Yang Tua Belum Tentu Lebih Besar

KHAMENEI.ID– Ada kebiasaan yang diam-diam mengendap dalam banyak ruang kehidupan: menganggap usia sebagai ukuran kebijaksanaan, jabatan sebagai tanda keunggulan, dan kedekatan sebagai alasan untuk mendapatkan kepercayaan. Seolah-olah semakin lama seseorang hidup, semakin layak ia memimpin. Seolah-olah senioritas dengan sendirinya melahirkan kemampuan.

Islam menawarkan ukuran yang berbeda.

Dalam pandangan itu, perubahan memang diperlukan. Tetapi perubahan tidak boleh kehilangan prinsip. Pembaruan bukan sekadar mengganti wajah, merombak struktur, atau memindahkan orang dari satu kursi ke kursi lain. Perubahan harus bertolak dari nilai. Salah satu nilai yang disebut penting ialah meritokrasi: menempatkan orang berdasarkan kemampuan dan kelayakannya.

Gagasan tersebut terdengar sederhana. Namun justru karena sederhana, ia sering dilanggar.

Kita bisa melihat persoalan itu dalam sebuah kisah yang terjadi setelah pembebasan Makkah. Ketika kota itu berada di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw, diperlukan seseorang untuk memimpin Makkah. Banyak tokoh tua, terpandang, dan berpengalaman tersedia. Tetapi Rasulullah saw memilih seorang pemuda yang baru berusia 19 tahun Attab bin Usaid.

Pilihan itu tentu mengundang keberatan.

Mengapa seorang pemuda? Bukankah masih banyak orang yang lebih tua? Bukankah pengalaman biasanya dianggap sebagai modal utama untuk memegang kekuasaan?

Dalam riwayat yang dikutip, Rasulullah saw menjawab keberatan itu dengan kalimat yang sangat tajam:

لا یحتجّ محتجّ منکم فی مخالفته بصغر سنّه

“Janganlah orang yang menentangnya menjadikan usianya yang muda sebagai alasan”

Lalu datang prinsip yang lebih dalam:

فلیس الاکبر هو الافضل بل الافضل هو الاکبر

“Yang lebih tua (besar) tidak selalu lebih utama; yang lebih utama itulah yang sesungguhnya lebih besar”

Kalimat itu seperti membalik cara kita memandang kepemimpinan.

Baca Juga  Tidak Semua Rasa Malu Layak Dipelihara 

Selama ini, banyak masyarakat menggunakan usia sebagai semacam tangga sosial. Yang lebih tua ditempatkan lebih tinggi. Yang lebih lama berada dalam organisasi dianggap lebih pantas didengar. Yang lebih senior sering memperoleh hak istimewa bahkan sebelum kemampuannya diuji.

Padahal umur hanya menjelaskan berapa lama seseorang telah hidup. Ia tidak otomatis menjelaskan seberapa baik seseorang menggunakan hidupnya.

Di titik ini, konsep meritokrasi menjadi lebih dari sekadar teknik memilih pejabat. Ia merupakan cara pandang tentang manusia. Nilai seseorang tidak terutama ditentukan oleh umur, status, hubungan personal, atau lamanya ia berada dalam sebuah lingkungan. Ukurannya adalah kelayakan.

Yang dicari bukan siapa yang paling tua, melainkan siapa yang paling mampu memikul amanah.

Prinsip ini mempunyai konsekuensi besar. Jika benar-benar diterapkan, ia akan mengusik banyak kebiasaan yang sudah dianggap normal. Pemilihan orang tidak lagi boleh didasarkan pada kesukaan pribadi. Kedekatan tidak dapat menggantikan kompetensi. Loyalitas kepada seseorang tidak boleh lebih tinggi daripada kesetiaan kepada kepentingan bersama.

Sebab memilih orang untuk sebuah tanggung jawab bukanlah urusan perasaan.

Dalam konteks pemerintahan, prinsip tersebut berlaku luas. Eksekutif, legislatif, yudikatif, militer, lembaga publik, dan berbagai institusi lain membutuhkan orang yang bukan hanya bersedia duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengisinya.

Namun gagasan itu tidak berhenti pada negara.

Ia juga relevan bagi organisasi, perusahaan, komunitas, kampus, bahkan keluarga. Banyak persoalan muncul bukan karena tidak ada orang pintar, melainkan karena orang yang tepat tidak ditempatkan di tempat yang tepat.

Ada orang yang bekerja keras tetapi tidak pernah diberi kesempatan karena dianggap terlalu muda. Ada yang memiliki kemampuan tetapi tersingkir karena tidak mempunyai hubungan dengan lingkaran pengambil keputusan. Sebaliknya, ada yang memperoleh jabatan bukan karena kecakapannya, melainkan karena ia dikenal, disukai, atau dianggap “orang sendiri”.

Baca Juga   Panggilan Haji Nabi Ibrahim: Seruan yang Tak Pernah Berhenti untuk Seluruh Umat Manusia

Di sinilah sebuah organisasi perlahan kehilangan tenaga hidupnya.

Ketika jabatan diberikan berdasarkan kedekatan, orang-orang yang kompeten belajar satu hal: kemampuan saja tidak cukup. Ketika senioritas lebih dihargai daripada prestasi, generasi muda belajar bahwa masa depan bukan sesuatu yang bisa diraih melalui kerja keras, melainkan melalui penantian. Dan ketika keputusan ditentukan oleh selera pribadi, institusi perlahan berubah menjadi perpanjangan kehendak segelintir orang.

Kerusakan semacam itu tidak selalu terlihat segera. Ia bekerja perlahan, seperti karat.

Karena itu perubahan tidak cukup hanya dengan mengganti orang. Perubahan yang sehat membutuhkan perubahan cara memilih orang.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih luas: bagaimana sebuah masyarakat memperbarui dirinya tanpa kehilangan prinsip. Pembaruan bukan berarti membuang semua yang lama. Begitu pula mempertahankan tradisi bukan berarti mempertahankan semua kebiasaan tanpa pemeriksaan.

Yang perlu dipertahankan adalah prinsipnya; yang boleh berubah adalah cara mewujudkannya.

Keadilan, misalnya, dapat membutuhkan mekanisme yang berbeda pada zaman yang berbeda. Demikian pula meritokrasi. Prinsipnya tetap: orang yang paling layak harus memperoleh kesempatan memikul tanggung jawab. Tetapi cara mengukur kelayakan itu dapat berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Di sinilah perubahan memperoleh arah.

Tanpa prinsip, perubahan mudah menjadi sekadar pergantian kepentingan. Wajah baru bisa saja membawa kebiasaan lama. Struktur baru dapat tetap menghasilkan ketidakadilan lama. Sebaliknya, prinsip tanpa keberanian untuk berubah juga dapat menjadikan sebuah institusi beku dan kehilangan kemampuan menjawab zaman.

Maka pembaruan yang sehat membutuhkan keduanya: kesetiaan kepada nilai dan keberanian memperbaiki cara menerapkannya.

Kisah seorang pemuda 19 tahun yang dipercaya memimpin Makkah akhirnya berbicara jauh melampaui soal usia. Ia mempertanyakan ukuran yang kita gunakan ketika menilai seseorang.

Baca Juga  Hukum yang Pahit, Kekacauan yang Lebih Menyakitkan

Siapa yang kita sebut besar?

Apakah mereka yang lebih tua, lebih lama berkuasa, lebih dekat dengan pusat kekuasaan, atau lebih sering disebut namanya?

Atau mereka yang lebih mampu memberikan manfaat, lebih sanggup memikul amanah, dan lebih layak dipercaya?

Barangkali di situlah makna kepemimpinan yang sebenarnya. Kebesaran manusia tidak selalu datang bersama angka pada usia. Kadang ia muncul dari kemampuan yang belum sempat dikenal, dari keberanian yang belum banyak diuji, atau dari seorang anak muda yang diberi kesempatan ketika orang lain hanya melihat umurnya.

Sebab pada akhirnya, umur membuat seseorang lebih tua.

Tetapi hanya kelayakan yang membuatnya lebih besar.

Bagikan:
Terkait
Komentar