Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 8): Iman kepada yang Gaib, Fondasi Pertama Takwa

KHAMENEI.ID –

Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 3, Mengapa Al-Qur’an menempatkan iman kepada yang gaib sebagai ciri pertama orang bertakwa?

Pertanyaan ini muncul segera setelah Allah menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Ayat berikutnya langsung menjelaskan siapa mereka.

Allah berfirman:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Dalam tafsirnya, Imam Ali Khamenei qs menjelaskan bahwa ayat ini tidak sekadar menyebut beberapa sifat orang bertakwa. Enam karakter yang akan disebutkan pada awal Surah Al-Baqarah merupakan unsur-unsur yang membentuk hakikat takwa itu sendiri. Melalui sifat-sifat inilah seseorang mencapai tingkat minimal ketakwaan sehingga mampu menerima petunjuk Al-Qur’an.

Namun, menurut beliau, proses itu tidak berhenti di sana.

Takwa Membuka Pintu demi Pintu Pemahaman Al-Qur’an

Imam Khamenei menegaskan bahwa hubungan antara takwa dan hidayah Al-Qur’an bersifat terus-menerus.

Seseorang yang memiliki sedikit takwa akan memperoleh sebagian petunjuk dari Al-Qur’an. Ketika ketakwaannya meningkat, pemahamannya terhadap Al-Qur’an pun ikut bertambah. Bahkan orang yang telah mencapai derajat takwa yang tinggi tetap dapat menemukan makna-makna baru jika ketakwaannya semakin sempurna.

Artinya, takwa bukan sekadar syarat awal untuk memahami Al-Qur’an.

Takwa adalah jalan yang membuat pemahaman terhadap wahyu terus berkembang sepanjang perjalanan hidup.

Semakin bersih hati seseorang, semakin halus pula makna-makna Al-Qur’an yang mampu ia tangkap.

Karena itu, enam sifat yang disebutkan pada awal Surah Al-Baqarah merupakan fondasi yang harus dibangun agar seseorang memasuki jalan hidayah yang terus bertumbuh.

Mengapa Iman kepada yang Gaib Disebut Pertama?

Sifat pertama adalah:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

“Mereka yang beriman kepada yang gaib.”

Menurut Imam Khamenei, Al-Qur’an berulang kali mengaitkan kehidupan orang beriman dengan perkara gaib.

Baca Juga  Bertahan di Tengah Dunia yang Mengajarkan Ketamakan 

Di tempat lain Allah swt berfirman:

إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

“Sesungguhnya engkau hanya dapat memberi peringatan kepada orang yang mengikuti peringatan dan takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun Dia tidak terlihat. Maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 11)

Lalu apa yang dimaksud dengan al-ghaib?

Menurut penjelasan beliau, seluruh alam semesta terbagi menjadi dua wilayah besar: alam syahadah dan alam gaib.

Alam syahadah adalah segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh pancaindra manusia. Bukan hanya yang terlihat oleh mata, tetapi juga seluruh realitas yang dapat diamati, disentuh, didengar, diteliti melalui mikroskop, teleskop, laboratorium, maupun berbagai perangkat ilmiah.

Sementara itu, alam gaib adalah seluruh realitas yang berada di luar jangkauan indra manusia.

Keberadaan tidak berhenti pada apa yang bisa diamati manusia.

Justru keberadaan terus meluas melampaui batas kemampuan penglihatan, pendengaran, maupun seluruh alat indra yang dimiliki manusia.

Pembeda Pandangan Ilahi dan Materialisme

Di sinilah, menurut Imam Khamenei, letak perbedaan mendasar antara pandangan hidup tauhid dan pandangan hidup materialistis.

Pandangan materialistik membatasi kenyataan hanya pada apa yang dapat diamati.

Yang terlihat dianggap ada.

Yang tidak terlihat dianggap tidak ada.

Padahal, menurut beliau, kesimpulan semacam itu tidak memiliki dasar ilmiah.

Bagaimana mungkin seseorang menyatakan sesuatu tidak ada hanya karena ia belum mampu melihatnya?

Ketika seseorang mengatakan sesuatu itu ada, ia harus memiliki bukti.

Demikian pula ketika mengatakan sesuatu tidak ada, ia juga memerlukan bukti.

Di sinilah kritik Al-Qur’an terhadap kaum materialis.

Mereka mengakui tidak mengetahui realitas di luar dunia materi, tetapi pada saat yang sama dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa alam gaib tidak ada.

Baca Juga  Menjaga Semangat Revolusi: Ketika Slogan Harus Menjadi Keyakinan

Padahal ketidaktahuan tidak pernah dapat dijadikan bukti ketiadaan.

Karena itulah Al-Qur’an menggambarkan penolakan mereka sebagai sesuatu yang hanya dibangun di atas dugaan.

Allah berfirman:

إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Mereka hanyalah mengikuti persangkaan.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)

Di tempat lain Allah juga berfirman:

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan mereka hanyalah membuat perkiraan-perkiraan.” (QS. Al-An’am: 116)

Menurut Imam Khamenei, Al-Qur’an tidak menyebut pandangan tersebut sebagai hasil ilmu pengetahuan, melainkan sebagai dugaan yang lahir dari keterbatasan cara memandang realitas.

Membuka Cakrawala Kehidupan

Iman kepada yang gaib bukan berarti menolak ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, ia membebaskan manusia dari keyakinan bahwa realitas hanya sebatas apa yang mampu dijangkau indranya.

Dengan iman kepada yang gaib, manusia memahami bahwa kehidupan tidak berhenti pada dunia materi. Di balik alam yang terlihat terdapat dimensi-dimensi lain yang menjadi bagian dari ciptaan Allah, meskipun tidak dapat ditangkap oleh mata ataupun alat-alat ilmiah.

Inilah fondasi pertama ketakwaan.

Seseorang yang meyakini bahwa kehidupan memiliki dimensi yang lebih luas daripada dunia yang tampak akan lebih mudah menerima petunjuk wahyu. Sebaliknya, orang yang membatasi seluruh realitas hanya pada apa yang bisa diindra akan sulit memahami pesan Al-Qur’an yang sejak awal berbicara tentang Allah, malaikat, wahyu, hari kebangkitan, surga, neraka, dan seluruh hakikat gaib lainnya.

Karena itu, Imam Ali Khamenei menempatkan iman kepada yang gaib sebagai pintu pertama memasuki dunia Al-Qur’an. Tanpa keluasan pandangan tersebut, manusia akan terus terpenjara dalam batas-batas dunia yang tampak. Namun ketika cakrawala itu terbuka, Al-Qur’an mulai memperlihatkan kedalaman makna yang sebelumnya tidak pernah terlihat oleh mata, tetapi dapat disaksikan oleh hati yang bertakwa.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 10): Infak, Jalan Membebaskan Diri dari Belenggu Dunia
Bagikan:
Terkait
Komentar