KHAMENEI.ID –
Tafsir Imam Ali Khamenei tentang kedudukan petunjuk Ilahi sebagai inti risalah Al-Qur’an dalam QS. Al-Fatihah
Banyak orang mengenal Al-Qur’an sebagai kitab suci, kitab hukum, kitab ibadah, atau kitab yang berisi kisah para nabi. Semua itu benar. Namun, menurut Imam Ali Khamenei qs, jika harus memilih satu tema yang paling menonjol dan paling mendasar dari seluruh kandungan Al-Qur’an, jawabannya adalah hidayah—petunjuk yang mengarahkan manusia kepada jalan hidup yang benar.
Pandangan ini bukan sekadar kesimpulan pribadi, melainkan lahir dari cara Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sendiri. Dalam salah satu ceramahnya tentang tafsir Al-Fatihah dan hakikat petunjuk Ilahi, Imam Khamenei mengajak pembacanya memperhatikan susunan ayat-ayat Al-Qur’an. Menurut beliau, Allah sengaja menempatkan tema hidayah di posisi yang sangat istimewa sehingga siapa pun yang membaca Al-Qur’an sejak awal akan langsung berhadapan dengan pesan tersebut.
Menariknya, keistimewaan itu bahkan telah diperkenalkan melalui bulan Ramadan.
Allah menyebut Ramadan sebagai bulan yang memiliki banyak kemuliaan. Namun, ketika Al-Qur’an menjelaskan apa yang menjadi keistimewaan terbesar bulan itu, yang disebut bukan malam-malamnya, bukan puasanya, melainkan turunnya Al-Qur’an.
Firman Allah swt:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Menurut Imam Ali Khamenei, ayat ini menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Dari sekian banyak keagungan Al-Qur’an, Allah justru memperkenalkannya pertama-tama sebagai petunjuk bagi manusia. Artinya, fungsi membimbing manusia bukan sekadar salah satu keutamaan Al-Qur’an, melainkan inti dari seluruh kehadirannya.
Karena itu, pembahasan tentang hidayah menempati kedudukan yang sangat tinggi di antara seluruh tema Al-Qur’an.
Hal ini semakin tampak ketika memperhatikan bagaimana Al-Qur’an dibuka.
Dalam Surah Al-Fatihah, setelah seorang hamba memuji Allah dan mengikrarkan penghambaan hanya kepada-Nya, doa pertama yang diajarkan bukanlah permintaan kekayaan, kesehatan, atau kemenangan. Yang diajarkan justru permohonan:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6).
Imam Ali Khamenei kemudian mengutip pandangan Allamah Muhammad Husain Thabathabai dalam Tafsir al-Mizan. Menurut beliau, Surah Al-Fatihah sejak awal hingga akhir merupakan pelajaran tentang adab berbicara dengan Allah. Allah sendiri mengajarkan kepada manusia bagaimana seharusnya mereka berdialog dengan-Nya. Percakapan itu dimulai dengan “Bismillah”, dilanjutkan dengan pujian kepada Allah, pengakuan akan keesaan-Nya dalam ibadah, lalu diakhiri dengan permohonan yang paling mendasar: memohon agar tetap berada di jalan yang lurus.
Jalan lurus itu kemudian dijelaskan lagi:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]: 7).
Bagi Imam Ali Khamenei, susunan ini menunjukkan bahwa hubungan seorang mukmin dengan Allah pada akhirnya bermuara pada satu kebutuhan paling besar: memperoleh petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Yang menarik, tema itu tidak berhenti di Surah Al-Fatihah.
Begitu memasuki Surah Al-Baqarah, Al-Qur’an kembali memperkenalkan dirinya dengan kalimat yang hampir senada.
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2).
Menurut Imam Ali Khamenei, pengulangan ini bukanlah kebetulan. Surah Al-Fatihah mengajarkan manusia untuk meminta petunjuk, sedangkan Surah Al-Baqarah langsung memperkenalkan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk itu sendiri. Dengan kata lain, doa dan jawabannya ditempatkan berdampingan. Seorang hamba berkata, “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” lalu Allah swt menjawab melalui Al-Qur’an, “Inilah kitab yang menjadi petunjuk.”
Beliau juga menegaskan bahwa pembicaraan mengenai hidayah tidak hanya muncul pada awal Al-Qur’an. Di berbagai tempat, Al-Qur’an berulang kali menjelaskan fungsi dirinya sebagai penuntun, pembimbing, dan pemberi arah bagi kehidupan manusia. Tema ini terus hadir dalam berbagai bentuk hingga akhir mushaf.
Yang tidak kalah penting adalah siapa sasaran petunjuk tersebut.
Imam Ali Khamenei menolak anggapan bahwa Al-Qur’an hanya berbicara kepada kelompok tertentu. Menurut beliau, Al-Qur’an sejak awal mengajukan klaim yang sangat besar: ia datang untuk membimbing seluruh umat manusia.
Hal ini ditegaskan melalui firman Allah swt:
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
“Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.” (QS. Shad [38]: 87).
Karena itu, pesan Al-Qur’an tidak dibatasi oleh suku, bangsa, wilayah, ataupun zaman. Al-Qur’an menawarkan jalan hidup yang menurut dirinya mampu mengantarkan manusia kepada tujuan kehidupan yang benar.
Dalam perspektif Imam Ali Khamenei, membaca Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada tilawah atau keindahan bacaannya. Tujuan akhirnya adalah menemukan jawaban atas persoalan hidup melalui petunjuk yang dikandungnya. Semakin dalam seseorang memahami Al-Qur’an, semakin jelas arah hidup yang akan ditempuhnya.
Di sinilah letak hubungan yang erat antara Al-Fatihah dan keseluruhan Al-Qur’an. Setiap hari seorang muslim memohon, “Ihdinash Shirathal Mustaqim.” Lalu Allah swt menghadirkan Al-Qur’an sebagai jawaban atas doa itu. Maka, permohonan akan hidayah dan kedekatan dengan Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan. Seseorang tidak mungkin terus meminta petunjuk kepada Allah, tetapi mengabaikan kitab yang Allah turunkan sebagai sumber petunjuk tersebut.







