Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 9): Makna “Mendirikan Salat” dalam Tafsir Al-Baqarah Ayat 3

KHAMENEI.ID – 

Apa makna “mendirikan salat” dalam QS. Al-Baqarah ayat 3? Tafsir Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa iqāmah ash-shalāh bukan sekadar menunaikan salat, tetapi menghidupkan nilai-nilai salat dalam diri dan masyarakat.

Setelah menyebut iman kepada yang gaib sebagai fondasi pertama ketakwaan, Al-Qur’an langsung melanjutkan dengan ciri kedua orang-orang bertakwa:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Mengapa Al-Qur’an menggunakan ungkapan “mendirikan salat” (yuqīmūna aṣ-ṣalāh), bukan sekadar “melaksanakan salat”?

Menurut tafsir Imam Ali Khamenei qs, pilihan kata Al-Qur’an ini mengandung pesan yang sangat penting. Ada perbedaan mendasar antara mengerjakan salat dan mendirikan salat. Perbedaan inilah yang sering luput ketika ayat ini diterjemahkan hanya dengan kalimat “mereka mengerjakan salat.”

Salat Bukan Sekadar Dikerjakan

Imam Khamenei menjelaskan bahwa apabila Al-Qur’an hanya ingin mengatakan “mereka salat”, tentu ungkapan yang digunakan adalah يُصَلُّونَ (yuṣallūn).

Namun Al-Qur’an memilih kata:

وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ

Secara harfiah berarti menegakkan, mendirikan, atau membuat salat berdiri kokoh.

Karena itu, maknanya jauh lebih luas daripada sekadar melakukan gerakan-gerakan salat.

Tentu saja, orang yang mendirikan salat pasti juga melaksanakan salat. Tidak mungkin seseorang mengaku menegakkan salat tetapi justru meninggalkannya.

Namun mendirikan salat mencakup sesuatu yang lebih besar daripada ibadah individual.

Membangun Lingkungan yang Hidup dengan Salat

Menurut Imam Ali Khamenei qs, mendirikan salat berarti menghadirkan salat sebagai sebuah kenyataan yang hidup di tengah masyarakat.

Salat tidak berhenti sebagai ritual pribadi yang selesai setelah salam.

Ia harus menjadi budaya yang tumbuh dalam lingkungan.

Baca Juga  Misi Para Nabi: Membebaskan Akal dari Belenggu Khurafat

Karena itu, mendirikan salat berarti menghidupkan suasana yang akrab dengan salat, mengajak orang lain kepada salat, memelihara kedudukannya sebagai tiang kehidupan, dan menjadikan masyarakat sebagai lingkungan yang mengenal serta menghormati nilai-nilai salat.

Salat tidak hanya dikerjakan oleh individu, tetapi ditegakkan sebagai salah satu fondasi kehidupan bersama.

Dengan demikian, ayat ini tidak hanya berbicara tentang hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai ibadah hadir dalam ruang sosial.

Salat yang Mengubah Kehidupan

Menurut Imam Khamenei, mendirikan salat juga berarti melaksanakan salat dengan kesadaran dan perhatian.

Salat bukan sekadar rangkaian bacaan dan gerakan yang diulang setiap hari.

Di dalamnya terdapat pesan yang harus diwujudkan dalam kehidupan.

Hakikat salat adalah menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah swt.

Ia mengajarkan manusia untuk merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta sekaligus membiasakan diri tunduk kepada seluruh perintah-Nya.

Inilah inti salat.

Gerakan rukuk, sujud, zikir, dan doa semuanya mengarah pada satu tujuan besar, yaitu membentuk manusia yang hidup dalam kepatuhan kepada Allah.

Karena itu, menurut tafsir Imam Khamenei, mendirikan salat berarti menghadirkan nilai-nilai salat dalam seluruh aspek kehidupan.

Seseorang yang benar-benar mendirikan salat akan membawa semangat ketundukan kepada Allah swt ke dalam pekerjaan, keluarga, pergaulan, hingga seluruh keputusan yang diambilnya.

Salat tidak berhenti di atas sajadah.

Ia terus hidup dalam perilaku.

Pilar Kedua Pembentuk Takwa

Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Khamenei menjelaskan bahwa iman kepada yang gaib merupakan fondasi ketakwaan pada ranah cara pandang (worldview). Manusia terlebih dahulu membangun keyakinannya terhadap realitas yang melampaui dunia materi.

Kini Al-Qur’an beralih kepada tahap berikutnya.

Jika iman kepada yang gaib membentuk cara berpikir, maka mendirikan salat membentuk pribadi manusia.

Baca Juga  Haji dan Persatuan Umat Islam: Visi Sayyid Ali Khamenei tentang Kesatuan di Tengah Perpecahan

Menurut beliau, inilah salah satu unsur utama tazkiyah atau pembangunan diri.

Takwa bukan hanya persoalan apa yang diyakini.

Takwa juga dibentuk oleh latihan ruhani yang terus-menerus.

Dan salat menjadi sarana terpenting dalam proses itu.

Melalui salat yang ditegakkan, manusia belajar disiplin, keikhlasan, ketundukan, dan kesadaran bahwa seluruh hidupnya berada di hadapan Allah.

Karena itulah Al-Qur’an menempatkan salat sebagai ciri kedua orang-orang bertakwa.

Takwa Harus Tampak dalam Kehidupan

Susunan ayat ini juga menunjukkan bahwa ketakwaan memiliki dimensi yang utuh.

Ia dimulai dari keyakinan yang benar, kemudian diwujudkan dalam pembinaan diri melalui salat, lalu dilanjutkan dengan kepedulian sosial melalui infak yang akan disebutkan pada bagian berikutnya.

Dengan kata lain, Al-Qur’an menggambarkan manusia bertakwa sebagai pribadi yang memiliki pandangan hidup yang benar, hubungan yang kokoh dengan Allah, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Dalam tafsir Imam Ali Khamenei, urutan ini bukanlah kebetulan.

Keimanan kepada yang gaib membangun fondasi cara berpikir.

Mendirikan salat membentuk karakter dan kepribadian.

Sesudah itu, hasil pembinaan diri tersebut akan tampak dalam hubungan dengan sesama manusia melalui pengorbanan dan pemberian.

Karena itu, ketika Al-Qur’an memuji orang-orang yang “mendirikan salat”, yang dimaksud bukan hanya mereka yang rajin menunaikan salat lima waktu, melainkan mereka yang menjadikan salat sebagai kekuatan yang membangun dirinya sekaligus menghidupkan masyarakat di sekitarnya. Salat tidak berhenti sebagai ibadah yang dilakukan, tetapi menjadi nilai yang ditegakkan dan dihadirkan dalam seluruh perjalanan hidup.

Bagikan:
Terkait
Komentar