KHAMENEI.ID – Ada satu ciri munafik yang mungkin lebih berbahaya daripada sekadar kebohongan. Mereka tidak hanya menyembunyikan niat sebenarnya, tetapi juga membungkus kerusakan dengan nama kebaikan. Mereka tidak datang sebagai musuh yang terang-terangan menghunus pedang. Mereka datang dengan wajah yang tampak bersahabat, membawa slogan perbaikan, tetapi diam-diam menusukkan belati ke punggung sebuah gerakan yang sedang tumbuh menuju kebenaran.
Al-Qur’an menggambarkan karakter ini dengan sangat tajam dalam Surah Al-Baqarah ayat 11:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.'” (QS. Al-Baqarah: 11)
Dalam tafsirnya, Imam Ali Khamenei qs menjelaskan bahwa bahkan sebelum ayat ini menyebut jawaban kaum munafik, Al-Qur’an sebenarnya sudah lebih dahulu menjatuhkan penilaian terhadap mereka. Ketika Al-Qur’an mengatakan, “janganlah berbuat kerusakan di bumi,” itu berarti dari sudut pandang wahyu, mereka memang sedang melakukan kerusakan.
Pertanyaannya, kerusakan seperti apa?
Kerusakan yang Menyerang dari Dalam
Biasanya orang membayangkan kerusakan sebagai tindakan kriminal, peperangan, atau penghancuran fisik. Namun Al-Qur’an menunjukkan bentuk kerusakan yang lebih halus sekaligus lebih berbahaya: merusak sebuah masyarakat dari dalam.
Menurut penjelasan Imam Khamenei, tidak ada kerusakan yang lebih besar daripada menipu orang-orang beriman dan menusukkan belati dari belakang kepada sebuah gerakan yang sedang berjuang menuju nilai-nilai luhur.
Bayangkan sebuah masyarakat yang sedang berusaha bangkit. Mereka bergerak dengan susah payah menuju keadilan, kebebasan, dan penghambaan kepada Allah swt. Jalan yang mereka tempuh sudah penuh dengan batu, duri, dan rintangan. Mereka jatuh bangun, tetapi tetap melangkah.
Lalu datang seseorang yang mengaku bagian dari mereka, berjalan di tengah-tengah mereka, berbicara dengan bahasa yang sama, tetapi diam-diam berusaha menghancurkan semangat, memecah barisan, dan membuka jalan bagi musuh.
Inilah yang disebut Al-Qur’an sebagai fasad—kerusakan.
Strategi Munafik di Masa Rasulullah saw
Fenomena ini bukan hal baru. Pada masa Rasulullah saw, kaum munafik menggunakan berbagai cara untuk melemahkan Islam yang sedang tumbuh.
Mereka mengejek kaum Muslim agar kehilangan kepercayaan diri. Mereka menyebarkan keraguan dan kebingungan. Bahkan Al-Qur’an merekam salah satu strategi mereka:
وَقَالَت طَّائِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Segolongan Ahli Kitab berkata: ‘Berimanlah pada awal siang kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman, lalu ingkarilah pada akhirnya agar mereka kembali (ragu dan meninggalkan iman mereka).'” (QS. Ali ‘Imran: 72)
Mereka pura-pura beriman pada pagi hari, lalu mengumumkan pengingkaran pada sore hari. Tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan menciptakan kesan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Islam sehingga orang lain ikut ragu.
Selain itu, mereka juga menjalin hubungan dengan kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam. Mereka berusaha mengundang ancaman dari luar dan menjanjikan bantuan dari dalam. Dengan kata lain, mereka bekerja sebagai unsur perusak yang beroperasi di jantung masyarakat Muslim.
Fasad Modern: Ketika Kemampuan Dipakai untuk Merusak
Imam Khamenei kemudian memperluas makna ayat ini ke berbagai zaman.
Kerusakan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Seseorang bisa menggunakan kekayaan, pengaruh sosial, kemampuan ilmiah, media, seni, sastra, atau budaya untuk melemahkan keyakinan masyarakat terhadap nilai-nilai yang benar.
Seorang penulis dapat menulis untuk menghancurkan harapan.
Seorang seniman dapat berkarya untuk meremehkan keyakinan.
Seorang intelektual dapat menggunakan ilmunya untuk menanamkan keraguan terhadap kebenaran yang telah dipahami masyarakat.
Secara lahiriah semua itu mungkin tampak sebagai aktivitas intelektual, kebudayaan, atau kebebasan berekspresi. Namun jika tujuan akhirnya adalah melemahkan sebuah gerakan yang berdiri di atas nilai-nilai ilahi dan kemanusiaan, maka Al-Qur’an memasukkannya ke dalam kategori fasad.
Karena itu, menurut tafsir ini, ukuran kerusakan bukan hanya bentuk lahiriahnya, tetapi arah dan dampaknya terhadap kehidupan moral dan spiritual masyarakat.
“Kami Hanya Ingin Memperbaiki”
Yang paling menarik adalah jawaban kaum munafik:
قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
“Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”
Mereka tidak mengakui perbuatannya sebagai kerusakan. Bahkan sebaliknya, mereka mengklaim diri sebagai reformis, pembaru, dan penyelamat.
Inilah salah satu pelajaran paling penting dari ayat ini. Orang yang paling berbahaya sering kali bukan mereka yang secara terbuka memusuhi kebenaran, melainkan mereka yang melakukan perlawanan sambil mengenakan pakaian kebaikan.
Mereka menyebut perpecahan sebagai kritik konstruktif.
Mereka menyebut pelemahan keyakinan sebagai pencerahan.
Mereka menyebut sabotase sebagai reformasi.
Mereka menyebut pengkhianatan sebagai rasionalitas.
Karena itu, Al-Qur’an mengajarkan agar manusia tidak hanya melihat slogan, tetapi juga memperhatikan hakikat dan akibat dari sebuah tindakan.
Pertanyaan yang Terus Relevan
Imam Khamenei menegaskan bahwa ayat ini tidak terbatas pada kelompok tertentu dalam sejarah. Ayat ini adalah pertanyaan yang terus bergema sepanjang zaman.
Ketika sebuah masyarakat bergerak menuju tujuan yang benar, selalu akan ada pihak yang berusaha menghentikannya. Mereka mungkin memiliki motif kekuasaan, kepentingan ekonomi, ambisi pribadi, atau keterikatan dengan kekuatan luar. Bentuknya berubah-ubah, tetapi polanya tetap sama.
Karena itu, ayat ini seakan mengajukan pertanyaan sederhana kepada para perusak:
“Apa sebenarnya yang kalian inginkan?”
Mengapa menghalangi sebuah masyarakat yang sedang bergerak menuju kebaikan?
Mengapa menanamkan keraguan ketika orang lain sedang membangun keyakinan?
Mengapa menyebarkan perpecahan ketika persatuan sedang tumbuh?
Al-Qur’an menilai semua itu sebagai fasad. Dan yang lebih berbahaya, pelakunya sering kali tidak datang sebagai perusak, melainkan sebagai orang yang mengaku sedang melakukan perbaikan.
Di sinilah letak salah satu wajah paling halus dari kemunafikan: merusak sambil mengklaim diri sebagai penyelamat.







