KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan ketika berbicara tentang Imam Mahdi afs. Mengapa hampir semua orang lebih tertarik membayangkan perubahan politik, keadilan sosial, atau kemenangan atas kezaliman, tetapi lupa menanyakan seperti apa kualitas manusia yang akan hidup di zaman itu?
Padahal, sebuah masyarakat yang adil tidak lahir begitu saja dari pergantian pemimpin. Ia bertumbuh dari perubahan yang jauh lebih mendasar: cara manusia berpikir. Sebelum dunia berubah, akal manusialah yang lebih dulu mengalami kebangkitan.
Itulah salah satu gambaran paling menarik tentang masyarakat ideal yang dipimpin Imam Mahdi afs. Dalam berbagai riwayat, ciri utamanya bukan sekadar hilangnya penindasan atau melimpahnya kesejahteraan, melainkan meningkatnya kualitas intelektual dan spiritual umat manusia. Peradaban masa depan digambarkan sebagai peradaban yang menjadikan ilmu sebagai napas kehidupan dan pemahaman agama sebagai cahaya yang menerangi setiap sudut masyarakat.
Di titik inilah harapan tentang masa depan Islam memperoleh makna yang lebih dalam. Yang dibangun bukan hanya kota-kota yang makmur, tetapi manusia-manusia yang matang akalnya.
Gagasan ini sebenarnya telah menjadi misi para nabi sejak awal. Imam Ali a.s menggambarkannya dalam Nahjul Balaghah dengan kalimat yang begitu indah:
وَ يُثِيرُوا لَهُمْ دَفَائِنَ الْعُقُولِ
“Agar mereka membangkitkan harta-harta terpendam yang ada dalam akal manusia”
Ungkapan itu mengandung pesan yang sangat kuat. Akal bukan sesuatu yang harus diciptakan, melainkan sesuatu yang harus dibangunkan. Di dalam setiap manusia terdapat potensi berpikir yang luar biasa, tetapi sering kali tertutup oleh kebodohan, hawa nafsu, prasangka, dan budaya yang tidak sehat. Tugas para nabi bukan sekadar menyampaikan hukum, melainkan membangunkan kemampuan manusia untuk memahami kebenaran.
Dalam konteks yang lebih luas, cita-cita itu mencapai puncaknya pada masa Imam Mahdi afs. Dunia tidak lagi dipenuhi oleh kemiskinan intelektual, kebodohan, atau keterbelakangan budaya. Pengetahuan berkembang, tetapi bukan pengetahuan yang melahirkan kesombongan. Ilmu justru mengantarkan manusia semakin dekat kepada Tuhan dan semakin mampu memahami hikmah kehidupan.
Menariknya, peningkatan kualitas masyarakat itu tidak hanya terlihat dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Yang lebih penting adalah meningkatnya pemahaman terhadap agama. Agama tidak lagi dipahami sebatas simbol, tradisi, atau warisan turun-temurun, tetapi menjadi pengetahuan yang hidup dan disadari.
Riwayat-riwayat bahkan melukiskan sebuah gambaran yang sangat mengagumkan. Seorang perempuan yang berada di rumah membuka mushaf Al-Qur’an, lalu dari ayat-ayat yang dibacanya ia mampu memahami hakikat-hakikat agama. Gambaran ini bukan sekadar kisah tentang kemampuan membaca kitab suci. Ia menunjukkan betapa tingginya kualitas pendidikan dan budaya intelektual masyarakat pada masa itu.
Perempuan tersebut tidak digambarkan sebagai tokoh besar, ulama terkenal, atau pemimpin lembaga pendidikan. Ia hanyalah bagian dari masyarakat biasa. Namun tingkat literasi keagamaannya demikian tinggi sehingga mampu mengambil pemahaman langsung dari Al-Qur’an.
Di sinilah ukuran kemajuan sebuah peradaban menjadi berbeda. Kemajuan ternyata bukan hanya diukur dari kecanggihan teknologi, kecerdasan buatan, atau pesatnya pembangunan infrastruktur. Semua itu dapat dicapai tanpa melahirkan manusia yang bijaksana. Sejarah modern telah menunjukkan bahwa masyarakat yang sangat maju secara teknologi pun tetap dapat terjebak dalam krisis moral, polarisasi sosial, bahkan perang yang menghancurkan.
Peradaban yang dijanjikan Imam Mahdi afs justru membangun manusia dari dalam. Akal diperkuat, hati dimurnikan, dan ilmu diarahkan untuk menemukan kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Namun jika ditarik lebih jauh, pesan ini sebenarnya relevan bagi kehidupan kita hari ini. Salah satu tantangan terbesar masyarakat modern bukanlah kurangnya informasi, melainkan melimpahnya informasi tanpa kedalaman pemahaman. Orang semakin mudah mengakses pengetahuan, tetapi semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar ramai diperbincangkan.
Media sosial mempercepat penyebaran opini, tetapi tidak selalu memperdalam cara berpikir. Akibatnya, banyak orang merasa mengetahui banyak hal, padahal belum tentu memahami hakikatnya. Pengetahuan berubah menjadi potongan-potongan informasi yang tercerai-berai, sementara kebijaksanaan semakin langka.
Karena itu, membicarakan Imam Mahdi afs semestinya tidak berhenti pada penantian terhadap masa depan. Yang lebih penting adalah mempersiapkan diri menjadi manusia yang layak hidup dalam masyarakat yang tercerahkan. Persiapan itu dimulai dari membangun budaya membaca, belajar, berdialog, berpikir kritis, dan memahami agama secara mendalam.
Harapan tentang kemunculan Imam Mahdi afs bukanlah harapan yang pasif. Ia adalah undangan untuk terus meningkatkan kualitas diri. Setiap langkah menuju ilmu, setiap usaha memahami Al-Qur’an, setiap upaya meluruskan cara berpikir, sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan menuju masyarakat yang dicita-citakan.
Pada akhirnya, cahaya terbesar dari masyarakat Imam Mahdi afs bukanlah sekadar hilangnya kezaliman, melainkan hilangnya kegelapan dalam pikiran manusia. Ketika ilmu menyatu dengan iman, ketika akal berjalan berdampingan dengan wahyu, dan ketika seluruh lapisan masyarakat memiliki kemampuan memahami kebenaran, maka perbedaan tidak lagi menjadi sumber permusuhan, melainkan jalan menuju kebijaksanaan.
Barangkali itulah makna terdalam dari masyarakat yang disebut penuh cahaya. Bukan karena matahari bersinar lebih terang, melainkan karena setiap manusia telah menemukan cahaya di dalam akalnya sendiri. Dan ketika akal telah bercahaya, dunia pun perlahan berubah menjadi tempat yang lebih adil, lebih damai, dan lebih manusiawi.







