادِ؛ إِنَّ لِهَذَا الْأَمْرِ غَايَةً يَنْتَهِي إِلَيْهَا، فَلَوْ قَدْ بَلَغُوهَا لَمْ يَسْتَقْدِمُوا سَاعَةً وَلَمْ يَسْتَأْخِرُوا
“Sesungguhnya manusia binasa karena ketergesaan mereka terhadap urusan ini. Allah tidak tergesa-gesa hanya karena manusia tergesa-gesa. Setiap urusan memiliki batas waktu yang telah ditentukan. Ketika waktunya tiba, ia tidak akan maju sesaat maupun terlambat sesaat”
Riwayat ini bukan sekadar berbicara tentang masa depan. Ia juga menjelaskan cara Tuhan mengatur sejarah. Ada saat yang telah ditentukan. Ada proses yang harus dilalui. Ada hikmah yang mungkin belum dapat dijangkau oleh pandangan manusia yang terbatas.
Kesadaran semacam ini melahirkan ketenangan. Kita tetap berharap, tetapi tidak memaksa. Kita tetap berdoa, tetapi tidak mendikte Tuhan. Kita tetap bekerja memperbaiki keadaan, tetapi tidak kehilangan kesabaran ketika hasil belum tampak.
Mungkin justru di situlah hakikat penantian yang sesungguhnya. Ia bukan perlombaan melawan waktu, melainkan perjalanan membentuk diri. Sebab ketika manusia sibuk memperdebatkan kapan pertolongan Tuhan datang, boleh jadi pertanyaan yang lebih penting adalah: sudahkah kita menjadi pribadi yang pantas menerima pertolongan itu?
Pada akhirnya, waktu adalah milik Allah. Yang menjadi tanggung jawab manusia bukanlah mempercepat takdir, melainkan mempersiapkan diri ketika takdir itu tiba. Karena pekerjaan Tuhan tidak pernah mengikuti tergesa-gesanya manusia, tetapi selalu berjalan tepat pada saat yang paling penuh hikmah.







