KHAMENEI.ID– Ada ironi yang sering luput kita sadari dalam kehidupan modern. Kita mengeluh tak punya waktu untuk beribadah, tetapi tanpa sadar sanggup menghabiskan puluhan menit menunggu sesuatu yang bahkan tidak penting. Kita duduk berlama-lama menonton iklan sebelum acara favorit dimulai, menunggu kendaraan datang, menunggu teman yang terlambat, atau sekadar menggulir layar ponsel tanpa tujuan. Waktu menguap begitu saja. Namun ketika tiba saatnya shalat, lima atau sepuluh menit terasa terlalu berat.
Di situlah letak persoalannya. Bukan pada panjang atau pendeknya waktu yang dibutuhkan untuk salat, melainkan pada cara kita memandangnya.
Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s pernah menyampaikan pesan yang sangat tegas menjelang wafatnya. Dalam kondisi sakit yang mengantarkannya menuju akhir kehidupan, beliau berwasiat:
لَیْسَ مِنِّی مَنْ اسْتَخَفَّ بِالصَّلَاةِ
“Bukan termasuk golonganku orang yang meremehkan shalat.”
Kalimat itu singkat, tetapi mengandung peringatan yang mengguncang. Yang dimaksud bukan hanya meninggalkan shalat. Kata istikhfaf dalam bahasa Arab berarti menganggap ringan, memandang tidak penting, atau menempatkan sesuatu pada posisi yang tidak semestinya. Seseorang mungkin masih mengerjakan shalat, tetapi jika ia selalu menundanya, melakukannya tergesa-gesa, atau menganggapnya sebagai beban yang mengganggu aktivitas lain, sesungguhnya ia sedang meremehkan shalat.
Pesan serupa juga diriwayatkan dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Beliau berkata:
لَا تَتَهَاوَنْ بِصَلَاتِكَ فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ عِنْدَ مَوْتِهِ لَيْسَ مِنِّي مَنِ اسْتَخَفَّ بِصَلَاتِهِ
“Janganlah engkau meremehkan shalatmu. Sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda saat menjelang wafatnya: ‘Bukan termasuk golonganku orang yang meremehkan shalatnya.'”
Menariknya, para ulama tidak memahami hadis ini semata-mata sebagai ancaman. Mereka melihatnya sebagai upaya menyelamatkan manusia dari kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sebab shalat bukan sekadar ritual harian, melainkan ruang perjumpaan manusia dengan makna hidupnya.
Sering kali kita membayangkan shalat sebagai aktivitas yang memakan banyak waktu. Padahal jika dihitung secara sederhana, seluruh shalat wajib dalam sehari berjumlah tujuh belas rakaat. Bahkan jika dikerjakan dengan tenang, penuh perhatian, dan tanpa tergesa-gesa, total waktunya hanya sekitar tiga puluh hingga tiga puluh lima menit sehari.
Tiga puluh lima menit.
Angka itu terasa kecil ketika dibandingkan dengan waktu yang kita habiskan untuk hal-hal lain. Kita rela menunggu dua puluh menit demi sebuah acara televisi. Kita sanggup duduk berjam-jam menonton serial yang membuat penasaran. Kita tak keberatan menghabiskan waktu dalam kemacetan sambil mendengarkan musik atau membuka media sosial. Bahkan sering kali kita tidak sadar ke mana perginya satu atau dua jam dalam sehari.
Jika demikian, mengapa tiga puluh lima menit untuk shalat terasa begitu berat?
Mungkin karena masalahnya bukan soal waktu, melainkan soal prioritas.
Dalam kehidupan modern, manusia sering terjebak dalam ilusi kesibukan. Kita merasa produktif karena selalu bergerak, selalu terhubung, selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, ada ruang batin yang perlahan mengering. Tubuh bergerak cepat, tetapi jiwa kehilangan arah.
Shalat hadir justru untuk memutus sejenak arus itu.
Lima kali sehari, manusia diajak berhenti. Bukan berhenti bekerja, melainkan berhenti tenggelam dalam pekerjaan. Bukan berhenti mengejar dunia, melainkan mengingat bahwa hidup tidak hanya terdiri dari urusan dunia. Shalat adalah jeda yang menyelamatkan manusia dari menjadi mesin yang terus bergerak tanpa memahami tujuan perjalanannya.
Karena itu, meremehkan salat sesungguhnya bukan sekadar mengurangi porsi ibadah. Lebih dari itu, kita sedang mengurangi kesempatan untuk kembali mengenali diri sendiri.
Di era ketika perhatian menjadi komoditas paling mahal, shalat mengajarkan fokus. Di saat manusia dihujani informasi tanpa henti, shalat mengajarkan keheningan. Ketika hidup dipenuhi kecemasan tentang masa depan, shalat mengingatkan bahwa ada kekuatan yang lebih besar daripada segala persoalan yang kita hadapi.
Tak heran jika para imam Ahlulbait dan Nabi Muhammad saw menempatkan shalat pada posisi yang sangat tinggi. Mereka memahami bahwa kualitas hubungan manusia dengan shalat akan memengaruhi kualitas hubungannya dengan kehidupan secara keseluruhan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah, “Apakah saya punya waktu untuk shalat?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Mengapa saya bisa menyediakan waktu untuk banyak hal, tetapi kesulitan menyediakan waktu untuk shalat?”
Mungkin jawabannya akan membuka cermin yang selama ini kita hindari.
Sebab shalat tidak membutuhkan berjam-jam dari hidup kita. Ia hanya meminta beberapa menit yang tersebar sepanjang hari. Namun dari menit-menit yang tampak kecil itu, lahir ketenangan, arah, dan kesadaran yang sering kali tidak dapat dibeli oleh apa pun.
Dan mungkin itulah sebabnya mengapa menjelang akhir hayatnya, Nabi saw dan para imam a.s masih mengingatkan hal yang sama: jangan pernah meremehkan salat. Karena yang diremehkan bukan sekadar sebuah ritual, melainkan tali yang menghubungkan manusia dengan sumber makna dalam hidupnya.







