Tuhan Tidak Pernah Jauh: Manusialah yang Menjauh karena Merasa Paling Mampu

KHAMENEI.ID— Ada satu ilusi yang diam-diam tumbuh di zaman modern: keyakinan bahwa manusia bisa menaklukkan segalanya dengan kemampuan dirinya sendiri. Teknologi berkembang, ilmu pengetahuan melesat, strategi politik semakin canggih, dan manusia merasa seolah masa depan ada sepenuhnya di tangannya. Kita diajarkan untuk percaya diri, mandiri, dan kompetitif. Tetapi di tengah semua itu, ada sesuatu yang perlahan mengering: kesadaran bahwa manusia sesungguhnya makhluk yang rapuh.

Barangkali karena itulah banyak proyek besar runtuh justru ketika sedang merasa paling kuat. Banyak bangsa kehilangan arah ketika merasa tidak lagi membutuhkan nilai moral dan spiritual. Bahkan tidak sedikit individu yang tampak berhasil di luar, tetapi diam-diam kosong di dalam. Mereka memiliki kekuasaan, jaringan, pengetahuan, bahkan pengaruh sosial, namun kehilangan ketenangan yang paling dasar.

Terdapat satu hal yang perlu renungi; kebutuhan manusia terhadap pertolongan Ilahi. Bahwa perjalanan menuju tujuan-tujuan besar, baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat, maupun sebuah peradaban, tidak pernah cukup hanya dengan kecerdasan dan kekuatan manusia.

Dalam sejarah, setiap kali keadilan, agama, moralitas, dan spiritualitas benar-benar hidup di tengah masyarakat, selalu ada “hati yang sadar” di pusatnya. Ada manusia-manusia yang tidak hanya kuat secara politik atau sosial, tetapi juga memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan. Mereka sadar bahwa kekuatan terbesar bukan berasal dari dirinya sendiri.

Sejarah Islam awal adalah contoh paling nyata. Nabi Muhammad saw membangun masyarakat bukan hanya dengan strategi sosial, tetapi dengan jiwa yang terus terhubung kepada langit. Demikian pula tokoh-tokoh besar setelahnya. Mereka bukan manusia yang bebas dari kelemahan, tetapi manusia yang tahu ke mana harus meminta kekuatan.

Di titik inilah kritik halus terhadap mentalitas zaman sekarang muncul. Kita hidup di era yang mengagungkan “self-made man”, manusia yang merasa semua keberhasilannya lahir murni dari kecerdasannya sendiri. Kita memuja kisah sukses individual, membangun budaya pencitraan, dan mengukur manusia dari prestasi lahiriah. Seolah-olah keberhasilan adalah hasil eksklusif dari bakat dan kerja keras pribadi.

Baca Juga  Islam Bukan Sekadar Penampilan: Empat Ukuran Kesalehan yang Paling Sulit Dijaga 

Padahal Al-Qur’an sejak lama sudah mengingatkan tentang jebakan cara berpikir seperti itu melalui kisah Qarun, sosok kaya raya yang mabuk pada dirinya sendiri. Ketika ditanya tentang sumber kekayaannya, ia menjawab:

قالَ إِنَّما أُوتيتُهُ عَلىٰ عِلمٍ عِندي

“Aku mendapatkan semua ini karena ilmu dan kemampuan yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash: 78)

Kalimat itu terdengar sangat modern. Sangat dekat dengan bahasa motivasi hari ini: aku sukses karena kerja kerasku sendiri. Namun Al-Qur’an memandang kesombongan semacam itu sebagai awal kebutaan spiritual. Qarun lupa bahwa ada banyak faktor di luar dirinya yang membuat semua itu mungkin terjadi: kesempatan, keadaan, pertolongan, bahkan napas yang ia hirup setiap hari.

Dan sejarah menunjukkan, manusia yang terlalu percaya pada dirinya sendiri sering kali runtuh justru oleh kekuatan yang tidak pernah ia perhitungkan.

hal ini bukan berarti  menyebabkan manusia menjadi pasif atau fatalistis. Ia tidak mengatakan bahwa usaha tidak penting. Justru sebaliknya: manusia tetap harus bekerja keras, berpikir, membangun, dan berjuang. Tetapi semua itu tidak boleh melahirkan ilusi kemandirian absolut. Ada perbedaan besar antara bekerja keras dan menyembah kemampuan diri sendiri.

Karena itu, perlu di ingat bahwa jalan menuju tujuan besar membutuhkan “keterhubungan dengan sumber kekuatan”. Artinya, manusia perlu menjaga kesadaran spiritual di tengah aktivitas duniawi. Sebab ketika hubungan dengan Tuhan terputus, kekuatan sering berubah menjadi kesombongan, dan keberhasilan berubah menjadi alat penghancur diri.

Di bagian paling menyentuh, pada penggalan doa Abu Hamzah ats-Tsumali, doa panjang yang biasa dibaca pada malam-malam Ramadan. Di sana ada kalimat yang terasa sangat dalam:

وَ أَنَّ الرَّاحِلَ إِلَيْكَ قَرِيبُ الْمَسَافَةِ

“Siapa pun yang berjalan menuju-Mu, jaraknya sesungguhnya dekat.”

Baca Juga  Kejujuran yang Punah dan Manusia yang Dirindukan Nabi 

Lalu dilanjutkan dengan kalimat yang lebih mengguncang:

وَ أَنَّكَ لَا تَحْتَجِبُ عَنْ خَلْقِكَ إِلَّا أَنْ تَحْجُبَهُمُ الْأَعْمَالُ دُونَكَ

“Engkau tidak pernah bersembunyi dari makhluk-Mu, kecuali perbuatan merekalah yang membuat mereka terhalang dari-Mu.”

Ada penghiburan sekaligus peringatan di sana. Tuhan tidak jauh. Yang sering menjauh justru manusia sendiri, karena kesibukan, kesombongan, kerakusan, atau perasaan cukup dengan dirinya sendiri.

Mungkin itu sebabnya banyak orang modern merasa hidupnya penuh, tetapi hatinya kosong. Mereka memiliki akses kepada hampir semua hal, tetapi kehilangan arah batin. Mereka mampu berbicara dengan siapa saja di dunia melalui layar kecil di tangan mereka, tetapi tidak lagi mampu berbicara dengan dirinya sendiri dalam kesunyian.

Padahal pintu menuju Tuhan tidak pernah tertutup. Siapa pun yang datang dengan hati yang bersih dan niat yang tulus, akan menemukan jalan pertolongan itu terbuka. Bahkan sebelum manusia selesai mengucapkan doanya.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi dan pencitraan, mungkin yang paling dibutuhkan manusia bukan sekadar strategi baru, melainkan kerendahan hati baru. Kesadaran bahwa sehebat apa pun kemampuan manusia, ada titik di mana ia tetap membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Sebab banyak orang gagal bukan karena kurang pintar, melainkan karena terlalu yakin bahwa dirinya tidak membutuhkan pertolongan siapa pun, termasuk Tuhan.

Bagikan:
Terkait
Komentar