KHAMENEI.ID– Ada peristiwa-peristiwa besar yang membuat manusia merasa seolah dirinya menjadi aktor utama sejarah. Keramaian massa, kemenangan dalam perjuangan, atau keberhasilan melewati masa-masa sulit sering kali melahirkan rasa bangga yang perlahan berubah menjadi klaim: semua ini terjadi karena strategi kami, kepemimpinan kami, atau kerja keras kami.
Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa tidak semua keberhasilan dapat dijelaskan hanya oleh hitung-hitungan manusia.
Ada tangan yang tak terlihat, bekerja melampaui perencanaan, mengubah kemungkinan menjadi kenyataan.
Dalam tradisi Islam, kesadaran semacam itu bukan dimaksudkan untuk mengecilkan usaha manusia. Justru sebaliknya. Ia mengajarkan bahwa manusia wajib bekerja sebaik mungkin, tetapi tidak pernah berhak menganggap dirinya sebagai penguasa mutlak atas hasil. Di antara ikhtiar manusia dan hasil akhirnya, selalu ada ruang bagi kehendak Allah.
Ketika sebuah bangsa mampu bertahan melewati berbagai tekanan dan tantangan, mudah sekali muncul pertanyaan: siapa sebenarnya yang membuat semua itu mungkin? Apakah karena kecerdasan para pemimpin, kekuatan organisasi, atau semangat masyarakat?
Jawabannya sering kali lebih sederhana sekaligus lebih dalam. Semua faktor itu memang penting, tetapi tidak cukup menjelaskan mengapa sebuah peristiwa akhirnya berhasil, sementara peristiwa lain yang tampaknya memiliki persiapan serupa justru gagal.
Di titik inilah agama mengajak manusia melihat sejarah dengan cara yang lebih rendah hati.
Imam Khomeini qs pernah mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal setelah pembebasan Khorramshahr pada masa perang Iran-Irak: “Khorramshahr dibebaskan oleh Allah.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan bagi sebagian orang mungkin terasa berlebihan. Bukankah ribuan prajurit berjuang di medan perang? Bukankah mereka yang mengorbankan darah, tenaga, dan nyawa?
Namun justru di situlah letak kedalaman maknanya. Pengorbanan manusia adalah syarat perjuangan, tetapi kemenangan tetap merupakan anugerah. Banyak peperangan menyaksikan keberanian yang sama, pengorbanan yang sama, bahkan jumlah syuhada yang sama, tetapi hasilnya berbeda. Ada operasi militer yang gagal meski persiapannya matang. Ada pula kemenangan yang datang ketika secara matematis hampir mustahil diraih.
Sejarah tidak selalu tunduk pada logika manusia.
Namun jika ditarik lebih jauh, kesadaran akan campur tangan Ilahi tidak berarti manusia cukup menunggu mukjizat. Rahmat Allah tidak turun tanpa sebab. Justru manusialah yang diminta menyiapkan sebab-sebab datangnya rahmat itu.
Nabi Muhammad saw mengajarkan sebuah doa yang sangat indah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebab-sebab yang mendatangkan rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, keberuntungan dalam setiap kebaikan, dan keselamatan dari setiap dosa”
Doa ini menarik karena tidak hanya meminta rahmat. Nabi saw justru mengajarkan untuk memohon mujibat raḥmatik sebab-sebab yang membuat rahmat Allah turun.
Seolah-olah rahmat memang berasal sepenuhnya dari Allah, tetapi pintu-pintunya dapat dibuka atau ditutup oleh perilaku manusia sendiri.
Gagasan ini kemudian menyentuh sisi paling praktis dalam kehidupan beragama. Kita sering sibuk meminta pertolongan Tuhan, tetapi lupa bertanya apakah kehidupan kita sudah menjadi tempat yang layak bagi turunnya pertolongan itu.
Rahmat bukan sekadar hadiah yang datang tanpa alasan. Ia memiliki jalan masuk. Kejujuran, amanah, persatuan, pengorbanan, kesabaran, serta keberanian membela kebenaran adalah sebagian dari jalan itu. Sebaliknya, kedengkian, kesombongan, kemalasan, dan perpecahan justru menjadi penghalang yang menutup datangnya rahmat.
Dalam konteks yang lebih luas, prinsip ini berlaku bukan hanya bagi individu, melainkan juga masyarakat. Sebuah bangsa bisa memiliki sumber daya melimpah, teknologi canggih, dan kekuatan ekonomi besar. Namun apabila moral publiknya runtuh, rasa saling percaya hilang, dan kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama, keberkahan perlahan menghilang.
Sebaliknya, masyarakat yang menjaga keadilan, solidaritas, dan ketulusan sering kali mampu melewati berbagai krisis yang tampaknya mustahil diatasi.
Di situlah hubungan antara usaha manusia dan kehendak Tuhan menemukan keseimbangannya. Islam tidak mengajarkan fatalisme yang membuat manusia pasrah tanpa bekerja. Ia juga tidak mengajarkan kesombongan yang membuat manusia merasa mampu mengendalikan segalanya.
Yang diajarkan adalah bekerja sekeras mungkin sambil menyadari bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam genggaman Allah.
Kesadaran seperti ini justru melahirkan ketenangan. Ketika berhasil, seseorang tidak larut dalam kesombongan karena tahu keberhasilan itu bukan semata hasil dirinya. Ketika gagal, ia juga tidak tenggelam dalam keputusasaan karena memahami bahwa Allah selalu memiliki hikmah yang melampaui perhitungan manusia.
Mungkin inilah pelajaran paling penting yang sering terlupakan di tengah budaya modern yang mengagungkan pencapaian pribadi. Kita begitu mudah menghitung strategi, statistik, dan peluang, tetapi lupa menghitung satu hal yang tak kalah menentukan: apakah perilaku kita telah menjadi sebab turunnya rahmat Allah?
Sebab pada akhirnya, sejarah memang ditulis oleh manusia. Tetapi arah akhirnya tetap berada dalam kuasa Tuhan. Dan rahmat-Nya tidak pernah datang secara acak. Ia menghampiri mereka yang berusaha membuka pintunya melalui amal, akhlak, dan ketulusan.







