Mengapa Imam Khamenei Menyebut Amerika sebagai Simbol “Jahiliah Modern”?

KHAMENEI.ID – Ketika berbicara tentang “jahiliah”, banyak orang langsung membayangkan masyarakat Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw.: kehidupan yang dipenuhi penyembahan berhala, ketidakadilan, fanatisme suku, dan kerusakan moral. Namun, menurut Imam Ali Khamenei qs, jahiliah bukan sekadar fenomena sejarah. Ia adalah pola pikir dan sistem kehidupan yang dapat muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.

Dalam pandangan beliau, dunia modern masih menyimpan wajah jahiliah itu. Bahkan, jika harus menunjuk contoh yang paling nyata, Imam Khamenei menyebut Amerika Serikat sebagai representasi paling jelas dari apa yang ia sebut sebagai “jahiliah modern.”

Pernyataan ini tentu bukan ditujukan kepada rakyat Amerika sebagai individu. Kritik Imam Khamenei diarahkan kepada sistem politik, ekonomi, dan budaya yang, menurutnya, telah menjadikan ketidakadilan sebagai bagian dari mekanisme kekuasaan.

Beliau berpendapat bahwa jahiliah modern tidak muncul dengan tingkat yang sama di semua negara. Namun, Amerika dianggap menampilkan bentuknya yang paling lengkap karena berbagai persoalan moral, sosial, dan politik bertemu dalam satu sistem yang memiliki pengaruh global.

Salah satu kritik utama Imam Khamenei adalah meningkatnya ketimpangan sosial di negeri yang dikenal sebagai salah satu negara terkaya di dunia.

Menurut beliau, kekayaan nasional di Amerika semakin terkonsentrasi pada kelompok elite ekonomi, sementara kesenjangan terus melebar. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi dan kekuatan ekonomi yang luar biasa, masih ada warga yang meninggal akibat cuaca ekstrem karena tidak memiliki tempat tinggal atau akses terhadap kebutuhan dasar.

Bagi Imam Khamenei, fenomena semacam itu menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam orientasi sebuah sistem. Kekayaan yang melimpah tidak otomatis menghadirkan keadilan apabila distribusinya dikuasai oleh logika keuntungan semata.

Baca Juga  Al-Qur'an dan Seluruh Kehidupan: Mengapa Kitab Suci Tak Pernah Membatasi Diri pada Urusan Ibadah?

Lebih jauh lagi, beliau menggambarkan Amerika sebagai negara yang tidak hanya hidup di tengah krisis, tetapi juga memperoleh keuntungan dari keberadaan krisis.

Dalam pandangannya, berbagai konflik internasional, ketegangan politik, hingga instabilitas di sejumlah kawasan sering kali justru memperkuat kepentingan strategis maupun ekonomi Amerika. Karena itu, beliau menyebut Amerika sebagai “rezim pembuat krisis” (crisis maker) sekaligus “rezim yang hidup dari krisis” (crisis dependent).

Artinya, stabilitas dunia tidak selalu menguntungkan sistem tersebut. Sebaliknya, konflik berkepanjangan sering menjadi ruang bagi ekspansi politik, ekonomi, maupun militer.

Imam Khamenei juga menyoroti krisis intelektual yang, menurutnya, mulai diakui oleh sebagian pemikir Barat sendiri.

Beliau mengingatkan bahwa pernah ada masa ketika liberalisme dipromosikan sebagai “akhir sejarah”—sebuah gagasan yang menyatakan bahwa demokrasi liberal Barat merupakan bentuk final perkembangan politik manusia. Namun, seiring munculnya berbagai krisis ekonomi, sosial, dan politik, sebagian kalangan akademik Barat mulai mempertanyakan optimisme tersebut.

Menurut Imam Khamenei, perkembangan ini menunjukkan bahwa model peradaban yang selama puluhan tahun dipandang sebagai puncak kemajuan ternyata menyimpan persoalan-persoalan mendasar yang belum berhasil diselesaikan.

Salah satu contoh yang paling sering beliau angkat adalah persoalan diskriminasi rasial di Amerika.

Dalam pandangannya, kasus-kasus kekerasan terhadap warga kulit hitam bukanlah sekadar kesalahan individu aparat, melainkan cermin dari problem yang lebih dalam. Imam Khamenei merujuk pada peristiwa ketika seorang warga kulit hitam tewas setelah seorang polisi menekan lehernya dengan lutut di depan banyak orang—sebuah tragedi yang memicu gelombang protes luas di berbagai negara.

Bagi beliau, peristiwa itu bukan hanya menggambarkan tindakan brutal seorang aparat, tetapi juga memperlihatkan krisis moral yang melanda sistem sosial dan politik yang lebih besar.

Baca Juga  Mab'ats Nabi Muhammad: Ketika Seluruh Nabi Menanti Sang Penutup Kenabian

Imam Khamenei kemudian menggunakan peristiwa tersebut sebagai metafora hubungan Amerika dengan bangsa-bangsa lain.

Menurut beliau, cara Amerika memperlakukan negara-negara yang lebih lemah tidak berbeda dengan tindakan polisi yang menekan leher seorang warga tak berdaya. Perbedaannya hanya terletak pada skalanya. Jika dalam satu kasus korbannya adalah seorang individu, maka dalam hubungan internasional korbannya bisa berupa sebuah bangsa.

Pandangan ini menjadi dasar kritik Imam Khamenei terhadap berbagai bentuk intervensi politik, tekanan ekonomi, dan penggunaan sanksi yang menurutnya telah menjadi instrumen dominasi global.

Beliau juga menilai bahwa berbagai negara Barat lainnya, meskipun dalam tingkat yang berbeda, menunjukkan gejala serupa sesuai kapasitas dan pengaruh yang mereka miliki. Karena itu, kritik beliau tidak berhenti pada satu negara, melainkan diarahkan kepada paradigma peradaban yang menjadikan kekuatan material sebagai ukuran utama keberhasilan.

Meski demikian, kritik Imam Khamenei tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap seluruh pencapaian ilmiah atau teknologi Barat. Yang beliau persoalkan adalah fondasi moral yang menopang peradaban tersebut. Sebuah masyarakat bisa sangat maju dalam inovasi, tetapi tetap mengalami kemunduran apabila kehilangan keadilan, belas kasih, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Karena itulah beliau memandang bahwa persoalan terbesar dunia modern bukanlah kurangnya teknologi, melainkan krisis nilai. Ketika kekuasaan lebih dihargai daripada keadilan, keuntungan lebih penting daripada kemanusiaan, dan dominasi lebih diutamakan daripada perdamaian, maka peradaban modern, menurut Imam Khamenei, sedang mengulang kembali pola jahiliah dalam wajah yang baru.

Bagi beliau, solusi atas krisis tersebut bukan sekadar perubahan kebijakan, melainkan kembalinya manusia kepada nilai-nilai ilahi yang menempatkan keadilan, akhlak, dan martabat manusia sebagai fondasi kehidupan bersama.

Bagikan:
Terkait
Komentar