KHAMENEI.ID –
Tafsir Imam Ali Khamenei tentang makna “Māliki Yaumid-Dīn” dalam Surah Al-Fatihah
Setelah memperkenalkan Allah swt sebagai Rabbul ‘Alamin—Pengatur, Pemelihara, sekaligus Penguasa seluruh alam—Surah Al-Fatihah membawa pembacanya kepada satu kenyataan yang tak dapat dihindari: setiap manusia sedang berjalan menuju hari ketika seluruh amalnya akan dipertanggungjawabkan. Karena itulah, ayat berikutnya berbunyi:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Pemilik hari pembalasan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 4).
Bagi sebagian orang, ayat ini mungkin hanya dipahami sebagai salah satu nama Allah swt. Namun, dalam tafsirnya, Imam Ali Khamenei (qs) menunjukkan bahwa frasa Malik Yaumiddin sesungguhnya merupakan fondasi penting dalam cara pandang Islam terhadap kehidupan. Ayat ini menjelaskan siapa yang berkuasa pada akhir perjalanan manusia dan mengapa kesadaran tentang hari itu menentukan arah hidup di dunia.
Sebelum memasuki maknanya, Imam Ali Khamenei terlebih dahulu menyinggung persoalan yang telah lama dikenal dalam ilmu qiraat Al-Qur’an. Terdapat dua bacaan yang sama-sama sahih untuk ayat ini, yaitu مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Māliki Yaumid-Dīn) dan مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Maliki Yaumid-Dīn).
Perbedaan tersebut berakar pada tradisi penulisan mushaf Arab klasik. Dalam beberapa kata, huruf alif tidak selalu ditulis secara lengkap sehingga membuka ruang bagi dua cara membaca yang diwariskan melalui sanad qiraat. Karena itu, para ulama menerima kedua bacaan tersebut sebagai bagian dari kekayaan bacaan Al-Qur’an.
Menariknya, menurut Imam Ali Khamenei, perbedaan bacaan ini tidak melahirkan perbedaan makna yang mendasar.
Jika dibaca Mālik, maknanya adalah pemilik yang mempunyai hak penuh atas sesuatu. Jika dibaca Malik, maknanya adalah raja atau penguasa yang memegang seluruh kendali. Kedua makna itu saling melengkapi. Allah swt bukan hanya memiliki Hari Pembalasan, tetapi juga menjadi satu-satunya Penguasa yang menetapkan hukum dan keputusan pada hari itu.
Dengan demikian, baik dibaca Mālik maupun Malik, pesan yang ingin disampaikan tetap sama: tidak ada satu pun otoritas selain Allah swt pada Hari Pembalasan.
Lalu, apa yang dimaksud dengan Yaum ad-Din?
Menurut Imam Ali Khamenei, kata yaum dalam Al-Qur’an tidak selalu berarti satu hari sebagaimana kita memahaminya dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia, hari diukur berdasarkan peredaran matahari. Akan tetapi, ketika berbicara tentang akhirat, ukuran itu tidak lagi berlaku.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan perubahan total pada tatanan alam:
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ
“(Yaitu) pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit…” (QS. Ibrahim [14]: 48).
Karena itu, yaum lebih tepat dipahami sebagai sebuah fase atau periode kehidupan.
Dunia adalah fase pertama. Di sinilah manusia diberi kesempatan memilih, berusaha, memperbaiki diri, dan menentukan arah hidupnya. Setelah itu datang fase kedua, yaitu Yaum ad-Din, masa ketika seluruh pilihan tersebut memperoleh balasannya.
Imam Ali Khamenei qs mengutip ucapan Imam Ai as dalam Khutbah ke 42, kitab Nahjul Balaghah yang sangat masyhur untuk menjelaskan perbedaan dua fase itu:
اَلْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ
“Hari ini adalah masa beramal tanpa perhitungan, sedangkan esok adalah masa perhitungan tanpa kesempatan beramal.”
Hadis ini merangkum seluruh filosofi kehidupan seorang mukmin. Selama masih hidup di dunia, pintu perubahan tetap terbuka. Kesalahan dapat diperbaiki, dosa dapat ditaubati, dan amal saleh masih dapat dilakukan. Namun, ketika memasuki Hari Pembalasan, kesempatan itu telah berakhir. Yang tersisa hanyalah hasil dari apa yang telah ditanam selama hidup.
Dalam perspektif ini, kata ad-Din juga menarik untuk dicermati. Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan “agama”, melainkan balasan atau pembalasan. Hari itu adalah masa ketika keadilan Allah swt dinyatakan secara sempurna. Tidak ada amal yang hilang, sekecil apa pun. Tidak ada kezaliman yang luput dari perhitungan.
Karena itu, Malik Yaumiddin bukan sekadar informasi tentang masa depan. Ia adalah pengingat bahwa kehidupan memiliki tujuan dan arah. Dunia bukan tempat hasil akhir, melainkan tempat menanam benih. Hasil panennya baru akan terlihat ketika manusia memasuki fase berikutnya.
Kesadaran inilah yang ingin ditanamkan Surah Al-Fatihah sejak awal. Setelah seorang hamba mengenal Allah sebagai Rabb seluruh alam, ia diingatkan bahwa seluruh perjalanan hidup akan berujung pada satu hari ketika hanya Allah swt yang memiliki otoritas penuh. Tidak ada kekuasaan, jabatan, atau pengaruh yang dapat mengubah keputusan-Nya.
Karena itulah, ayat Malik Yaumiddin dibaca berulang kali dalam setiap rakaat salat. Ia bukan sekadar bagian dari bacaan, melainkan pengingat harian bahwa hidup ini sedang bergerak menuju sebuah perjumpaan dengan Allah swt. Setiap keputusan hari ini pada akhirnya akan menemukan tempatnya di hadapan Sang Pemilik Hari Pembalasan.







