Sejauh Apa Kita Peduli? Pelajaran Nurani dari Palestina 

KHAMENEI.ID– Sudah lebih dari enam dekade, Palestina menjadi luka yang tak kunjung sembuh di tubuh dunia Islam. Generasi berganti, pemimpin datang dan pergi, rezim tumbang lalu digantikan rezim baru, tetapi satu kenyataan tetap bertahan: penderitaan rakyat Palestina terus berlangsung di hadapan mata dunia.

Yang lebih menyakitkan bukan hanya karena tragedi itu terjadi begitu lama, melainkan karena ia perlahan menjadi pemandangan yang dianggap biasa. Berita tentang rumah yang dihancurkan, anak-anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang terusir dari tanah kelahirannya, dan kehidupan yang dijalani di bawah bayang-bayang ketakutan, seolah telah berubah menjadi rutinitas yang tidak lagi menggugah hati banyak orang.

Di sinilah pertanyaan yang paling mengusik muncul: sampai sejauh mana umat Islam benar-benar peduli terhadap urusan sesamanya?

Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan politik. Ia adalah pertanyaan moral dan spiritual.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw melalui Imam Ja’far Shadiq a.s, disebutkan:

مَنْ أَصْبَحَ لَا يَهْتَمُّ بِأُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ وَ مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يُنَادِی يَا لَلْمُسْلِمِينَ فَلَمْ يُجِبْهُ فَلَيْسَ بِمُسْلِم

“Barang siapa memasuki pagi hari tanpa memedulikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka. Dan barang siapa mendengar seseorang berseru meminta pertolongan kepada kaum Muslimin lalu tidak menjawabnya, maka ia bukan seorang Muslim”

Hadis ini sering dibaca sebagai seruan etika sosial. Namun jika direnungkan lebih dalam, pesannya jauh melampaui batas-batas ibadah individual. Keislaman tidak hanya diukur dari hubungan seseorang dengan Tuhan, tetapi juga dari sensitivitasnya terhadap penderitaan manusia lain.

Kepedulian bukanlah pelengkap iman. Ia adalah bagian dari iman itu sendiri.

Palestina menjadi contoh yang sangat jelas untuk memahami pesan tersebut. Selama bertahun-tahun, rakyat Palestina hidup dalam situasi yang oleh banyak pengamat kemanusiaan disebut sebagai salah satu krisis paling panjang dalam sejarah modern. Yang menderita bukan hanya kaum Muslim. Di sana terdapat pula komunitas Kristen Palestina yang mengalami nasib serupa. Yang terluka adalah manusia, sebelum mereka dikenali melalui identitas agama atau kelompoknya.

Baca Juga  Imam Khamenei tentang Bahaya Netralitas Ulama dalam Menghadapi Ketidakadilan

Ketika suara-suara dari Palestina meminta perhatian dunia, sesungguhnya mereka sedang melakukan apa yang dalam bahasa klasik disebut istinshar: memohon pertolongan. Mereka tidak hanya meminta bantuan materi, tetapi juga solidaritas, keberpihakan moral, dan kesediaan untuk tidak membiarkan ketidakadilan berlalu begitu saja.

Persoalannya, mengapa respons dunia Islam sering kali tampak terpecah?

Pertanyaan ini mengandung kegelisahan yang mendalam. Sebab secara teoritis, umat Islam memiliki sumber nilai yang sama, kiblat yang sama, dan kitab suci yang sama. Namun dalam banyak persoalan besar, terutama yang menyangkut nasib umat, suara mereka sering kali tercerai-berai oleh kepentingan politik, perbedaan mazhab, konflik regional, dan pertimbangan kekuasaan.

Akibatnya, tragedi yang seharusnya menyatukan justru kadang menjadi medan perbedaan.

Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa konsep umat dibangun di atas kesadaran kolektif. Sakit yang dirasakan oleh satu bagian tubuh semestinya menggerakkan bagian tubuh yang lain. Bukan karena kesamaan geografis, melainkan karena kesamaan rasa kemanusiaan.

Di era digital sekarang, makna kepedulian menjadi semakin relevan. Dulu seseorang mungkin tidak mengetahui apa yang terjadi ribuan kilometer dari tempat tinggalnya. Hari ini, gambar, video, dan laporan peristiwa dapat hadir dalam hitungan detik di layar telepon genggam.

Ironisnya, akses informasi yang semakin luas tidak selalu menghasilkan kepedulian yang lebih besar. Kadang justru melahirkan kelelahan emosional. Orang melihat begitu banyak penderitaan hingga akhirnya terbiasa dengannya. Tragedi berubah menjadi statistik. Korban berubah menjadi angka.

Di titik inilah hadis Rasulullah saw menemukan relevansinya yang sangat modern. Tidak peduli bukan hanya berarti tidak mengetahui. Tidak peduli juga bisa berarti mengetahui tetapi memilih diam. Mendengar tetapi tidak tergerak. Menyaksikan tetapi tidak merasa memiliki tanggung jawab apa pun.

Baca Juga  Rakyat dan Pemimpin: Mengapa Tanggung Jawab Selalu Berjalan Dua Arah?

Tentu kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dalam tindakan besar. Tidak semua orang memiliki pengaruh politik atau kekuatan ekonomi yang besar. Namun setiap orang memiliki ruang untuk menunjukkan keberpihakan moral: melalui doa, pendidikan, penyebaran informasi yang benar, dukungan kemanusiaan, atau sekadar menjaga agar hati tidak menjadi kebal terhadap penderitaan sesama.

Karena sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya kemampuan kita untuk membantu, melainkan kemampuan kita untuk tetap merasakan.

Palestina, dalam konteks ini, bukan sekadar nama sebuah wilayah. Ia adalah cermin yang memantulkan kondisi nurani dunia Islam. Ketika ketidakadilan yang begitu nyata masih gagal melahirkan sikap bersama, maka yang perlu ditanyakan bukan hanya apa yang sedang terjadi di Palestina, tetapi apa yang sedang terjadi pada hati kita.

Mungkin itulah makna terdalam dari hadis tersebut. Bahwa menjadi bagian dari umat bukan hanya soal identitas yang tertulis dalam kartu penduduk atau tercantum dalam kolom agama. Menjadi bagian dari umat berarti membiarkan hati tetap hidup ketika mendengar jeritan orang lain.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak runtuh ketika kehilangan kekuatan. Ia mulai runtuh ketika kehilangan kepedulian. Dan sebuah hati tidak menjadi keras karena tidak pernah mendengar tangisan. Ia menjadi keras karena terlalu sering mendengarnya tanpa lagi merasa perlu menjawab.

Bagikan:
Terkait
Komentar