KHAMENEI.IR – Ada banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam yang berbicara tentang keberanian. Namun hanya sedikit yang berbicara tentang keberanian dengan harga yang begitu mahal: membawa orang-orang yang paling dicintai ke tengah medan pembuktian kebenaran.
Di sinilah letak keistimewaan peristiwa Mubahalah. Dalam pandangan Imam Ali Khamenei, Mubahalah bukan sekadar debat teologis antara Nabi Muhammad saw dan delegasi Nasrani Najran. Ia adalah sebuah deklarasi besar tentang nilai kebenaran. Sebuah pelajaran bahwa ketika kebenaran harus ditegakkan, seseorang tidak cukup hanya berbicara; ia harus siap mempertaruhkan apa yang paling berharga dalam hidupnya.
Karena itulah Mubahalah menjadi salah satu peristiwa paling unik dalam sejarah kenabian.
Ketika Nabi Membawa Orang-Orang Tercinta
Peristiwa Mubahalah berangkat dari firman Allah swt dalam Surah Ali Imran ayat 61:
فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ
“Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu…” (QS. Ali Imran: 61)
Ayat ini turun ketika dialog panjang antara Nabi Muhammad saw dan para pemuka Kristen Najran tidak menghasilkan kesepakatan. Sebagai langkah terakhir untuk menyingkap kebenaran, Allah swt memerintahkan Nabi melakukan mubahalah—yakni memohon agar laknat Allah ditimpakan kepada pihak yang berdusta.
Yang menarik bukan hanya perintah itu, melainkan siapa yang dibawa Nabi ke arena mubahalah.
Beliau tidak membawa pasukan. Tidak membawa para pembesar Quraisy. Tidak pula membawa seluruh sahabat. Nabi justru menggandeng orang-orang yang paling dekat dengan hatinya: Imam Hasan as, Imam Husain as, Sayidah Fatimah az-Zahra as, dan Imam Ali bin Abi Thalib as.
Dalam ungkapan Imam Ali Khamenei, belum pernah tercatat sebelumnya seorang nabi, demi menyampaikan kebenaran agama, membawa anak-anaknya, putrinya, dan orang-orang yang paling dicintainya ke tengah sebuah pertaruhan spiritual sebesar itu.
Di situlah letak keagungan Mubahalah.
Seolah Nabi ingin mengatakan bahwa kebenaran bukan sekadar teori yang diucapkan dari mimbar. Kebenaran adalah sesuatu yang layak dipertaruhkan dengan seluruh keberadaan manusia.
Kebenaran yang Tidak Takut Diuji
Mubahalah mengandung pesan yang sangat kuat bagi dunia modern yang sering terjebak dalam relativisme: bahwa kebenaran memiliki keberanian untuk diuji.
Nabi Muhammad saw datang dengan keyakinan penuh. Beliau tidak menyembunyikan keluarganya. Beliau tidak menjauhkan orang-orang tercinta dari risiko. Justru mereka yang dibawa ke garis depan.
Mengapa?
Karena orang yang ragu terhadap keyakinannya tidak akan pernah mempertaruhkan keluarganya.
Orang yang hanya mengejar kemenangan politik mungkin bisa mengorbankan orang lain. Namun orang yang memperjuangkan kebenaran justru menghadirkan dirinya sendiri dan orang-orang yang paling dicintainya sebagai saksi.
Ketika delegasi Najran melihat siapa yang datang bersama Nabi, mereka memahami bahwa ini bukan permainan retorika. Ini adalah keyakinan yang lahir dari kepastian. Riwayat-riwayat sejarah menyebutkan bahwa mereka akhirnya memilih mundur dari mubahalah.
Bukan karena kalah dalam perdebatan semata, melainkan karena melihat ketulusan dan keyakinan yang terpancar dari keluarga Nabi.
Mubahalah yang Berulang di Karbala
Menurut Imam Ali Khamenei, pesan Mubahalah tidak berhenti pada peristiwa Najran. Ia menemukan manifestasi yang lebih dahsyat dalam tragedi Karbala.
Jika Mubahalah adalah deklarasi kebenaran dalam bentuk dialog, maka Karbala adalah deklarasi kebenaran dalam bentuk pengorbanan.
Imam Husain as mengetahui apa yang akan terjadi di padang Karbala. Beliau memahami bahwa perjalanan itu akan berujung pada kesyahidan. Namun yang menarik, beliau tidak berangkat sendirian.
Beliau membawa Sayidah Zainab sa. Membawa anak-anaknya. Membawa keluarganya. Membawa orang-orang yang paling dicintainya.
Mengapa?
Karena tujuan utama Karbala bukan sekadar perlawanan militer. Tujuan utamanya adalah menyampaikan pesan kebenaran kepada sejarah.
Imam Husain as sendiri pernah menjelaskan urgensi amar makruf dan nahi mungkar dalam menghadapi kekuasaan zalim. Dalam salah satu khutbahnya beliau menyatakan:
“Barang siapa melihat penguasa zalim yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, melanggar perjanjian Allah, menentang sunnah Rasul-Nya, lalu ia tidak mengubah keadaan itu dengan tindakan atau perkataan, maka pantas bagi Allah menempatkannya bersama penguasa tersebut.”
Di sinilah benang merah antara Mubahalah dan Karbala terlihat jelas.
Keduanya berbicara tentang tanggung jawab menyampaikan kebenaran. Keduanya menunjukkan bahwa diam di hadapan penyimpangan bukan pilihan. Dan keduanya memperlihatkan bahwa terkadang harga untuk menerangi jalan manusia adalah pengorbanan yang sangat besar.
Dakwah yang Lebih Mahal dari Kata-Kata
Sering kali dakwah dipahami hanya sebagai ceramah, tulisan, atau pidato. Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa dakwah sejati jauh lebih luas dari itu.
Dakwah adalah menghadirkan kebenaran di tengah kebingungan.
Dakwah adalah menjelaskan jalan ketika masyarakat kehilangan arah.
Dakwah adalah keberanian berdiri di tengah arus ketika semua orang memilih diam.
Mubahalah dan Karbala mengajarkan bahwa efektivitas dakwah tidak selalu diukur dari banyaknya kata yang diucapkan, melainkan dari seberapa besar pengorbanan yang menyertainya.
Karena itulah kedua peristiwa ini terus hidup dalam ingatan umat Islam. Bukan hanya sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai simbol komitmen terhadap kebenaran.
Menjaga Warisan Mubahalah
Di tengah dunia yang dipenuhi informasi, propaganda, dan kebingungan moral, pelajaran Mubahalah terasa semakin relevan. Kita hidup pada masa ketika kebenaran sering kali dikaburkan oleh kepentingan, ketika suara yang paling keras dianggap paling benar, dan ketika popularitas lebih dihargai daripada integritas.
Peristiwa Mubahalah mengingatkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah jumlah pengikut atau kekuatan media. Kebenaran lahir dari keyakinan, kejujuran, dan keberanian untuk mempertahankannya.
Sedangkan Karbala mengajarkan bahwa jika kebenaran harus dibayar dengan pengorbanan, maka pengorbanan itu tidak pernah sia-sia.
Mungkin itulah pesan terdalam yang ingin ditunjukkan Nabi Muhammad saw di padang Mubahalah dan yang kemudian dilanjutkan Imam Husain as di Karbala: bahwa sejarah tidak diubah oleh mereka yang sekadar berbicara tentang kebenaran, melainkan oleh mereka yang bersedia mengorbankan sesuatu demi kebenaran itu.
Dan sering kali, sesuatu yang dikorbankan itu adalah hal yang paling mereka cintai.







