Ratapan Langit di Kufah dan Hilangnya Wajah Keadilan 

KHAMENEI.ID— Ada kematian yang selesai bersama pemakamannya. Ada pula kematian yang justru memulai penderitaan panjang sebuah zaman. Syahadah Ali bin Abi Thalib a.s termasuk yang kedua. Ia bukan sekadar tragedi sejarah yang dikenang setiap tanggal tertentu, lalu dilupakan setelah air mata mengering. Luka itu, dalam banyak hal, masih hidup sampai hari ini.

Ketika pedang beracun menghantam kepala Imam Ali a.s pada subuh 19 Ramadan di Masjid Kufah, suara ratapan disebut menggema di langit: Tahaddamat wallāhi arkānul hudā “Demi Allah, telah runtuh pilar-pilar petunjuk.” Kalimat itu terdengar seperti ungkapan duka. Namun sesungguhnya ia adalah diagnosis peradaban. Yang roboh bukan hanya seorang manusia, melainkan kemungkinan lahirnya tata dunia yang lebih adil.

Dalam banyak narasi sejarah Islam, Imam Ali a.s sering dikenang sebagai simbol keberanian, ilmu, dan kesalehan. Tetapi ada sisi lain yang lebih jarang dibicarakan: gagasan pemerintahannya. Ia bukan hanya figur spiritual, melainkan model kepemimpinan yang nyaris mustahil ditemukan kembali setelah wafatnya.

Dua puluh lima tahun sebelum peristiwa pembunuhan itu, Fatimah az-Zahra a.s pernah mengucapkan kalimat yang terasa seperti nubuat politik. Dalam keadaan sakit, ia berkata kepada perempuan-perempuan Madinah bahwa seandainya umat menyerahkan kepemimpinan kepada Ali a.s, maka ia akan membawa manusia menempuh jalan yang jalan yang rata, tenang, dan tidak melukai.

Ia menggambarkan pemerintahan Ali a.s dengan bahasa yang sangat puitis:

“Ia akan membawa mereka ke sumber air yang jernih dan melimpah; penguasaannya tidak akan melukai rakyat, tidak membuat penunggangnya letih.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan gagasan besar tentang kekuasaan. Pemerintahan terbaik bukanlah yang paling keras, paling megah, atau paling ditakuti. Pemerintahan terbaik adalah yang tidak melukai rakyatnya. Negara hadir tanpa meninggalkan luka sosial, luka ekonomi, atau luka martabat manusia.

Baca Juga  Mengapa Cinta kepada Ahlul Bait Harus Terus Dihidupkan? Makna Mawaddah, Asyura, dan Kekuatan Ikatan Emosional dalam Islam

Bukankah itu justru yang paling langka hari ini?

Kita hidup di zaman ketika kekuasaan sering identik dengan kebisingan: pajak yang mencekik, hukum yang tajam ke bawah, birokrasi yang melelahkan, dan elite yang sibuk mempertahankan citra. Rakyat dipaksa bertahan di tengah sistem yang perlahan menggerus ketenangan hidup mereka. Dalam situasi seperti itu, konsep pemerintahan ala Imam Ali a.s terasa bukan hanya religius, tetapi juga sangat modern.

Ketika akhirnya umat Islam membaiat Ali a.s sebagai khalifah pada tahun 35 Hijriah, harapan itu sempat menyala kembali. Meski hanya memimpin sekitar empat tahun sembilan bulan, ia melakukan perubahan besar: membersihkan korupsi politik, mengembalikan hak publik, menolak privilese elite, dan memperlakukan kekuasaan sebagai amanah, bukan fasilitas.

Tetapi sejarah terlalu sering kalah oleh pengkhianatan.

Pedang Ibnu Muljam tidak sekadar membunuh seorang khalifah. Ia menghentikan kemungkinan panjang sebuah peradaban. Dalam pandangan banyak ulama dan pemikir Muslim, jika proyek pemerintahan Ali a.s berlanjut, dunia Islam mungkin akan memiliki arah sejarah yang berbeda selama berabad-abad.

Karena itu, syahadah Imam Ali a.s disebut sebagai “musibah sepanjang zaman”. Kerugiannya tidak berhenti pada satu generasi. Umat kehilangan mata air kepemimpinan yang jernih sebelum sempat benar-benar meminumnya.

Yang paling menyayat justru detik-detik terakhir hidupnya.

Kota Kufah diliputi kecemasan. Rumah Imam Ali a.s dipenuhi orang-orang yang ingin menjenguk. Mereka gelisah, seolah sadar bahwa dunia sedang kehilangan sesuatu yang tak tergantikan. Imam Hasan a.s, putranya, berkali-kali meminta orang-orang pulang karena kondisi sang ayah semakin melemah.

Namun seorang sahabat dekat, Ashbagh bin Nubatah, tak sanggup pergi.

“Aku tidak kuat meninggalkan rumah Amirul Mukminin,” katanya.

Akhirnya ia diizinkan masuk. Di dalam ruangan itu, ia melihat Imam Ali a.s terbaring dengan kepala diperban kain kuning. Tetapi, katanya, wajah Ali a.s jauh lebih pucat daripada kain itu sendiri. Racun pedang telah menyebar ke tubuhnya. Kadang beliau sadar, kadang pingsan.

Baca Juga  Fatimah Zahra: Mukjizat Islam yang Terlupakan

Dalam keadaan seperti itu, Imam Ali a.s masih sempat menggenggam tangan Ashbagh dan menyampaikan hadis serta nasihat.

Di situlah makna sebenarnya dari kalimat arkānul hudā  “pilar petunjuk”  menjadi nyata. Bahkan di ambang kematian, ia masih memikirkan hidayah manusia. Tubuhnya melemah, tetapi tanggung jawab moralnya tidak berhenti.

Betapa kontras dengan banyak penguasa hari ini yang bahkan dalam keadaan sehat justru sibuk menyelamatkan diri sendiri.

Tragedi Imam Ali a.s juga memperlihatkan ironi besar sejarah manusia: sering kali masyarakat baru menyadari nilai seorang pemimpin setelah ia tiada. Ketika hidup, ia dilawan, difitnah, bahkan diserang dari dalam. Setelah wafat, manusia menangisinya sambil perlahan memahami apa yang telah hilang.

Mungkin itu sebabnya duka atas Imam Ali a.s tidak pernah benar-benar selesai. Ia bukan sekadar nostalgia keagamaan, melainkan kerinduan terhadap model kepemimpinan yang adil dan manusiawi. Kerinduan pada kekuasaan yang tidak melukai.

Dan boleh jadi, itulah sebabnya sejarah terus mengulang krisis yang sama. Karena manusia berkali-kali lebih memilih kekuasaan yang keras daripada kebijaksanaan yang jernih. Lebih tertarik pada gemerlap politik daripada kedalaman moral.

Maka setiap Ramadan, ketika kisah syahadah Imam Ali a.s kembali dibacakan, sesungguhnya yang sedang dipertanyakan bukan hanya masa lalu Islam. Yang sedang diadili adalah zaman kita sendiri.

Apakah manusia modern sungguh menginginkan keadilan atau hanya menginginkan kemenangan?

Bagikan:
Terkait
Komentar