Rendah Hati di Hadapan Tuhan, Tinggi di Mata-Nya

KHAMENEI.ID – Ada jenis kekayaan yang justru membuat manusia miskin: ketika terlalu banyak yang dimiliki membuatnya lupa bahwa semua itu bukan miliknya. Ada pula bentuk ketinggian yang diam-diam menjatuhkan: ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Di antara dua jebakan itu, kerendahan hati menemukan tempatnya. Bukan sebagai kelemahan, apalagi tanda ketidakmampuan, melainkan sebagai kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Sebuah kisah tentang Nabi Muhammad saw memperlihatkan makna itu melalui sesuatu yang tampak sederhana: segelas susu dan madu.

Suatu ketika, seorang lelaki datang membawa susu dan madu untuk diminum Rasulullah saw. Dua minuman yang sama-sama halal dan baik. Namun Rasulullah saw tidak meminumnya. Beliau bersabda:

شَرَابَانِ يُكْتَفَى بِأَحَدِهِمَا عَنْ صَاحِبِهِ، لَا أَشْرَبُهُ وَلَا أُحَرِّمُهُ، وَلَكِنِّي أَتَوَاضَعُ لِلَّهِ، فَإِنَّهُ مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللَّهُ، وَمَنِ اقْتَصَدَ فِي مَعِيشَتِهِ رَزَقَهُ اللَّهُ، وَمَنْ بَذَّرَ حَرَمَهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ اللَّهِ آجَرَهُ اللَّهُ

“Dua minuman yang salah satunya sudah cukup tanpa yang lain. Aku tidak meminumnya, tetapi juga tidak mengharamkannya. Aku melakukan itu karena ingin merendahkan diri di hadapan Allah. Sesungguhnya siapa yang merendahkan diri karena Allah, Allah akan mengangkatnya; siapa yang menyombongkan diri, Allah akan merendahkannya. Siapa yang hidup sederhana, Allah akan memberinya rezeki; siapa yang berlebih-lebihan, Allah akan menghalanginya. Dan siapa yang banyak mengingat Allah, Allah akan memberinya pahala”

Ada sesuatu yang penting dalam kalimat Nabi saw itu: “Aku tidak meminumnya, tetapi juga tidak mengharamkannya.”

Kalimat tersebut seakan memberi batas yang sangat halus antara pilihan pribadi dan hukum agama. Tidak semua yang ditinggalkan oleh seorang yang saleh otomatis menjadi sesuatu yang haram. Rasulullah saw meninggalkan dua kenikmatan itu bukan karena susu dan madu berubah status menjadi terlarang, melainkan karena beliau memilih jalan hidup yang lebih sederhana sebagai bentuk kerendahan hati di hadapan Allah.

Baca Juga  Kebangkitan Ilmiah Iran: Imam Khamenei dan Perlombaan Mengejar Ketertinggalan

Di titik ini, tawadhu’ memperoleh makna yang lebih dalam. Rendah hati bukan berarti memusuhi kenikmatan. Ia juga bukan keharusan untuk menolak semua yang baik. Yang lebih penting adalah kemampuan menempatkan kenikmatan pada tempatnya: sebagai sesuatu yang boleh dinikmati, tetapi tidak boleh membuat manusia kehilangan kesadaran tentang siapa dirinya.

Sebab kesombongan sering kali tidak datang dengan suara keras. Ia bisa tumbuh justru dari sesuatu yang kita anggap biasa: rumah yang semakin besar, jabatan yang semakin tinggi, pengaruh yang semakin luas, atau pengetahuan yang membuat kita merasa lebih pantas daripada orang lain.

Manusia kemudian mulai mengukur dirinya dengan miliknya.

Padahal ukuran itu mudah berubah.

Hari ini seseorang dipuji, besok dilupakan. Hari ini berada di puncak, beberapa tahun kemudian mungkin tidak lagi disebut. Apa yang dianggap sebagai bukti kehebatan bisa berubah menjadi sekadar catatan masa lalu. Karena itu, ketinggian yang paling aman bukanlah ketinggian sosial, melainkan ketinggian jiwa.

Itulah sebabnya Nabi saw menyebut janji yang begitu kontras: siapa yang tawadhu’ kepada Allah akan diangkat oleh-Nya, sedangkan siapa yang menyombongkan diri akan direndahkan.

Pengangkatan yang paling pasti bukan selalu berupa jabatan, kekayaan, atau popularitas. Ia adalah pengangkatan batin: seseorang menjadi lebih matang, lebih lapang, lebih berwibawa, dan lebih dekat kepada kemuliaan akhlak. Orang yang tidak sibuk meninggikan dirinya justru sering memiliki tempat yang tinggi dalam pandangan manusia.

Sebaliknya, “diturunkan” tidak selalu berarti kehilangan kedudukan di tengah masyarakat. Penurunan yang paling mendasar adalah ketika jiwa kehilangan kemuliaannya. Seseorang bisa saja masih memiliki jabatan, uang, dan pengaruh, tetapi perlahan menjadi kecil di dalam dirinya sendiri karena kesombongan.

Baca Juga  Saat Sebuah Bangsa Menolak Mengakui Musuh

Namun jika ditarik lebih jauh, pesan Nabi saw itu ternyata tidak hanya berbicara tentang tawadhu. Ia menghubungkannya dengan cara manusia memperlakukan kehidupan. Hidup sederhana mendatangkan rezeki, sementara pemborosan dapat menjadi sebab terhalangnya keberkahan. Banyak mengingat Allah mendatangkan pahala.

Seolah-olah ada satu benang yang menghubungkan semuanya: manusia yang tahu batas tidak mudah diperbudak oleh apa yang dimilikinya.

Ia menikmati tanpa diperbudak kenikmatan. Ia memiliki tanpa diperbudak kepemilikan. Ia berhasil tanpa menganggap keberhasilan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Dalam dunia yang semakin gemar mempertontonkan pencapaian, sikap semacam ini justru terasa semakin asing. Kita hidup di zaman ketika keberhasilan sering harus terlihat agar dianggap nyata. Rumah perlu diperlihatkan, perjalanan perlu diunggah, pencapaian perlu diumumkan. Bahkan kebaikan kadang merasa perlu memiliki penonton.

Di tengah keramaian semacam itu, tawadhu mengajarkan kesunyian yang berbeda: tidak semua yang kita miliki harus dipamerkan, tidak semua keberhasilan harus dijadikan alasan untuk meninggi, dan tidak semua kenikmatan harus diambil hanya karena kita mampu.

Pada akhirnya, rendah hati kepada Allah bukanlah tindakan mengecilkan diri. Justru sebaliknya. Ia adalah cara manusia membebaskan dirinya dari kebutuhan untuk selalu terlihat besar.

Mungkin di situlah letak paradoksnya: manusia yang sibuk meninggikan diri justru mudah jatuh, sementara manusia yang rela merendahkan hatinya di hadapan Tuhan memperoleh ketinggian yang tidak mudah direnggut siapa pun.

Sebab ada ketinggian yang diberikan manusia, dan ada ketinggian yang diberikan Tuhan. Yang pertama dapat hilang bersama jabatan dan pujian. Yang kedua tumbuh diam-diam di dalam jiwa.

Bagikan:
Terkait
Komentar