KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus bertahan hingga hari ini: menjadi orang saleh berarti menjauh dari dunia. Kekayaan dicurigai, kemajuan dianggap ancaman, dan kehidupan yang nyaman dipandang sebagai penghalang menuju Tuhan. Padahal, jika menelusuri ajaran Islam lebih dalam, yang ditolak bukanlah dunia itu sendiri, melainkan ketika dunia berubah menjadi pusat tujuan hidup. Di situlah makna zuhud sering kali disalahpahami.
Sejarah para nabi dan para wali justru memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Mereka hidup di tengah masyarakat, memimpin perubahan, membangun peradaban, bahkan memikul tanggung jawab yang sangat besar. Namun ada satu hal yang membedakan mereka dari kebanyakan manusia: mereka tidak pernah menjadi tawanan kepentingan pribadi.
Barangkali inilah salah satu rahasia mengapa Islam mampu bertahan dan berkembang melampaui zamannya. Orang-orang yang berada di barisan terdepan perjuangan tidak menjadikan keuntungan pribadi sebagai tujuan. Mereka bekerja, berjuang, dan berkorban tanpa menghitung apa yang akan mereka peroleh untuk diri sendiri. Ketika kepentingan pribadi dikesampingkan, energi untuk melayani sesuatu yang lebih besar menjadi nyaris tak terbatas.
Dalam tradisi Islam, sikap inilah yang disebut zuhud. Sayangnya, istilah ini sering dipersempit seolah-olah berarti meninggalkan kehidupan, membenci harta, atau menolak kenikmatan dunia. Padahal yang dikritik bukanlah dunia sebagai ciptaan Tuhan, melainkan keterikatan hati kepada dunia. Dunia menjadi tercela ketika ia berubah menjadi tujuan akhir, ketika seluruh keputusan hidup hanya diukur dari keuntungan materi dan kepuasan diri.
Di titik ini, kita mulai memahami mengapa begitu banyak hadis dan nasihat para Imam menekankan pentingnya zuhud. Bukan karena Islam ingin menciptakan masyarakat miskin, melainkan karena ketamakan adalah akar dari banyak kerusakan. Ketika manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat segala sesuatu, lahirlah korupsi, pengkhianatan, penindasan, dan berbagai bentuk ketidakadilan.
Imam Ja’far ash-Shadiq a.s pernah bersabda:
مَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا أَثْبَتَ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فِي قَلْبِهِ وَأَنْطَقَ بِهَا لِسَانَهُ وَبَصَّرَهُ عُيُوبَ الدُّنْيَا دَاءَهَا وَدَوَاءَهَا وَأَخْرَجَهُ مِنَ الدُّنْيَا سَالِمًا إِلَى دَارِ السَّلَامِ
“Siapa yang bersikap zuhud terhadap dunia, Allah akan menanamkan hikmah di dalam hatinya, membuat lisannya mengucapkan kebijaksanaan, memperlihatkan kepadanya penyakit dunia sekaligus obatnya, lalu mengeluarkannya dari dunia dengan selamat menuju negeri kedamaian”
Perhatikan bahwa buah pertama dari zuhud bukanlah kemiskinan, melainkan hikmah. Hati yang tidak dikuasai ambisi pribadi menjadi lebih jernih melihat kenyataan. Ia mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya gemerlap sesaat. Orang seperti ini tidak mudah dibeli oleh jabatan, tidak silau oleh pujian, dan tidak runtuh oleh kehilangan.
Gagasan ini kemudian menemukan penjelasan yang sangat indah dalam Doa Nudbah. Pada bagian awal doa tersebut terdapat pengakuan bahwa Allah memilih para wali-Nya untuk menerima kenikmatan abadi yang tidak pernah sirna. Namun sebelum anugerah itu diberikan, ada satu syarat yang harus mereka penuhi:
بَعْدَ أَنْ شَرَطْتَ عَلَيْهِمُ الزُّهْدَ فِي دَرَجَاتِ هٰذِهِ الدُّنْيَا الدَّنِيَّةِ وَزُخْرُفِهَا وَزِبْرِجِهَا
“Setelah Engkau mensyaratkan kepada mereka sikap zuhud terhadap kedudukan dunia yang rendah beserta segala perhiasan dan gemerlapnya”
Kalimat ini menghadirkan sebuah perspektif yang menggugah. Kedekatan dengan Tuhan ternyata bukan hadiah tanpa syarat. Ada harga yang harus dibayar: melepaskan keterikatan terhadap pesona dunia. Bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki kekayaan atau kedudukan, tetapi kekayaan dan kedudukan itu tidak boleh memiliki dirinya.
Dalam konteks yang lebih luas, syarat ini menjelaskan mengapa para nabi sanggup memikul amanah yang tampaknya melampaui kemampuan manusia biasa. Mereka menghadapi penolakan, ancaman, peperangan, bahkan pengkhianatan dari orang-orang terdekat. Namun mereka tidak berhenti. Mereka tidak lelah karena perjuangan mereka tidak digerakkan oleh ambisi pribadi.
Nabi Muhammad saw mencapai puncak kesempurnaan manusia bukan hanya karena karunia Allah, tetapi juga karena beliau memenuhi syarat yang telah ditetapkan-Nya. Demikian pula Imam Ali a.s. Kehidupan beliau memperlihatkan keteguhan yang nyaris mustahil dipahami jika diukur dengan logika keuntungan dunia. Jabatan tidak membuatnya berubah, kekuasaan tidak membuatnya tamak, dan kemiskinan tidak mengurangi kemuliaannya.
Imam Ali a.s sendiri merumuskan zuhud dengan cara yang sangat sederhana dalam Nahjul Balaghah:
أَيُّهَا النَّاسُ الزَّهَادَةُ قِصَرُ الْأَمَلِ وَالشُّكْرُ عِنْدَ النِّعَمِ وَالتَّوَرُّعُ عِنْدَ الْمَحَارِمِ
“Wahai manusia, zuhud adalah memendekkan angan-angan, bersyukur ketika memperoleh nikmat, dan menjaga diri dari perkara yang diharamkan”
Definisi ini menarik karena sama sekali tidak berbicara tentang pakaian lusuh atau hidup serba kekurangan. Zuhud justru berbicara tentang cara memandang kehidupan. Angan-angan yang tidak berujung membuat manusia lupa bersyukur. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan keinginannya akan lebih mudah merasakan cukup, meskipun hartanya tidak melimpah.
Imam Ali a.s bahkan menyampaikan ungkapan yang terdengar paradoksal: “Zuhud adalah kekayaan.” Kalimat singkat ini mengandung makna yang dalam. Kekayaan sejati bukanlah banyaknya yang dimiliki, melainkan sedikitnya ketergantungan. Semakin sedikit seseorang diperbudak oleh keinginan, semakin merdeka dirinya.
Menariknya lagi, beliau juga berkata:
أَفْضَلُ الزُّهْدِ إِخْفَاءُ الزُّهْدِ
“Zuhud yang paling utama adalah menyembunyikan kezuhudan.”
Artinya, kezuhudan bukanlah identitas yang dipamerkan. Ia tidak membutuhkan pengakuan. Orang yang benar-benar telah melepaskan diri dari dunia tidak lagi sibuk membuktikan bahwa dirinya sederhana.
Di zaman ketika pencitraan menjadi mata uang baru, pesan ini terasa semakin relevan. Kesederhanaan sering berubah menjadi konten, kepedulian menjadi strategi membangun citra, bahkan kerendahan hati pun kadang dipertontonkan demi memperoleh tepuk tangan. Zuhud mengajarkan arah yang sebaliknya: bekerja tanpa haus pujian, memberi tanpa ingin diketahui, dan memimpin tanpa menjadikan kekuasaan sebagai milik pribadi.
Pada akhirnya, zuhud bukanlah ajakan meninggalkan dunia, melainkan membebaskan hati dari perbudakan terhadap dunia. Dunia tetap dikelola, ilmu tetap dikembangkan, ekonomi tetap dibangun, dan kekuasaan tetap dijalankan. Namun semuanya ditempatkan sebagai amanah, bukan tujuan.
Mungkin itulah sebabnya para nabi dan para wali mampu meninggalkan jejak yang tidak selesai bersama usia mereka. Gerakan yang mereka bangun terus hidup melintasi zaman karena fondasinya bukan kepentingan diri, melainkan pengabdian. Dan barangkali, di tengah dunia modern yang semakin bising oleh ambisi dan kompetisi, syarat lama itu masih tetap berlaku: Tuhan mengangkat derajat manusia bukan karena apa yang dimilikinya, tetapi karena sejauh mana ia mampu melepaskan diri dari belenggu miliknya sendiri.







