Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 28): Ketika Al-Qur’an Menantang Orang yang Ragu

KHAMENEI.ID –

Dalam penafsiran Imam Khamenei pada Ayat 23–24 Surah Al-Baqarah, Al-Quran tidak sekadar meminta manusia percaya. Ia memberi ruang bagi keraguan, lalu mengubah keraguan itu menjadi sebuah tantangan yang harus dijawab.

Pada ayat-ayat sebelumnya, Al-Qur’an mengajak manusia mengenali Allah swt melalui penciptaan dirinya dan seluruh lingkungan kehidupannya. Manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah swt yang menciptakannya, lalu diingatkan agar tidak mempersekutukan-Nya. Penghambaan itu bukan ajakan tanpa alasan, melainkan berangkat dari pengenalan terhadap sumber kehidupan, ilmu, dan kekuasaan yang berada di balik seluruh penciptaan. Kini, setelah berbicara tentang manusia dan Tuhannya, Al-Qur’an membawa persoalan itu satu langkah lebih jauh: bagaimana jika manusia masih meragukan wahyu yang menjadi dasar ajakan tersebut?

Ada perbedaan antara orang yang tidak tahu dan orang yang ragu. Yang pertama membutuhkan penjelasan. Yang kedua membutuhkan pembuktian. Karena itu, ketika Al-Qur’an berhadapan dengan manusia yang masih menyangsikan asal-usul wahyu, ia tidak sekadar berkata: percayalah. Ia justru membuka pintu perdebatan.

“Kalau kalian memang ragu,” kira-kira demikian tantangan itu berbunyi, “cobalah buktikan.”

Di sinilah Surah Al-Baqarah ayat 23 mengambil posisi yang menarik. Setelah berbicara tentang manusia, penciptaan, penghambaan, dan hubungan manusia dengan Tuhan, Al-Qur’an membawa pembicaraan pada sumber wahyu itu sendiri.

Allah swt berfirman:

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kamu berada dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah saksi-saksimu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Ada satu kata yang oleh Imam Ali Khamenei diberi perhatian khusus: “عبدنا”, hamba Kami.

Baca Juga  Lembutnya Karunia Allah: Saat Usaha Manusia Menemukan Maknanya

Sebelumnya, manusia diperintahkan: “اعْبُدُوا رَبَّكُمُ”—sembahlah Tuhanmu. Sekarang, di hadapan mereka ditunjukkan contoh konkret dari apa yang dimaksud dengan penghambaan itu: “عَلَىٰ عَبْدِنَا”—yang Kami turunkan kepada hamba Kami.

Seolah-olah Al-Qur’an tidak hanya mengatakan, “Jadilah hamba Tuhan.” Ia sekaligus menunjuk kepada sosok yang sedang berdiri di hadapan mereka: Nabi Muhammad saw. Dialah gambaran nyata manusia yang mencapai kedudukan penghambaan kepada Allah.

Dengan demikian, kata “عبدنا” bukan sekadar sebutan. Di dalamnya terdapat penghormatan dan perhatian khusus Allah swt kepada hamba pilihan-Nya. Al-Qur’an juga menggunakan penyebutan semacam ini untuk Nabi Ayyub as dan Nabi Dawud as:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ
“Dan ingatlah hamba Kami, Ayyub.”
(QS. Shad: 41)

Dan:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Dan ingatlah hamba Kami, Dawud yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia selalu kembali kepada Allah.”
(QS. Shad: 17)

Dalam konteks ayat Al-Baqarah ini, Nabi Muhammad saw. tidak disebut dengan namanya, tetapi dengan kedudukannya sebagai hamba Allah. Ada hubungan yang kuat dengan pembahasan sebelumnya: manusia diperintahkan menuju penghambaan, dan Rasulullah saw ditampilkan sebagai perwujudan konkret dari kedudukan tersebut.

Namun pertanyaan berikutnya lebih tajam: bagaimana jika seseorang masih ragu terhadap apa yang dibawa oleh “hamba Kami” itu?

Al-Qur’an tidak menyuruh mereka mematikan keraguan begitu saja. Ia memberikan jalan untuk mengujinya:

فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ

“Datangkanlah satu surah yang semisal dengannya.”

Inilah tantangan Al-Qur’an.

Tantangan itu tentu bukan berarti setiap orang yang tidak memiliki kemampuan bersastra harus membuat sendiri sebuah surah, lalu jika gagal ia dianggap telah membuktikan kebenaran Al-Qur’an. Yang dimaksud adalah kemampuan kolektif manusia yang memiliki keahlian. Pada masa turunnya Al-Qur’an, bangsa Arab memiliki para ahli bahasa dan penyair yang sangat menguasai kefasihan. Mereka yang menolak dakwah Nabi mempunyai kesempatan untuk menggunakan kemampuan tersebut.

Baca Juga  Jalan Menuju Bashirah di Tengah Banjir Informasi

Jika persoalannya hanya kemampuan menyusun kata, bukankah tantangan itu semestinya mudah dijawab?

Tetapi menurut penjelasan Imam Ali Khamenei, ketidakmampuan mereka menghadapi tantangan itu justru menjadi bagian dari persoalan. Mereka tidak hanya berhadapan dengan rangkaian kata. Mereka berhadapan dengan sebuah wahyu yang memiliki daya pengaruh dan membawa sebuah seruan baru. Ia menarik hati manusia—terutama orang-orang muda yang belum terlalu dibebani fanatisme dan kepentingan lama.

Karena tidak mampu menghadapi pengaruh itu dengan tandingan yang setara, sebagian penentang kemudian menempuh jalan lain. Mereka mencoba menghalangi orang-orang agar tidak mendengar Nabi. Pada musim haji, misalnya, orang-orang yang datang ke Mekah diperingatkan agar tidak mendengarkan perkataan Muhammad.

Di titik ini, menurut tafsir tersebut, terlihat sebuah pergeseran penting: ketika argumen tidak mampu dihentikan dengan argumen, muncul upaya menghentikan orang agar tidak mendengar argumen itu sama sekali.

Tetapi tantangan Al-Qur’an belum selesai.

Allah swt berfirman:

وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan panggillah saksi-saksimu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Ini menarik. Al-Qur’an bahkan memberi ruang kepada pihak yang menolak untuk membawa saksi mereka sendiri. Sebab bagi orang yang benar-benar ragu, persoalannya adalah mencari kepastian. Ia dapat menguji, membandingkan, dan menghadirkan orang-orang yang dianggap mampu memberikan penilaian.

Adapun Allah adalah saksi tertinggi. Al-Qur’an mengatakan:

قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ

“Katakanlah: Allah menjadi saksi antara aku dan kamu.”
(QS. Al-An’am: 19)

Namun bagi orang yang belum menerima otoritas wahyu, kesaksian Allah tentu belum menjadi titik awal perdebatan yang mereka terima. Maka Al-Qur’an mengembalikan mereka kepada apa yang mereka anggap sebagai otoritas: bawalah saksi-saksi kalian sendiri.

Baca Juga  Imam Ali dan Seni Menahan Pedang: Ketika Kesabaran Menjadi Jalan Keadilan

Dengan begitu, ayat ini membedakan antara keraguan yang jujur dan penolakan yang lahir dari kedegilan.

Orang yang benar-benar ragu masih memiliki jalan. Ia dapat mencari jawaban. Ia dapat menguji. Ia dapat membandingkan. Tetapi jika seseorang telah memilih untuk menolak, bahkan sebelum memberikan kesempatan kepada dirinya untuk menguji, persoalannya bukan lagi sekadar keraguan.

Karena itu ayat berikutnya membawa peringatan yang lebih keras:

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَن تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Jika kamu tidak mampu melakukannya—dan kamu tidak akan mampu melakukannya—maka takutlah akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

Kalimat “وَلَن تَفْعَلُوا”—“dan kamu tidak akan mampu melakukannya”—membawa tantangan itu sampai pada titik akhirnya.

Keraguan telah diberi jalan untuk mencari kepastian. Tantangan telah diberikan. Saksi dipersilakan didatangkan. Tetapi setelah semua itu, ketika tantangan tersebut tidak dapat dijawab, manusia tidak lagi berada pada posisi yang sama.

Dari sinilah ayat 23 bergerak menuju ayat 24: dari sebuah tantangan intelektual menuju peringatan moral dan spiritual.

Al-Qur’an seakan berkata bahwa iman bukanlah tuntutan untuk menutup mata. Justru manusia diminta melihat, berpikir, menguji, dan mengambil sikap. Tetapi setelah kebenaran dipertarungkan secara terbuka, persoalan berikutnya adalah apa yang dilakukan manusia terhadap hasil pencariannya.

Di sana, keraguan tidak lagi sekadar persoalan pikiran. Ia menjadi persoalan pilihan.

Dan pilihan manusia, pada akhirnya, membawa konsekuensinya sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar