Pernahkah kita menyadari bahwa sebagian besar nikmat baru terasa berharga setelah ia hilang?

KHAMENEI.ID– Kesehatan, misalnya. Selama tubuh mampu bergerak tanpa rasa sakit, kita menganggapnya hal biasa. Namun ketika penyakit datang dan aktivitas sederhana menjadi sulit dilakukan, barulah kita memahami betapa mahalnya anugerah itu. Begitu pula masa muda, keamanan, kebebasan, bahkan kesempatan untuk menjalani hidup dengan tenang. Sebelum hilang, semua itu sering tampak biasa. Setelah lenyap, nilainya terasa luar biasa.

Di sinilah letak salah satu kelemahan manusia: kita terbiasa hidup di tengah nikmat, tetapi jarang benar-benar menyadarinya.

Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas sekaligus penuh harapan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkarinya, sesungguhnya azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini unik. Ia memuat dua sisi sekaligus: janji dan peringatan. Janjinya sederhana namun dahsyat, syukur akan mendatangkan tambahan nikmat. Peringatannya pun jelas. kufur nikmat atau ketidaksyukuran akan membawa penderitaan.

Banyak orang memahami syukur hanya sebagai ucapan “alhamdulillah”. Padahal dalam pandangan Islam, syukur jauh lebih dalam daripada sekadar kata-kata. Ia adalah cara memandang kehidupan.

Langkah pertama syukur adalah mengenali nikmat. Ini terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit. Sebab manusia sering kali baru memahami nilai sesuatu setelah kehilangannya.

Sejarah memberikan banyak contoh. Ada masyarakat yang baru menyadari arti keamanan setelah kekacauan melanda. Ada bangsa yang baru menghargai kebebasan setelah mengalami penindasan. Ada pula individu yang baru mensyukuri kesehatan setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit.

Kesadaran atas nikmat adalah fondasi syukur. Tanpa kesadaran itu, manusia hidup dalam keadaan kaya tetapi merasa miskin, memiliki banyak hal tetapi terus mengeluh karena melihat apa yang belum dimilikinya.

Baca Juga  Mencintai Ali Tidak Cukup: Mengapa Keadilan adalah Bukti Sejati Cinta kepada Imam Ali 

Tahap berikutnya adalah menyadari dari mana nikmat itu berasal. Dalam pandangan tauhid, segala karunia pada akhirnya bersumber dari Allah. Kesuksesan, kemampuan berpikir, keluarga, kesempatan, bahkan udara yang kita hirup setiap detik bukanlah sesuatu yang sepenuhnya kita ciptakan sendiri.

Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati. Manusia tidak lagi merasa bahwa semua keberhasilannya semata-mata hasil kecerdasannya. Ia memahami bahwa ada begitu banyak faktor yang berada di luar kendalinya.

Lalu datang tahap ketiga: rasa terima kasih yang tulus. Bukan merasa bahwa Tuhan wajib memberi, melainkan menyadari bahwa diri kita selalu berutang kepada-Nya.

Namun syukur tidak berhenti di sana.

Syukur yang sejati harus diwujudkan dalam tindakan. Nikmat bukanlah pajangan, melainkan sarana untuk bertumbuh. Ibarat anak tangga, setiap nikmat adalah pijakan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Ilmu yang dimiliki seharusnya digunakan untuk memberi manfaat. Kekayaan digunakan untuk membantu dan membangun. Kekuasaan dipakai untuk menegakkan keadilan. Waktu dimanfaatkan untuk hal-hal yang bernilai.

Seseorang yang memperoleh nikmat tetapi tidak menggunakannya untuk tujuan yang benar sesungguhnya belum sepenuhnya bersyukur.

Menariknya, syukur sendiri merupakan sebuah nikmat.

Dalam Doa Arafah, Imam Husain a.s mengungkapkan gagasan yang sangat dalam. Beliau menyatakan bahwa ketika seseorang berhasil bersyukur atas satu nikmat, kemampuan untuk bersyukur itu sendiri adalah nikmat baru yang juga perlu disyukuri. Maka setiap syukur melahirkan syukur berikutnya tanpa akhir.

Seolah-olah manusia tidak akan pernah mampu membayar seluruh utang rasa syukurnya kepada Tuhan.

Tetapi justru di situlah keindahan syukur.

Syukur membuat manusia terus mengingat Allah. Ia menjaga hati agar tidak tenggelam dalam kesombongan. Orang yang bersyukur sadar bahwa dirinya hanyalah penerima amanah, bukan pemilik mutlak segala sesuatu.

Baca Juga  Dunia Memuji Imam Ali Setelah Wafat, Tapi Menolaknya Saat Berkuasa 

Karena itu syukur juga melahirkan ketahanan jiwa.

Dalam salah satu doa disebutkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صَبْرَ الشَّاكِرِينَ لَكَ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesabaran orang-orang yang bersyukur kepada-Mu”

Kalimat ini mengandung hikmah yang dalam. Orang yang bersyukur biasanya lebih kuat menghadapi kesulitan. Ia masih mampu melihat cahaya di tengah kegelapan. Ia masih menemukan alasan untuk berharap ketika keadaan tampak sulit.

Syukur membuat seseorang fokus pada apa yang masih dimiliki, bukan semata-mata pada apa yang hilang.

Sebaliknya, lawan dari syukur adalah kufur nikmat. Bukan hanya menolak keberadaan Tuhan, tetapi juga mengabaikan, meremehkan, atau menyalahgunakan karunia yang telah diberikan.

Al-Qur’an menggambarkan sebuah negeri yang dahulu aman, tenteram, dan makmur.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ

“Allah membuat perumpamaan tentang sebuah negeri yang aman dan tenteram, rezekinya datang melimpah dari segala penjuru. Namun mereka mengingkari nikmat Allah, maka Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan” (QS. An-Nahl: 112)

Ayat ini menunjukkan bahwa keruntuhan sering kali tidak dimulai dari kekurangan sumber daya, melainkan dari hilangnya rasa syukur.

Ketika kesombongan menggantikan rasa terima kasih, ketika amanah berubah menjadi alat kepentingan pribadi, ketika nikmat dianggap hak yang pasti ada, saat itulah kemunduran mulai berjalan pelan-pelan.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak nikmat yang kita miliki. Sebab Al-Qur’an sendiri mengingatkan:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita benar-benar menyadari nikmat itu?

Baca Juga  Ketika Hati Tak Lagi Pandai Bersujud: Tiga Kunci Ketenangan yang Dilupakan Zaman 

Mungkin hari ini kita masih bisa berjalan, berpikir, bekerja, beribadah, mencintai keluarga, dan hidup dalam suasana yang relatif aman. Semua itu terlihat biasa karena hadir setiap hari. Namun sejarah dan pengalaman manusia mengajarkan satu hal: nikmat yang dianggap biasa sering kali merupakan karunia terbesar.

Karena itu, syukur bukan sekadar ucapan setelah menerima sesuatu yang besar. Syukur adalah cara memandang kehidupan. Ia adalah kemampuan melihat anugerah di balik hal-hal yang tampak biasa. Dan mungkin, di situlah rahasia mengapa nikmat bertambah: karena hanya orang yang mampu melihat karunia yang pantas menerima karunia berikutnya.

Bagikan:
Terkait
Komentar