Persatuan Nasional dan Kerja Keras Pemimpin di Saat Negara Mendaki

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak membutuhkan lebih banyak suara yang berteriak, melainkan lebih banyak orang yang bersedia bekerja. Bukan karena kritik harus dibungkam, melainkan karena kritik tanpa kepercayaan mudah berubah menjadi sinisme, sementara kepercayaan tanpa kritik bisa menjelma kepatuhan yang membutakan.

Di titik itulah sebuah negara diuji: apakah ia mampu menjaga persatuan nasional ketika keadaan tidak mudah, dan apakah para pemimpinnya masih memiliki tenaga untuk terus bekerja ketika jalan menuju tujuan terasa semakin terjal.

Dalam sebuah pertemuan dengan para komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menyampaikan pesan yang berangkat dari situasi tersebut. Tugas menjaga revolusi, menurut dia, bukan semata urusan militer atau satu institusi. Ada pekerjaan yang jauh lebih luas: menjaga persatuan nasional, melibatkan rakyat, memperhatikan kelompok lemah, dan memastikan para pejabat bekerja dengan kesungguhan yang tidak mengenal lelah.

Pernyataan itu menarik karena pusat gravitasinya bukan pada kekuatan senjata, melainkan pada ketahanan sosial dan kualitas kerja pemerintahan.

Sebuah negara, pada akhirnya, tidak berdiri hanya karena memiliki institusi yang kuat. Ia bertahan karena rakyat masih merasa memiliki alasan untuk percaya bahwa negara bekerja untuk mereka.

Karena itu, persatuan nasional bukan sekadar slogan yang dipasang pada spanduk atau diulang dalam pidato kenegaraan. Persatuan lahir dari pengalaman sehari-hari: ketika masyarakat merasa didengar, ketika kelompok lemah tidak ditinggalkan, ketika pemerintah hadir bukan hanya saat membutuhkan dukungan, dan ketika perbedaan pendapat tidak otomatis dianggap sebagai permusuhan.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih dalam. Bagaimana mungkin sebuah bangsa meminta rakyat bersatu jika mereka melihat para pemimpinnya sendiri kehilangan kepercayaan satu sama lain?

Baca Juga  Mengapa Dunia Islam Terus Dilanda Konflik? Ketika Persatuan Paling Dasar Pun Diabaikan

Kepercayaan politik tidak tumbuh dari perintah. Ia dibangun oleh tindakan.

Karena itu Imam Ali Khamenei qs menempatkan kritik dan kepercayaan dalam hubungan yang tidak harus saling meniadakan. Kritik tetap diperlukan. Bahkan ia secara eksplisit mengatakan bahwa dirinya tidak menolak kritik. Yang diperlukan adalah kritik yang berjalan bersama kepercayaan bahwa orang-orang yang memegang tanggung jawab memang sedang bekerja.

Di sini terdapat perbedaan penting antara kritik dan kecurigaan. Kritik mempertanyakan keputusan agar sesuatu menjadi lebih baik. Kecurigaan, sebaliknya, sering kali telah menjatuhkan vonis sebelum pertanyaan diajukan.

Masyarakat demokratis maupun masyarakat yang sedang menghadapi tekanan politik sama-sama membutuhkan ruang kritik. Tetapi negara juga membutuhkan modal sosial berupa kepercayaan. Tanpa keduanya, pemerintahan mudah terperangkap dalam dua kutub yang sama-sama berbahaya: kekuasaan yang kebal kritik atau masyarakat yang tidak lagi percaya kepada siapa pun.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan itu kembali kepada para pemimpin.

Dalam Pertemuan tersebut Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menyuarakan  agar para pejabat melakukan kerja yang sungguh-sungguh, penuh pengabdian, bahkan sampai tidak mengenal lelah. Bukan berarti seorang pemimpin harus bekerja tanpa istirahat secara harfiah. Yang ditekankan adalah etos: tanggung jawab tidak boleh dikerjakan dengan mentalitas sekadarnya.

Ada perbedaan antara orang yang menduduki jabatan dan orang yang merasa memiliki tanggung jawab. Jabatan bisa diperoleh melalui prosedur. Tanggung jawab hanya bisa dibuktikan melalui kerja.

Di tengah masyarakat modern, persoalan ini terasa semakin relevan. Banyak negara memiliki kantor pemerintahan yang megah, struktur birokrasi yang panjang, dan perangkat administrasi yang rumit. Tetapi semua itu tidak otomatis menghasilkan pelayanan yang baik. Negara bisa memiliki banyak aturan namun sedikit keberanian untuk menyelesaikan persoalan.

Baca Juga  Ketika Klaim Demokrasi Barat Mulai Kehilangan Daya Pikat

Pada akhirnya, rakyat tidak terlalu membutuhkan pejabat yang pandai menjelaskan mengapa sebuah masalah sulit. Mereka membutuhkan pemimpin yang mau mencari jalan keluar.

Sayyid Ali Khamenei qs menggunakan sebuah perumpamaan yang sederhana: perjalanan telah melewati bagian yang berat; tanjakan terjal sudah dilalui; puncak mulai terlihat. Karena itu bukan saatnya berhenti karena lelah.

Perumpamaan tentang pendakian ini sesungguhnya menyimpan pesan politik yang lebih luas. Dalam perjalanan sebuah bangsa, keberhasilan sering justru menjadi titik ketika kewaspadaan menurun. Setelah melewati berbagai krisis, manusia mudah merasa bahwa pekerjaan besar telah selesai. Padahal semakin dekat dengan puncak, semakin besar pula godaan untuk berhenti.

Karena itu ia menyerukan agar kelelahan tidak berubah menjadi keputusasaan. Hari ini, katanya, bukan hari untuk lelah dan bukan pula hari untuk kehilangan harapan. Ini adalah hari untuk bergerak.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan tersebut berbicara tentang kepemimpinan sebagai kemampuan mempertahankan energi kolektif. Negara tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga suasana batin yang memungkinkan masyarakat percaya bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.

Di sinilah persatuan nasional bertemu dengan kerja keras pemimpin. Persatuan tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Kerja keras pemerintah tidak bermakna jika manfaatnya tidak sampai kepada masyarakat, terutama mereka yang berada di lapisan paling lemah.

Sebab sebuah bangsa dapat terlihat kuat dari luar, tetapi retak dari dalam.

Dan keretakan itu sering bermula dari hal-hal yang tampak kecil: rakyat merasa tidak didengar, kelompok miskin merasa dilupakan, pejabat kehilangan rasa tanggung jawab, kritik dianggap ancaman, sementara kepercayaan digantikan oleh prasangka.

Maka menjaga negara bukan hanya soal menghadapi musuh dari luar. Ada pekerjaan yang lebih sunyi: merawat kepercayaan di dalam rumah sendiri.

Baca Juga  Keadilan dan Takwa: Fondasi Sejati Legitimasi Kekuasaan

Barangkali karena itu pesan tentang harapan menjadi penting. Harapan bukan sikap naif yang menolak kenyataan. Harapan justru diperlukan karena kenyataan sering kali terlalu berat jika dihadapi tanpa keyakinan bahwa perubahan masih mungkin.

Sebuah bangsa boleh mengkritik pemerintahnya. Ia boleh berbeda pendapat. Ia bahkan harus mempertanyakan kebijakan yang keliru. Tetapi pada saat yang sama, para pemimpinnya harus memberi alasan yang cukup bagi rakyat untuk tetap percaya.

Pada akhirnya, perjalanan sebuah negara memang seperti pendakian. Ada saat ketika jalan terasa ringan, ada saat ketika napas menjadi pendek dan kaki ingin berhenti. Tetapi yang menentukan bukan sekadar seberapa tinggi seseorang telah mendaki.

Yang lebih penting adalah apakah ia masih memiliki alasan untuk melanjutkan langkah.

Sebab puncak mungkin sudah tampak di kejauhan. Namun sebuah bangsa tidak akan pernah sampai ke sana jika para pemimpinnya berhenti bekerja dan rakyatnya berhenti berharap.

Bagikan:
Terkait
Komentar