KHAMENEI.ID— Di zaman media sosial, manusia modern merasa dirinya paling bebas dalam sejarah. Kita bebas memilih tontonan, musik, gaya hidup, cara berpakaian, bahkan cara berpikir. Semua tersedia di layar kecil dalam genggaman tangan. Tinggal klik, lalu dunia datang menghampiri. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: benarkah semua itu pilihan kita sendiri?
Atau jangan-jangan kita hanya sedang menikmati sesuatu yang sejak awal sudah dipilihkan untuk kita?
Di tengah derasnya arus globalisasi budaya, perbedaan antara interaksi budaya dan serangan budaya menjadi semakin kabur. Keduanya tampak serupa di permukaan: sama-sama membawa unsur asing, sama-sama melibatkan pertukaran nilai dan gaya hidup. Tetapi sesungguhnya keduanya berbeda secara mendasar. Yang satu memperkaya manusia, yang lain diam-diam melumpuhkan kesadaran.
Interaksi budaya, ibarat seseorang datang ke pasar makanan. Ia melihat aneka buah, sayur, dan hidangan. Lalu ia memilih sendiri apa yang cocok dengan selera, kebutuhan, dan kondisi tubuhnya. Ada kebebasan memilih. Ada kesadaran. Ada pertimbangan.
Begitu pula dalam kebudayaan. Sebuah bangsa boleh belajar dari bangsa lain, mengambil ilmu, teknologi, seni, atau kebiasaan yang dianggap baik. Islam bahkan sejak awal mendorong keterbukaan seperti itu. Sebuah hadis terkenal menyatakan:
اطلبوا العلم ولو بالصین
“Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.”
Pesan itu lahir lebih dari seribu tahun lalu, ketika Cina dianggap wilayah yang sangat jauh dari dunia Arab. Maknanya jelas: ilmu dan kebijaksanaan tidak punya batas geografis. Belajar dari peradaban lain bukan ancaman. Justru itu tanda peradaban yang hidup.
Karena itu, dalam sejarah Islam klasik, umat Muslim pernah menyerap filsafat Yunani, ilmu kedokteran Persia, matematika India, hingga teknik administrasi Romawi. Tetapi mereka tidak menelannya mentah-mentah. Ada proses memilih, menyaring, lalu mengolahnya menjadi bagian dari identitas sendiri.
Di situlah letak perbedaannya dengan serangan budaya.
Serangan budaya tidak memberi ruang memilih. Ia bekerja diam-diam, perlahan, dan sering kali tanpa disadari. Seperti seseorang yang ditidurkan, dipegang tangan dan kakinya, lalu disuntik dengan zat yang bahkan tidak ia ketahui manfaat atau bahayanya.
Metafora itu terasa sangat relevan hari ini.
Budaya modern tidak lagi datang melalui penjajahan fisik seperti masa lalu. Ia masuk melalui film, algoritma media sosial, iklan, influencer, industri hiburan, hingga standar kecantikan global. Orang tidak merasa sedang dipaksa. Justru mereka merasa sedang memilih secara bebas. Padahal sering kali pilihan itu telah dibentuk sejak awal oleh sistem yang sangat besar dan canggih.
Kita mengira memilih gaya hidup, padahal selera kita dibentuk industri. Kita merasa menentukan standar sukses, padahal ukuran keberhasilan sudah dirancang oleh pasar. Kita menganggap diri modern ketika meniru budaya tertentu, meski sering tak sempat bertanya: apakah semua itu benar-benar cocok dengan nilai dan kebutuhan kita sendiri?
Ada istilah yang cukup menarik untuk diulas yaitu “pikiran terjemahan”.
Istilah ini bukan sekadar soal menerjemahkan bahasa asing. Yang dimaksud adalah cara berpikir pinjaman, ketika sebuah bangsa kehilangan kemampuan melihat dunia dengan kacamatanya sendiri. Semua ukuran diambil dari luar. Semua konsep dianggap sah hanya jika datang dari pusat-pusat budaya global. Akibatnya, masyarakat perlahan kehilangan kepercayaan diri intelektual.
Fenomena itu bisa dilihat di banyak negara berkembang. Ada generasi yang lebih mengenal tokoh budaya pop asing dibanding sejarah bangsanya sendiri. Ada anak muda yang fasih mengikuti tren global tetapi merasa kuno ketika berbicara tentang akar tradisinya. Bahkan kadang bahasa sendiri dianggap kurang bergengsi dibanding bahasa asing.
Yang menarik, terdapat ironi besar dalam dunia modern. Negara-negara Barat sering berbicara tentang kebebasan dan toleransi budaya. Namun ketika simbol budaya lain muncul di ruang publik mereka, responsnya tidak selalu ramah.
Contoh yang disebut adalah polemik jilbab di Prancis. Negara yang selama ini dikenal sebagai simbol kebebasan justru pernah gaduh hanya karena beberapa pelajar Muslim memakai penutup kepala di sekolah. Perdebatan berlangsung keras, seolah sepotong kain menjadi ancaman bagi republik modern.
Di titik itu tampak bahwa semua bangsa sebenarnya memiliki batas budaya yang ingin mereka pertahankan. Tidak ada peradaban yang sepenuhnya netral. Semua memiliki nilai inti yang dianggap penting dan layak dijaga.
Masalahnya, sering kali bangsa lain didorong untuk membuka seluruh pintu budayanya atas nama modernitas, sementara negara-negara besar sendiri tetap menjaga identitas mereka dengan ketat.
Karena itu, teks ini tidak mengajak orang menutup diri dari dunia luar. Pesannya justru lebih subtil: belajarlah, tetapi jangan kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Ambillah yang bermanfaat, tetapi jangan menyerahkan seluruh kesadaran kepada arus global yang belum tentu memahami kebutuhan masyarakat kita.
Sebab budaya bukan sekadar pakaian atau hiburan. Ia menentukan cara manusia melihat dirinya sendiri. Ketika sebuah bangsa kehilangan keberanian untuk menilai mana yang sesuai dan mana yang merusak, pada saat itulah ia mulai kehilangan arah.
Dan mungkin inilah tantangan terbesar generasi modern: bagaimana tetap terbuka terhadap dunia tanpa larut menjadi salinan dari dunia itu sendiri.
Sebab tidak semua yang global otomatis universal. Tidak semua yang populer otomatis benar. Dan tidak semua yang tampak sebagai pilihan lahir dari kebebasan yang sejati.






