KHAMENEI.ID – Al-Qur’an berada di tangan jutaan manusia. Ia dibaca setiap hari, dihafalkan, dipelajari, bahkan dikagumi oleh banyak orang. Namun sebuah pertanyaan penting muncul: mengapa tidak semua orang yang membaca Al-Qur’an memperoleh perubahan yang sama? Mengapa ada yang semakin dekat kepada Allah setelah membaca Al-Qur’an, sementara yang lain seolah tidak mendapatkan apa-apa selain bacaan?
Pertanyaan inilah yang dijawab Imam Ali Khamenei qs ketika menafsirkan firman Allah swt pada permulaan Surah Al-Baqarah. Menurut beliau, persoalannya bukan terletak pada Al-Qur’an, melainkan pada kesiapan hati manusia untuk menerima petunjuknya.
Al-Qur’an Telah Menawarkan Hidayah, tetapi Siapa yang Mampu Menerimanya?
Allah swt berfirman:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ الٓمٓ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 1–2)
Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah menyediakan petunjuk bagi seluruh manusia. Akan tetapi, apakah seseorang benar-benar dapat memanfaatkan petunjuk itu atau tidak, merupakan persoalan lain yang sangat penting.
Menurut beliau, Al-Qur’an memang telah menghadirkan pelajaran dan membuka jalan hidayah. Namun hidayah itu baru benar-benar bekerja ketika di dalam diri seseorang terdapat takwa. Karena itulah Allah tidak sekadar menyebut Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk, tetapi secara khusus menyatakan bahwa ia adalah “هُدًى لِلْمُتَّقِينَ”, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Dengan kata lain, takwa bukan sekadar buah dari hidayah, tetapi juga menjadi pintu yang membuat seseorang mampu menerima hidayah secara sempurna.
Mengapa Al-Qur’an Menggunakan Ungkapan yang Berbeda-beda tentang Hidayah?
Imam Ali Khamenei kemudian mengajak melihat bahwa Al-Qur’an menggunakan beberapa ungkapan yang tampaknya berbeda ketika berbicara tentang hidayah.
Di satu tempat disebut:
هُدًى لِلنَّاسِ
“…petunjuk bagi manusia…”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Di tempat lain disebut:
هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“…petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)
Ada pula firman Allah swt:
هُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
“…petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Naml: 2)
Dan juga:
هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“…petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
(QS. Al-A’raf: 52)
Serta:
هُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“…petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
(QS. An-Naml: 77)
Menurut Imam Ali Khamenei, semua ungkapan tersebut tidak saling bertentangan. Yang dibicarakan adalah tingkatan pemanfaatan hidayah.
Ketika Al-Qur’an disebut sebagai “هُدًى لِلنَّاسِ”, artinya petunjuk itu tersedia bagi seluruh manusia. Semua dipersilakan mendekatinya.
Namun ketika disebut “هُدًى لِلْمُتَّقِينَ”, yang dimaksud adalah tingkat penerimaan yang lebih tinggi. Orang-orang yang memiliki ketakwaan mampu mengambil manfaat yang lebih dalam dari petunjuk Al-Qur’an dibanding mereka yang hatinya belum siap menerimanya.
Dengan demikian, semakin tinggi kualitas iman, ketakwaan, dan kepasrahan seseorang kepada Allah, semakin besar pula bagian hidayah yang dapat ia nikmati.
Khasyiah: Hati yang Siap Mendengar Peringatan Al-Qur’an
Selain takwa, Imam Ali Khamenei menunjukkan satu sifat lain yang berulang kali disebut Al-Qur’an sebagai syarat memperoleh manfaat dari wahyu, yaitu khasyiah.
Allah swt berfirman:
إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
“Sesungguhnya engkau hanya dapat memberi peringatan kepada orang yang mengikuti peringatan (Al-Qur’an) dan takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun Dia tidak terlihat. Maka berilah kabar gembira kepadanya dengan ampunan dan pahala yang mulia.”
(QS. Yasin: 11)
Begitu pula firman-Nya:
طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ
“Tha Ha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang memiliki khasyiah.”
(QS. Thaha: 1–3)
Menurut beliau, ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an baru benar-benar memberi pengaruh kepada orang yang memiliki khasyiah dalam hatinya.
Artinya, Al-Qur’an tidak hanya membutuhkan telinga yang mendengar, tetapi juga hati yang siap menerima.
Takwa dan Khasyiah Tidak Dapat Dipisahkan
Imam Ali Khamenei kemudian menghubungkan kedua konsep itu melalui ayat lain.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ
“Sungguh Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan, cahaya, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang takut kepada Tuhan mereka walaupun tidak melihat-Nya dan mereka merasa gentar terhadap hari Kiamat.”
(QS. Al-Anbiya: 48–49)
Dalam penjelasan beliau, Al-Qur’an sendiri mendefinisikan siapa yang dimaksud dengan orang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang memiliki khasyiah kepada Allah.
Karena itu, takwa dan khasyiah bukanlah dua konsep yang terpisah. Keduanya berjalan bersama. Bahkan dalam banyak keadaan, keduanya menunjuk pada satu hakikat yang sama: hati yang tunduk kepada kebesaran Allah.
Khasyiah Berbeda dengan Rasa Takut Biasa
Imam Ali Khamenei memberikan penjelasan penting mengenai makna khasyiah. Menurut beliau, banyak orang keliru memahami istilah ini.
Khasyiah bukan sekadar rasa takut seperti seseorang takut terhadap ancaman atau bahaya. Khasyiah adalah keadaan batin yang lahir karena seseorang menyadari keagungan pihak yang dihadapinya.
Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin besar pula khasyiahnya.
Karena itulah Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang benar-benar memiliki khasyiah kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).”
(QS. Fathir: 28)
Menurut Imam Ali Khamenei, ayat ini menunjukkan bahwa khasyiah lahir dari makrifat. Semakin luas pengetahuan seseorang tentang Allah, semakin kuat pula rasa pengagungan kepada-Nya.
Karena itu, khasyiah bukanlah rasa takut yang muncul karena Allah dipandang menakutkan. Justru Al-Qur’an menyandingkan khasyiah dengan salah satu nama Allah yang paling penuh kasih.
إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ
“Engkau memberi peringatan kepada orang yang mengikuti Al-Qur’an dan memiliki khasyiah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih…”
(QS. Yasin: 11)
Yang menjadi objek khasyiah adalah Ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pengasih. Menurut beliau, hal ini menunjukkan bahwa khasyiah lahir bukan karena Allah menakutkan, melainkan karena manusia memahami kebesaran, kemuliaan, dan keagungan-Nya, sementara rahmat-Nya tetap meliputi segala sesuatu.
Takwa Membuka Pintu Hidayah
Dalam tafsir Imam Ali Khamenei, Surah Al-Baqarah ayat kedua tidak sekadar menjelaskan siapa penerima Al-Qur’an. Ayat ini menerangkan syarat agar seseorang benar-benar memperoleh manfaat dari kitab Allah.
Al-Qur’an tersedia bagi seluruh manusia. Akan tetapi, tingkat manfaat yang diperoleh setiap orang berbeda-beda. Semakin tinggi ketakwaan dan khasyiah kepada Allah, semakin luas pula pintu hidayah yang dibukakan baginya.
Karena itu, perjalanan seorang mukmin bukan hanya memperbanyak bacaan Al-Qur’an, tetapi juga membangun hati yang layak menerima petunjuknya. Sebab ketika takwa dan khasyiah tumbuh dalam jiwa, Al-Qur’an tidak lagi sekadar menjadi kitab yang dibaca, melainkan cahaya yang menuntun setiap langkah kehidupan.







